Harga Emas Turun Seusai Konflik Iran-AS Picu Kekhawatiran Suku Bunga Tinggi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas turun pada Senin (2/6/2026) setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi tersebut mengurangi daya tarik logam mulia di tengah penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi.
Harga emas spot turun 0,4% menjadi US$ 4.517,37 per ons. Sebelumnya, logam mulia tersebut sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Sementara itu, kontrak berjangka emas AS turun 1,9% dan ditutup pada level US$ 4.506,30 per ons.
Baca Juga
Tekanan emas semakin besar setelah dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Penguatan mata uang AS membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
"Ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama kemungkinan akan terus menekan harga emas, kecuali jika imbal hasil obligasi berhenti naik dan suku bunga mulai stabil atau cenderung menurun," kata Analis pasar American Gold Exchange Jim Wyckoff diansir CNBC.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah Iran menyatakan telah menyerang pangkalan udara Amerika Serikat (AS) sebagai respons atas serangan militer AS terhadap sejumlah target di Iran pada akhir pekan lalu.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan tim negosiasi Iran juga menghentikan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat yang sebelumnya dilakukan melalui mediator. Langkah tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Pada saat yang sama, harga minyak melanjutkan kenaikan karena pasar khawatir gangguan pasokan energi dapat terjadi apabila konflik terus berlanjut. Lonjakan harga minyak berpotensi mempercepat inflasi global sehingga mendorong bank sentral mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.
Menurut alat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar memperkirakan terdapat peluang sekitar 56% bahwa Federal Reserve (The Fed) masih akan melakukan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.
Fokus Pasar Beralih ke Data Tenaga Kerja AS
Meski selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, daya tarik emas cenderung berkurang ketika suku bunga berada pada level tinggi. Berbeda dengan obligasi atau instrumen berbunga lainnya, emas tidak memberikan imbal hasil sehingga menjadi kurang menarik bagi investor dalam lingkungan suku bunga yang tinggi.
Perhatian pelaku pasar kini beralih pada serangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis sepanjang pekan ini. Investor juga menunggu pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter berikutnya.
Analis Saxo Bank Ole Hansen mengatakan fokus investor kemungkinan akan kembali pada faktor-faktor fundamental yang selama ini mendukung tren kenaikan harga emas apabila situasi geopolitik mulai mereda.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Bertahan di Rp 2,799 Juta, Geopolitik Jadi Sorotan
"Setelah situasi geopolitik stabil dan guncangan energi mulai mereda, kami memperkirakan investor akan kembali fokus pada tema-tema struktural yang telah mendukung pasar bullish emas dalam beberapa tahun terakhir," kata Hansen.
Ia menambahkan bahwa bank sentral di berbagai negara diperkirakan tetap menjadi pembeli bersih emas selama setahun ke depan. Faktor tersebut dinilai masih dapat memberikan dukungan jangka panjang terhadap pasar emas meskipun saat ini tekanan dari suku bunga tinggi masih mendominasi pergerakan harga.

