Presiden Hungaria Tamas Sulyok Resmi Teken Surat Pemecatan atas Dirinya Sendiri
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Presiden Hungaria Tamas Sulyok resmi menandatangani amandemen konstitusi yang akan memberhentikan dirinya dari jabatan kepala negara. Keputusan ini diambil setelah Sulyok menghadapi tekanan publik selama berbulan-bulan dari Perdana Menteri Peter Magyar.
Magyar secara konsisten menyerukan pengunduran diri presiden sebagai bagian dari upayanya untuk membongkar apa yang ia sebut sebagai struktur mafia buatan pendahulunya, Viktor Orban.
Pilihan hukum bagi presiden yang ditunjuk oleh Orban ini kian menyempit tajam setelah amandemen konstitusi yang dirancang untuk mencopotnya dari jabatan berhasil disahkan. Melalui pernyataan di media sosial, Sulyok menyampaikan sikapnya mengenai situasi tersebut.
“Saya memenuhi kewajiban saya berdasarkan Undang-Undang Dasar setelah menimbang opsi hukum dan hati nurani saya secara mendalam,” kata Sulyok dikutip Politico, Sabtu (19/7/2026) waktu setempat.
Namun, ia juga menambahkan bahwa peristiwa ini menjadi bukti abadi bahwa nilai-nilai fundamental dari masyarakat bebas seperti supremasi hukum, demokrasi, dan prinsip pemisahan kekuasaan telah diinjak-injak demi kekuasaan politik.
Baca Juga
Indonesia Siap Tingkatkan Kerja Sama Perdagangan dengan Hungaria Lewat Teknologi
Sulyok sebenarnya memiliki waktu lima hari untuk menandatangani amandemen tersebut, dan banyak warga Hungaria termasuk Magyar memperkirakan ia akan menolak.
Pilihan alternatif bagi Sulyok saat itu adalah merujuk amandemen tersebut ke Mahkamah Konstitusi Hungaria.
Meskipun Sulyok berargumen bahwa amandemen tersebut tidak konstitusional karena menargetkan dirinya, mahkamah tidak dapat benar-benar memutus konstitusionalitas materi tersebut. Hal ini terjadi karena Orban telah mencabut wewenang tersebut melalui amandemen tahun 2013, sehingga mahkamah hanya memiliki kuasa untuk meninjau pelanggaran prosedur.
Di sisi lain, amandemen baru ini juga memberlakukan kembali batas usia pensiun wajib 70 tahun bagi seluruh hakim Mahkamah Konstitusi. Perubahan aturan ini akan memaksa empat hakim yang sedang menjabat untuk keluar, termasuk presiden mahkamah yang kontroversial, Peter Polt.
Menanggapi situasi politik di negaranya, mantan Perdana Menteri Viktor Orban yang telah meninggalkan Hungaria untuk menyaksikan final Piala Dunia di Amerika Serikat turut memberikan komentar melalui media sosial. “Jika hal ini dapat dilakukan kepada presiden republik, maka besok tidak ada seorang pun yang akan aman. Tuhan lindungi Hungaria!” ujar Orban.
Dalam pernyataan lanjutannya, Sulyok memperingatkan bahwa supremasi hukum telah berakhir di Hungaria dan presiden tidak akan lagi berfungsi sebagai checks and balances.
Baca Juga
Proyek MLFF Belum Jalan, RITS Asal Hungaria Klaim Sistem Sudah Siap Sejak 2023
Sebaliknya, Magyar mempertahankan argumennya bahwa Sulyok sendiri telah mengawasi beberapa pelanggaran supremasi hukum terburuk di bawah rezim Orban, sehingga pencopotannya sangat diperlukan untuk memulihkan keadilan. Magyar menyatakan bahwa dengan tanda tangan Tamas Sulyok, hambatan terakhir bagi berlakunya keputusan bersama telah disingkirkan.
Ia menegaskan bahwa pihaknya sedang memulihkan sesuatu yang telah dicoba diambil oleh rezim Orban selama bertahun-tahun dari rakyat Hungaria, yaitu kepastian bahwa kekuasaan dapat dibatasi.
Kampanye berbulan-bulan untuk mencopot Sulyok ini dinilai sebagai ujian politik besar bagi Magyar yang sedang bergegas memperkuat janji kampanye utamanya untuk membuka lembaran baru setelah era Orban.
Walaupun Sulyok bukan anggota partai Fidesz milik Orban dan relatif tidak dikenal, ia telah menjadi simbol dari pengaruh partai tersebut yang tertanam kuat di dalam pemerintahan Hungaria.
Co-chair komite hak asasi manusia Hungarian Helsinki Committee, Marta Pardavi, turut menyatakan pandangannya bahwa apa yang dibutuhkan Hungaria saat ini adalah orang-orang dengan integritas kuat dan komitmen demokratis untuk memimpin negara kembali ke demokrasi dan supremasi hukum, dan Presiden Sulyok tidak memenuhi kriteria tersebut.
Sulyok diperkirakan akan meninggalkan jabatannya pada hari Senin (20/7/2026), dengan Ketua Parlemen Hungaria Agnes Forsthoffer yang akan menggantikannya. Menjelang pergantian tersebut, anggota parlemen dari partai Tisza telah mengajukan resolusi untuk mengganti Forsthoffer dari kursi ketua parlemen sebelum sidang paripurna luar biasa dimulai pada hari Senin.
