Wall Street Tertekan Harga Minyak dan Saham Teknologi, Dow Ambles Lebih 500 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat anjlok pada penutupan perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat (24/7/2026) WIB. Lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah membebani sentimen pasar. Di saat yang sama, laporan keuangan Alphabet dan Tesla memicu aksi jual besar-besaran pada saham teknologi.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 506,93 poin atau 0,97% menjadi 51.711,65. Indeks S&P 500 terkoreksi 1,21% ke 7.408,30, sedangkan Nasdaq Composite merosot 2,15% ke 25.137,69.
Baca Juga
Wall Street Melemah Dibayangi Lonjakan Harga Minyak dan Kekhawatiran Inflasi
Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi. Saham Alphabet anjlok 7% setelah induk Google menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) 2026 menjadi US$195 miliar hingga US$205 miliar dari proyeksi sebelumnya US$180 miliar-US$190 miliar. Kenaikan investasi tersebut dilakukan untuk memenuhi permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), namun justru memicu kekhawatiran investor mengenai besarnya biaya yang harus dikeluarkan perusahaan.
Saham Tesla bahkan jatuh 14% setelah produsen kendaraan listrik tersebut melaporkan laba kuartal II yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Biaya operasional Tesla juga tumbuh lebih cepat dibandingkan pendapatannya. Baik Tesla maupun Alphabet sama-sama mencatat arus kas bebas (free cash flow) negatif pada kuartal kedua.
Saham perusahaan teknologi besar lainnya seperti Meta Platforms, Microsoft, dan Amazon juga ikut terkoreksi.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak memperburuk tekanan terhadap pasar. Harga minyak melonjak setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker Saudi di Laut Merah, memicu kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah.
Sentimen semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran setiap kali Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz. Beberapa jam kemudian, Axios melaporkan Trump sedang mempertimbangkan serangan militer besar terhadap Iran dan menyatakan keputusan akhir sudah sangat dekat.
Harga minyak Brent melonjak sekitar 7% dan ditutup di US$100,69 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 6% menjadi US$92,19 per barel. Keduanya merupakan level tertinggi sejak sebelum tercapainya kesepakatan penghentian perang antara Amerika Serikat dan Iran bulan lalu.
Baca Juga
Kapal Tanker Saudi Diserang di Laut Merah, Minyak Brent Tembus US$ 100 per Barel
Kenaikan harga minyak turut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun sempat menembus 4,7%, tertinggi sejak Januari 2025, sementara yield obligasi dua tahun naik hingga 4,37%.
Ahli strategi investasi Baird, Ross Mayfield, mengatakan kenaikan yield obligasi jangka pendek menjadi indikator penting bagi arah kebijakan Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September kini mencapai lebih dari 80%, meningkat tajam dibandingkan sekitar 52% sepekan sebelumnya.
“Sangat sulit untuk mengabaikan (konflik AS-Iran), bukan hanya karena harga minyak tetapi juga karena tekanan di seluruh kurva imbal hasil,” katanya kepada CNBC.
Menurut Mayfield, fundamental ekonomi masih cukup kuat untuk menopang pasar dalam jangka menengah. Namun dalam dua hingga tiga bulan ke depan, perhatian investor diperkirakan akan kembali sepenuhnya tertuju pada perkembangan konflik Iran dan dampaknya terhadap pasar energi.
