Konflik AS-Iran dan Houthi Picu Kekhawatiran Pasokan, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi 5 Pekan
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia mencapai level penutupan tertinggi dalam lima pekan, dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta ancaman blokade laut oleh kelompok Houthi di Yaman.
Baca Juga
Trump Geram dan Ancam Iran Atas Tewasnya 3 Tentara AS, Harga Minyak Kembali Melonjak
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent pada perdagangan Selasa (21/7/2026) melonjak 2% menjadi US$91,01 per barel, level penutupan tertinggi sejak 10 Juni. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2% ke US$84,91 per barel, tertinggi sejak 11 Juni.
Secara teknikal, Brent juga bertahan di wilayah overbought selama tujuh hari berturut-turut, pertama kalinya sejak Juni 2025.
Kenaikan harga terjadi setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi pada Senin. Langkah tersebut memperluas cakupan konflik di Timur Tengah dan meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan serta pasokan energi dunia.
Data pelayaran LSEG menunjukkan dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi menuju China dan India memutuskan berbalik arah di Laut Merah setelah muncul ancaman dari Houthi. Meski demikian, sumber industri menyebut pelabuhan ekspor minyak Yanbu di pesisir Laut Merah tetap beroperasi normal.
Selain itu, situasi keamanan di kawasan semakin memburuk setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran bagian selatan dan barat. Sebagai balasan, Teheran menyerang fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania, sementara sedikitnya satu kapal tanker dilaporkan terkena serangan di Selat Hormuz.
SEB Research menilai serangan terbaru Amerika Serikat bisa saja menjadi upaya terakhir untuk memperkuat posisi tawar sebelum negosiasi baru dimulai.
Namun, lembaga tersebut mengingatkan risiko yang lebih besar adalah kebuntuan berkepanjangan yang dapat menyebabkan arus energi tetap terganggu, harga minyak semakin tinggi, dan serangan terus berulang.
Analis KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan ancaman blokade terhadap Arab Saudi menjadi perhatian serius karena negara tersebut merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia.
Di sisi lain, data Joint Organizations Data Initiative (JODI) menunjukkan ekspor minyak mentah Arab Saudi pada Mei turun untuk bulan ketiga berturut-turut dan mencapai level terendah dalam sejarah pencatatan.
Baca Juga
Ketidakpastian pasokan juga datang dari kawasan Laut Hitam. Caspian Pipeline Consortium (CPC) menghentikan penerimaan minyak dari Kazakhstan setelah sebelumnya menangguhkan proses pemuatan akibat serangan terhadap kapal tanker di terminalnya di Laut Hitam. Rusia menuduh Ukraina berada di balik serangan tersebut, sementara Kyiv belum memberikan tanggapan.
Pelaku pasar kini menantikan laporan persediaan minyak mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Administration (EIA). Analis memperkirakan stok minyak mentah Amerika Serikat berkurang sekitar 500.000 barel pada pekan yang berakhir 17 Juli. Jika terealisasi, akan menjadi penurunan selama dua pekan berturut-turut.
