Harga Minyak Melonjak di Tengah Meningkatnya Eskalasi Konflik AS-Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia melonjak setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer. Konflik teluk kini berpusat pada penguasaan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global.
Baca Juga
Trump Ancam Bombardir Iran, Harga Minyak Brent Melonjak Dekati US$ 80
Dikutip dari CNBC, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 3,4% menjadi US$73,87 per barel pada perdagangan Minggu (12/7/2026) malam. Minyak Brent sebagai acuan global melaju 3,5% menjadi US$78,67 per barel.
Kenaikan harga terjadi setelah militer AS melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran menyusul operasi sehari sebelumnya yang menghantam sekitar 140 sasaran militer.
Washington menyatakan operasi tersebut merupakan respons atas serangan Garda Revolusi Iran terhadap kapal kontainer yang melintasi Selat Hormuz.
Baca Juga
AS Bombardir Kota Pelabuhan Iran, Ketegangan di Selat Hormuz Kembali Memuncak
Sebagai balasan, Iran menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman, menurut kantor berita Tasnim.
Di tengah meningkatnya konflik, muncul perbedaan klaim mengenai status Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran menyatakan jalur tersebut ditutup hingga waktu yang belum ditentukan. Namun CENTCOM menegaskan seluruh kapal masih dapat melintas secara sah melalui jalur pelayaran internasional.
"Pasukan AS siap memastikan kebebasan navigasi tetap terjaga. Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz dan lalu lintas kapal tetap berjalan," tulis CENTCOM melalui media sosial.
Presiden Donald Trump juga menegaskan dalam wawancara dengan NBC News bahwa Selat Hormuz masih terbuka untuk pelayaran komersial.
Perusahaan intelijen maritim Windward mencatat sedikitnya sembilan kapal berhasil melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, menunjukkan aktivitas pelayaran masih berlangsung meski dalam kondisi berisiko tinggi.
Joint Maritime Information Center (JMIC), koalisi angkatan laut pimpinan Amerika Serikat yang berbasis di Bahrain, menyatakan koridor selatan melalui perairan Oman tetap terbuka untuk kapal masuk maupun keluar kawasan Teluk.
Baca Juga
Eskalasi Baru Konflik AS-Iran, Perebutan Kendali Selat Hormuz Kian Memanas
Namun lembaga tersebut memperingatkan tingkat ancaman keamanan masih sangat tinggi sehingga seluruh kapal diminta menerapkan kewaspadaan maksimum selama melintasi kawasan tersebut.
Konflik terbaru berawal dari perbedaan penafsiran atas kesepakatan damai sementara yang ditandatangani Amerika Serikat dan Iran pada 17 Juni.
Iran menginginkan seluruh kapal menggunakan jalur utara yang berada di wilayah perairannya, sedangkan Amerika Serikat tetap mengawal kapal melalui koridor selatan yang selama ini digunakan pelayaran internasional.
Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap hari.
Volume pelayaran sempat anjlok ketika Iran mulai menyerang kapal-kapal niaga pada awal Maret. Namun setelah tercapainya kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran pada pertengahan Juni, lalu lintas kapal tanker mulai meningkat kembali.
Meski demikian, bentrokan terbaru menimbulkan kekhawatiran baru terhadap kelancaran distribusi energi global. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik karena setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi pasokan minyak dunia, meningkatkan biaya pengiriman, premi asuransi kapal, dan memicu volatilitas harga energi dalam beberapa pekan ke depan.
