Fantastis, Saudi Aramco Tebar Dividen Rp 1.515 Triliun, Meski Laba Anjlok 25%
JAKARTA, investortrust - Perusahaan raksasa minyak, Saudi Aramco mencatatkan penurunan laba bersih 25% di 2023 setelah produksi harga minyak yang anjlok tahun lalu. Namun, perusahaan melaporkan akan membagikan dividen senilai US$ 97,8 miliar (setara Rp 1.515 triliun) atau naik 30%.
Mengutip Reuters Senin (11/3/2024), laba bersih Aramco tercatat turun 25% atau US$ 121,3 miliar pada tahun 2023 dibandingkan di tahun 2022 sebesar US$ 161,1 miliar, yang menjadi rekor tertinggi kedua perusahaan.
CEO Aramco, Amin Nasser mengatakan total dividen untuk tahun ini sebesar US$ 97,8 miliar, naik 30%. “Pendapatan minyak mencapai 62% dari total pendapatan negara tahun lalu,” kata dia, Minggu (10/3/2024).
Nasser memperkirakan permintaan minyak global untuk tahun 2024 sebesar 104 juta barel per hari, naik dari rata-rata 102,4 juta barel pada tahun 2023.
"Neraca kami tetap kuat, bahkan setelah program pertumbuhan kami yang signifikan dan pembayaran dividen," kata Kepala Eksekutif Amin Nasser.
Seperti diketahui, Pemerintah Saudi pada akhir Januari memerintahkan Aramco untuk membatalkan rencana ekspansinya untuk meningkatkan kapasitas produksi menjadi 13 juta barel per hari (mbpd), kembali ke target 12 mbpd sebelumnya. “Langkah itu diharapkan untuk mengurangi investasi modal sekitar US$ 40 miliar antara di 2024 dan 2028," kata Aramco.
“Arus kas bebas turun menjadi US$ 101,2 miliar pada tahun 2023 dari $148,5 miliar pada tahun 2022,” tambahnya.
Sebagai informasi, saham Aramco naik sekitar 1,7% menjadi 32,3 riyal per saham, sedikit di atas harga IPO 2019 sebesar 32 riyal. Sumber mengatakan kepada Reuters bulan lalu bahwa Arab Saudi siap untuk menjual lebih banyak saham Aramco.

