Kevin Warsh Gantikan Jerome Powell di Tengah Tekanan Inflasi dan Desakan Trump
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Senat Amerika Serikat resmi mengesahkan Kevin Warsh sebagai Ketua baru Federal Reserve pada Rabu (13/5/2026) waktu setempat, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pekan ini.
Baca Juga
Trump Tunjuk Kevin Warsh Gantikan Powell, Ini Reaksi ‘Greenback’
Warsh, 56 tahun, memenangkan voting Senat dengan hasil 54 suara berbanding 45 dalam salah satu proses konfirmasi paling divisif dalam sejarah kepemimpinan The Fed modern.
Mayoritas suara diberikan berdasarkan garis partai politik, dengan hanya Senator Demokrat Pennsylvania John Fetterman yang mendukung Warsh dari kubu oposisi.
Pengangkatan Warsh menandai berakhirnya pencarian panjang pengganti Powell yang telah berlangsung sejak pertengahan 2025.
Meski tak lagi menjadi ketua, Powell akan tetap berada di Dewan Gubernur The Fed karena masih memiliki sisa masa jabatan dua tahun sebagai gubernur bank sentral. Powell sebelumnya menyatakan akan tetap bertugas setidaknya hingga investigasi renovasi kantor pusat The Fed selesai.
Presiden AS Donald Trump sejak lama secara terbuka mengkritik Powell karena dianggap mempertahankan kebijakan moneter terlalu ketat.
Trump juga tidak menutupi harapannya agar Warsh segera memangkas suku bunga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, meski data inflasi terbaru justru menunjukkan tekanan harga kembali meningkat.
Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menyebut pengesahan Warsh sebagai langkah penting untuk memulihkan akuntabilitas dan kepercayaan terhadap kebijakan The Fed.
Namun tantangan besar langsung menanti Warsh. Data inflasi AS pekan ini menunjukkan tekanan harga masih jauh di atas target 2% milik The Fed.
Pasar bahkan mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini dan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan.
Ketua Komite Jasa Keuangan DPR AS, French Hill, memuji Warsh sebagai sosok yang fokus menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
“Ketua Warsh telah berulang kali menekankan pentingnya menempatkan keterjangkauan dan stabilitas harga sebagai pusat agenda ekonomi kita. Komitmennya terhadap kebijakan moneter yang disiplin akan membantu memulihkan kepercayaan pada ekonomi kita dan mendukung kemakmuran jangka Panjang,” beber Hill dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip CNBC.
Baca Juga
Trump Nominasikan Sosok Pro Kripto Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed
Ini menjadi periode kedua Warsh di The Fed. Sebelumnya ia pernah menjabat gubernur bank sentral AS pada 2006–2011, termasuk saat krisis keuangan global 2008.
Kala itu, The Fed menjalankan program pelonggaran kuantitatif besar-besaran atau quantitative easing untuk menyelamatkan ekonomi. Warsh termasuk pejabat yang menilai ekspansi neraca bank sentral kala itu sudah terlalu agresif.
Sejak meninggalkan The Fed, Warsh dikenal sebagai pengkritik kebijakan moneter longgar dan bahkan pernah menyerukan “perubahan rezim” di tubuh bank sentral AS.
Selain mengajar di Stanford School of Business, Warsh juga aktif di berbagai dewan direksi perusahaan besar.
Warsh menggantikan Stephen Miran di jajaran pimpinan The Fed. Miran sebelumnya beberapa kali berbeda pandangan dengan mayoritas pejabat Federal Open Market Committee (FOMC), termasuk mendorong pemangkasan suku bunga lebih agresif.
Rapat pertama Warsh sebagai ketua FOMC dijadwalkan berlangsung pada 16–17 Juni mendatang.
Selain itu, Warsh juga tercatat sebagai ketua The Fed terkaya sepanjang sejarah modern, dengan total aset lebih dari US$100 juta. Sesuai aturan etika baru The Fed, ia diwajibkan melepas sebagian besar investasi pribadinya setelah resmi menjabat.

