Dorong Reformasi di The Fed, Kevin Warsh Bertekad Akhiri Inflasi Tinggi yang Bebani Warga AS
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id - Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menegaskan komitmennya melakukan "perubahan rezim" dalam kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Hal itu dilakukan untuk mengakhiri inflasi yang selama beberapa tahun terakhir membebani masyarakat dan dunia usaha.
Baca Juga
Inflasi dan Perang Iran Bikin Pejabat The Fed Terpecah soal Suku Bunga
Dalam kesaksian di hadapan Kongres AS, Selasa (14/7/2026), Warsh menyebut inflasi sebagai "pajak" yang tidak adil bagi rakyat Amerika.
"Inflasi telah menjadi pajak bagi masyarakat dan pelaku usaha Amerika. Kami bertekad menghapus pajak tersebut. Itu berarti kami membutuhkan perubahan rezim dalam kebijakan moneter serta peninjauan ulang terhadap berbagai praktik, sebagian berhasil dan sebagian lainnya tidak," kata Warsh, seperti dikutip CNBC.
Pernyataan tersebut menandai sikap paling tegas Warsh sejak menjabat sebagai Ketua The Fed sekitar dua bulan lalu. Sesuai ketentuan, Ketua The Fed menyampaikan laporan kebijakan moneter kepada Kongres sebanyak dua kali setiap tahun.
Warsh mengatakan dalam enam minggu pertama kepemimpinannya, The Fed telah memulai perubahan mendasar dalam cara berpikir dan penyusunan kebijakan.
Menurut dia, bank sentral telah membentuk lima gugus tugas untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap komunikasi kebijakan, penggunaan teknologi, pengelolaan neraca, pemanfaatan data ekonomi, serta kerangka analisis inflasi.
Kelima tim tersebut diharapkan menjadi fondasi reformasi besar dalam operasional bank sentral.
"Hari ini kita berada di titik penting dalam sejarah. Tugas utama The Fed adalah memastikan kebijakan moneter berada di jalur yang benar. Jika kebijakan itu tepat, lonjakan inflasi selama lima tahun terakhir akan menjadi bagian dari masa lalu," ujarnya.
Warsh juga kembali mengkritik kerangka Flexible Average Inflation Targeting (FAIT) yang diterapkan The Fed pada 2020. Kebijakan tersebut memperbolehkan inflasi berada di atas target 2% setelah periode inflasi rendah untuk mendukung pasar tenaga kerja.
Menurut Warsh, kebijakan tersebut justru menjadi kesalahan karena menghasilkan inflasi yang jauh lebih tinggi dari yang diharapkan. "Bank sentral itu meminta sedikit inflasi tambahan, tetapi akhirnya memperoleh inflasi yang jauh lebih besar. Kerangka tersebut gagal mencapai tujuannya," katanya.
Warsh menegaskan bahwa inflasi yang bertahan tinggi sejak 2021 telah membebani rumah tangga dan pelaku usaha, terutama akibat kenaikan harga energi.
Ia menambahkan, meski fluktuasi harga bulanan tidak dapat dihindari, inflasi dalam jangka panjang pada dasarnya ditentukan oleh kebijakan moneter.
"Komite kami tidak memiliki toleransi terhadap inflasi yang terus berada pada tingkat tinggi. Kami berkomitmen penuh memulihkan stabilitas harga," ujarnya.
Baca Juga
The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan, Sebut Ekonomi AS Solid
Di luar isu inflasi, Warsh menilai perekonomian Amerika masih tumbuh dengan solid dan menunjukkan ketahanan terhadap berbagai tantangan global.
Ia menyebut investasi dunia usaha sebagai perkembangan paling menonjol saat ini, terutama pembangunan pusat data serta lonjakan permintaan perangkat keras dan perangkat lunak untuk kecerdasan buatan (AI).
Menurut Warsh, investasi AI berpotensi meningkatkan produktivitas ekonomi secara signifikan sehingga dalam jangka panjang dapat menjadi faktor yang menekan inflasi. "Suatu saat nanti, apa yang sekarang disebut investasi AI akan cukup disebut sebagai investasi biasa," katanya.
