Perang Iran Dongkrak Laba Saudi Aramco Melonjak 26% di Kuartal I 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Raksasa energi Arab Saudi, Saudi Aramco, membukukan lonjakan laba kuartal pertama 2026 sebesar 26% dibanding periode sama tahun lalu di tengah gejolak perang Iran dan gangguan pasokan minyak global akibat blokade Selat Hormuz. Kenaikan laba Aramco dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah.
Dalam laporan yang dipublikasikan CNBC pada Minggu (10/5/2026), Saudi Aramco melaporkan laba bersih yang disesuaikan (adjusted net income) mencapai US$33,6 miliar pada kuartal I 2026, naik dari US$26,6 miliar pada periode sama tahun sebelumnya. Angka tersebut juga melonjak 34% dibanding laba kuartal sebelumnya sebesar US$25,1 miliar dan melampaui ekspektasi analis yang memperkirakan laba sekitar US$31,2 miliar.
Kinerja kuat Aramco terutama ditopang melonjaknya harga minyak dunia dan optimalisasi East-West Pipeline, jalur pipa minyak strategis Arab Saudi yang memungkinkan ekspor minyak melewati Laut Merah tanpa harus melalui Selat Hormuz yang kini terganggu akibat konflik Iran-AS-Israel.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengatakan pipa East-West telah mencapai kapasitas maksimum sebesar 7 juta barel per hari pada kuartal pertama 2026 dan menjadi “urat nadi pasokan energi global” di tengah krisis energi dunia.
“Pipa East-West terbukti menjadi jalur suplai yang sangat penting untuk mengurangi dampak guncangan energi global dan membantu pelanggan yang terdampak hambatan pengiriman di Selat Hormuz,” ujar Amin Nasser dalam pernyataannya kepada CNBC.
Baca Juga
Terbitkan Obligasi Global, Saudi Aramco Incar Dana Rp 48,87 Triliun
Menurut Aramco, blokade Iran terhadap Selat Hormuz telah menyebabkan hilangnya hampir satu miliar barel minyak dari pasar global, dan kekurangan pasokan semakin memburuk setiap hari selama jalur laut tersebut tetap terganggu.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak dunia terus menanjak. Pada perdagangan Jumat (09/05/2026), harga minyak Brent naik sekitar 1% dan ditutup di level US$101,29 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup di level US$95,42 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Iran kembali meluncurkan rudal ke Uni Emirat Arab dan militer AS menyerang dua kapal tanker Iran yang dituding mencoba menghindari blokade laut Washington di sekitar Selat Hormuz.
CNBC mencatat harga minyak Brent telah melonjak sekitar 95% selama kuartal pertama 2026 dan naik sekitar 67% secara year to date (YtD), menjadikan perang Iran sebagai salah satu pemicu lonjakan energi terbesar sejak krisis energi global sebelumnya.
Laporan senada juga disampaikan Reuters yang menyebut gangguan distribusi minyak akibat konflik Iran telah memicu kekhawatiran besar terhadap ketahanan energi global. Reuters sebelumnya melaporkan sejumlah perusahaan pelayaran dan energi internasional mulai mengurangi aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz karena meningkatnya risiko keamanan.
Sementara itu, Bloomberg melaporkan banyak perusahaan energi global kini mempercepat diversifikasi jalur distribusi minyak untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz yang selama ini dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
CEO perusahaan jasa ladang minyak global SLB, Olivier Le Peuch, mengatakan perang Iran telah menunjukkan rapuhnya sistem energi dunia. Menurut dia, hilangnya sekitar 12% pasokan minyak global akibat gangguan di Hormuz menjadi peringatan serius bagi pasar energi internasional.
Baca Juga
Fantastis, Saudi Aramco Tebar Dividen Rp 1.515 Triliun, Meski Laba Anjlok 25%
Selain lonjakan laba, Saudi Aramco juga mengumumkan rasio gearing sebesar 4,8% pada akhir kuartal I-2026, mencerminkan kondisi neraca keuangan yang masih sangat kuat. Dewan direksi Aramco juga menyetujui pembagian dividen dasar sebesar US$21,9 miliar untuk kuartal pertama, naik 3,5% dibanding tahun sebelumnya.
Perang Iran diperkirakan akan mengubah peta energi global secara permanen. Banyak analis dan eksekutif migas dunia menilai konflik tersebut mempercepat pergeseran jalur perdagangan energi, strategi keamanan energi, serta investasi infrastruktur migas global di luar kawasan Teluk Persia.
Meski diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung melalui mediasi Pakistan dan Qatar, pasar global tetap mewaspadai risiko eskalasi lanjutan yang dapat kembali mengguncang harga energi, inflasi dunia, serta pertumbuhan ekonomi global.

