Saudi Usulkan Koalisi Lindungi Jalur Pelayaran Internasinal, Harga Minyak Turun
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia turun setelah Arab Saudi mengusulkan pembentukan koalisi angkatan laut internasional. Koalisi itu ditujukan untuk melindungi jalur pelayaran strategis yang menjadi sasaran serangan Iran dan sekutunya di Laut Merah maupun Selat Hormuz.
Baca Juga
Kapal Tanker Saudi Diserang di Laut Merah, Minyak Brent Tembus US$ 100 per Barel
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent sebagai acuan internasional turun hampir 2% dan ditutup di US$89,03 per barel pada perdagangan Kamis (30/7/2026). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun sekitar 1% menjadi US$83,59 per barel.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan lebih dari 40 negara menghadiri pertemuan yang membahas penguatan kerja sama pertahanan maritim serta penyatuan upaya menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.
Inisiatif tersebut muncul setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman pekan lalu mendeklarasikan embargo maritim terhadap Arab Saudi. Iran sendiri berulang kali dituduh menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.
Sebelumnya, harga Brent sempat melonjak hampir 8% pada Rabu setelah Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan besar ke sejumlah target di Iran sebagai balasan atas serangan rudal terhadap pasukan AS di kawasan Timur Tengah. Garda Revolusi Iran kemudian mengancam akan meningkatkan eskalasi konflik.
Di saat bersamaan, Mesir melaporkan dua kapal diserang pesawat nirawak di Pelabuhan Damietta di Laut Mediterania, lokasi yang menjadi pusat ekspor gas alam cair (LNG). Hingga kini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Serangkaian aksi militer terbaru memperpanjang konflik yang sejak akhir Februari telah mengguncang pasar minyak dan mengganggu lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz. Amerika Serikat sebelumnya sempat menghentikan operasi militer selama dua pekan untuk memberi ruang bagi upaya diplomatik, namun Presiden Donald Trump kembali memerintahkan serangan setelah Iran dituding melancarkan serangan baru terhadap pasukan AS.
Baca Juga
Houthi Serang Tanker Saudi di Laut Merah, Trump Peringatkan Iran
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi selama dua jam tersebut menghantam puluhan sasaran Garda Revolusi Iran, termasuk pusat komando militer, fasilitas rudal dan drone, sistem pertahanan pantai, hingga kemampuan maritim Iran.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung Minggu. Kelompok produsen minyak tersebut diperkirakan akan menyetujui kenaikan produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai September.
Analis ING menilai ketidakpastian terbesar hingga 2027 masih akan berkisar pada kebijakan produksi OPEC+, terutama potensi penolakan sejumlah anggota terhadap kuota produksi yang telah ditetapkan.
