Sidang ASEAN Foreign Ministers’ Meeting ke-59 di Manila, Indonesia Dorong Penyelesaian Code of Conduct Laut Cina Selatan
Poin Penting
|
MANILA, Investortrust.id – Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan bahwa kredibilitas ASEAN akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menerjemahkan berbagai komitmen menjadi hasil nyata bagi masyarakat dan menjaga stabilitas kawasan. Penegasan tersebut disampaikan Menlu Sugiono saat menghadiri sesi pleno Pertemuan ke-59 Menteri Luar Negeri ASEAN (ASEAN Foreign Ministers’ Meeting/AMM) yang berlangsung di Manila, Filipina.
Dalam forum diplomatik tersebut, Menlu Sugiono melontarkan pandangan krusial mengenai tantangan besar yang kini dihadapi oleh organisasi kawasan tersebut. “ASEAN telah membuktikan bahwa organisasi ini mampu berkembang. Sekarang pertanyaan yang lebih menantang: apakah ASEAN mampu memenuhi janji-janjinya?” ujar Menlu Sugiono.
Menurut Menlu Sugiono, ujian pertama yang paling mendasar terletak pada kemampuan ASEAN dalam menjaga perdamaian serta memastikan kawasan tetap berlandaskan pada aturan hukum. Oleh karena itu, Indonesia mendorong penuh penyelesaian Code of Conduct di Laut Cina Selatan pada tahun ini secara efektif, substantif, dan berlandaskan hukum internasional, khususnya UNCLOS 1982.
“Masyarakat kita telah menunggu selama 24 tahun untuk hadirnya aturan di laut. Mereka tidak seharusnya menunggu satu tahun lagi. Kawasan yang diatur berdasarkan hukum akan selalu lebih kuat daripada kawasan yang diatur berdasarkan kekuatan,” ujarnya dikutip Selasa (21/7/2026).
Selain aspek hukum laut dan keamanan, kredibilitas ASEAN juga harus tercermin secara konkret dalam bentuk perlindungan terhadap masyarakatnya. Sebagai langkah nyata, Indonesia telah mengusulkan pembentukan ASEAN Heads of Consular Affairs Division Forum guna memperkuat koordinasi perlindungan warga negara ASEAN yang berada di luar negeri, khususnya saat menghadapi situasi konflik dan keadaan darurat.
Baca Juga
Pertemuan Menlu ASEAN di Manila Fokus Bahas Eskalasi Perang AS-Iran dan Krisis Regional
Di tengah dinamika meningkatnya rivalitas global serta tekanan terhadap sistem multilateralisme, Menlu Sugiono turut mendorong agar bentuk kemitraan ASEAN dengan pihak eksternal semakin diarahkan pada kebutuhan konkret kawasan. Fokus utama kerja sama tersebut mencakup respons krisis, ketahanan pangan dan energi, hingga pembentukan ketangguhan rantai pasok.
Pada kesempatan pertemuan ini, para Menteri Luar Negeri ASEAN juga telah secara resmi menerima Turkiye sebagai Mitra Wicara ASEAN. Langkah penetapan mitra baru ini diharapkan mampu menghasilkan kerja sama konkret yang dapat berkontribusi langsung terhadap pembangunan Komunitas ASEAN ke depan.
Menjelang peringatan 60 tahun berdiri ASEAN pada tahun 2027, Indonesia mendorong adanya penguatan mandat beserta sumber daya ASEAN agar senantiasa sejalan dengan ambisi Visi Komunitas ASEAN 2045. “Dokumennya sudah lengkap. Pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan seberapa jauh ASEAN telah melangkah, tetapi apakah masyarakat kita benar-benar dapat merasakan manfaatnya,” tutup Menlu Sugiono.
Rangkaian acara AMM/PMC ke-59 beserta pertemuan terkait diselenggarakan di Manila pada 20 hingga 24 Juli 2026. Pertemuan ini mempertemukan para Menteri Luar Negeri ASEAN dan mitra eksternal untuk mengulas pembangunan Komunitas ASEAN, hubungan eksternal, hingga isu-isu strategis kawasan dan global. Pada tahun ini, Filipina resmi memegang Keketuaan ASEAN dengan mengusung tema “Navigating Our Future, Together”.
Pertemuan bergengsi ini turut mengesahkan beberapa dokumen penting, antara lain Joint Communiqué sebagai dokumen konsensus yang mencerminkan posisi dan pandangan bersama Negara Anggota ASEAN terhadap perkembangan kerja sama serta isu strategis kawasan dan internasional. Selain itu, disahkan pula Pernyataan Menlu ASEAN mengenai Situasi Terkini di Timur Tengah, Panduan Modalitas Hubungan dengan Negara Pihak Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC), Panduan Aksesi TAC, serta Daftar Kriteria dan Indikator Kemitraan Wicara ASEAN.
