Trump Blokade Kapal Iran di Selat Hormuz, Harga Minyak Melambung Lebih dari 9%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 9% setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal Iran. Blokade itu dilakukan di tengah meningkatnya konflik kedua negara dalam memperebutkan kendali atas Selat Hormuz.
Baca Juga
AS Kembali Blokade Kapal Iran dan Memungut Tarif 20% di Selat Hormuz
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, melonjak 9,6% menjadi US$83,30 per barel pada perdagangan Senin (13/7/2026). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 9,4% menjadi US$78,14 per barel.
Melalui unggahan di media sosialnya, Trump menegaskan blokade tersebut hanya ditujukan kepada kapal-kapal Iran beserta para pelanggannya. "Kami memberlakukan kembali Blokade Iran. Semua negara lain tetap memiliki akses yang adil dan terbuka untuk menggunakan Selat Hormuz," tulis Trump.
Trump juga menyatakan Amerika Serikat akan terus menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz, namun meminta kompensasi sebesar 20% dari nilai seluruh kargo yang dikirim melalui jalur tersebut sebagai pengganti biaya perlindungan.
Keputusan itu diumumkan setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan selama akhir pekan.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan militer Amerika pada Minggu kembali melancarkan gelombang serangan udara terhadap Iran setelah sehari sebelumnya menghantam sekitar 140 target. Operasi tersebut merupakan balasan atas serangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap sebuah kapal kontainer yang melintasi Selat Hormuz.
Sebagai balasan, media pemerintah Iran melaporkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman.
Iran juga mengeklaim telah menutup Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Namun, klaim tersebut dibantah oleh militer AS.
CENTCOM menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka bagi seluruh kapal yang melakukan pelayaran secara sah. "Pasukan AS telah ditempatkan dan siap memastikan kebebasan navigasi tetap terjaga meskipun ada agresi, intimidasi, ancaman, maupun klaim sepihak dari Iran. Iran tidak menguasai Selat Hormuz. Lalu lintas pelayaran tetap berjalan," demikian pernyataan CENTCOM.
Dalam wawancara dengan program "Meet the Press" NBC News yang ditayangkan Minggu, Trump juga menegaskan Selat Hormuz masih terbuka.
Perusahaan intelijen maritim Windward mencatat sembilan kapal melintasi selat tersebut pada Sabtu, sementara Joint Maritime Information Center (JMIC), koalisi maritim pimpinan AS yang berbasis di Bahrain, menyatakan jalur selatan melalui perairan Oman masih dapat digunakan untuk pelayaran masuk maupun keluar kawasan Teluk.
Meski demikian, JMIC memperingatkan kondisi keamanan di Selat Hormuz masih berada pada tingkat yang sangat serius dan meminta seluruh pelaut meningkatkan kewaspadaan secara ekstrem.
Serangan udara akhir pekan lalu merupakan kali keempat AS membombardir Iran dalam sepekan sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di koridor selatan Selat Hormuz.
Baca Juga
Eskalasi Baru Konflik AS-Iran, Perebutan Kendali Selat Hormuz Kian Memanas
Sementara itu, Iran terus menuntut kapal-kapal internasional menggunakan jalur utara yang berada di wilayah perairannya, sebagai bagian dari klaim penguasaan atas selat tersebut.
Konflik terbaru dipicu oleh perbedaan tafsir antara Washington dan Teheran mengenai mekanisme pembukaan kembali Selat Hormuz berdasarkan perjanjian damai sementara yang ditandatangani pada 17 Juni.
Sebelum perang pecah pada akhir Februari, sekitar 20% pasokan minyak dunia diangkut melalui Selat Hormuz. Volume pelayaran sempat anjlok setelah Iran mulai menyerang kapal-kapal dagang pada awal Maret, namun kembali meningkat setelah kedua negara menyepakati perjanjian damai sementara.
