Harga Minyak Turun, Trump Tekan Sekutu Lindungi Kapal Tanker di Selat Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Harga minyak dunia melemah setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menekan negara-negara sekutu untuk membantu melindungi kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, jalur energi paling strategis di dunia yang kini terganggu akibat perang antara AS dan Iran.
Dilaporkan CNBC.com pada Kamis (15/3/2026), minyak mentah global Brent untuk pengiriman Mei turun sekitar 1,34% menjadi US$101,76 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April merosot 4,11% menjadi US$94,65 per barel, setelah sebelumnya sempat menembus level US$100 per barel pada awal perdagangan. Penurunan ini terjadi ketika investor merespons ketidakpastian keamanan di fasilitas ekspor energi Timur Tengah serta upaya Washington untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Meski turun dalam perdagangan terbaru, harga minyak masih melonjak tajam sejak perang pecah antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua kontrak minyak tersebut telah naik sekitar 40% sejak konflik dimulai, dengan Brent pekan lalu ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam empat tahun, seiring terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.
Pemerintahan Trump mendorong negara-negara sekutu untuk ikut menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut. Presiden Trump mengatakan ia sedang berdiskusi dengan sejumlah negara mitra untuk membentuk upaya bersama guna mengawal kapal tanker yang melewati selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi global itu.
“Saya meminta negara-negara lain membantu melindungi jalur ini,” kata Trump dalam wawancara dengan NBC News pada akhir pekan, seperti dikutip CNBC. Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak bisa menanggung sendiri biaya keamanan jalur energi yang digunakan oleh banyak negara untuk mengimpor minyak.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington tetap mengizinkan kapal tanker minyak Iran melewati Selat Hormuz agar pasokan energi global tidak semakin terganggu. “Kapal Iran sebenarnya sudah keluar, dan kami membiarkannya terjadi agar pasokan minyak tetap mengalir ke seluruh dunia,” ujar Bessent dalam wawancara dengan CNBC.
Baca Juga
Menlu Iran: Selat Hormuz Terbuka, tetapi Tertutup bagi Musuh
Selat Hormuz merupakan jalur energi vital yang biasanya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Namun sejak Iran mulai menyerang kapal tanker sebagai respons terhadap operasi militer AS dan Israel, lalu lintas kapal di jalur tersebut turun drastis.
Ketegangan semakin meningkat setelah Trump memerintahkan serangan terhadap aset militer Iran di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran di Teluk Persia. Trump mengklaim serangan tersebut menghancurkan sebagian besar target militer di pulau itu, tetapi tidak merusak infrastruktur minyak.
Meski demikian, Trump memperingatkan bahwa fasilitas energi Iran dapat menjadi target berikutnya jika Teheran terus menyerang kapal tanker di Selat Hormuz. “Kami sengaja tidak menyerang infrastruktur minyaknya, tetapi opsi itu tetap terbuka,” kata Trump.
Pulau Kharg merupakan titik strategis bagi ekspor energi Iran. Menurut JPMorgan, sekitar 90% ekspor minyak Iran dikirim melalui pulau tersebut. Iran memproduksi sekitar 3,2 juta barel minyak per hari pada Februari, berdasarkan data OPEC.
Analis JPMorgan menilai serangan langsung terhadap terminal ekspor minyak di Pulau Kharg akan menghentikan sebagian besar ekspor minyak Iran yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari. Langkah tersebut juga berpotensi memicu pembalasan keras dari Iran, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi regional atau penutupan Selat Hormuz.
Gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut telah memicu salah satu krisis pasokan energi terbesar dalam sejarah modern. Untuk meredam lonjakan harga minyak, lebih dari 30 negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) sepakat melepaskan 400 juta barel cadangan minyak strategis, aksi pelepasan stok terbesar yang pernah dilakukan.
Amerika Serikat sendiri berencana melepaskan sekitar 172 juta barel minyak dari cadangan strategisnya sebagai bagian dari upaya menstabilkan pasar energi global. Negara-negara Asia dijadwalkan mulai melepaskan cadangan minyak segera, sementara negara-negara di Amerika dan Eropa akan menyusul pada akhir Maret.
Namun demikian, Menteri Energi AS Chris Wright memperingatkan bahwa tidak ada jaminan harga minyak akan segera turun. “Tidak ada kepastian dalam perang,” kata Wright dalam wawancara dengan ABC News, seraya menambahkan bahwa situasi energi global bisa jauh lebih buruk tanpa operasi militer terhadap Iran.

