Efisiensi di Era AI, Microsoft Kembali Pangkas 4.800 Karyawan
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Microsoft kembali melakukan restrukturisasi besar-besaran dengan memangkas 4.800 karyawan, atau sekitar 2,1% dari total tenaga kerjanya. Ini merupakan bagian dari upaya menekan biaya di tengah transformasi industri teknologi yang semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Baca Juga
Gelombang PHK Big Tech: Meta dan Microsoft Pangkas 20.000 Karyawan
Pengumuman tersebut disampaikan perusahaan pada Senin (5/7/2026). Langkah ini menjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terbaru setelah Microsoft sepanjang tahun lalu juga memangkas sekitar 9.000 pekerja melalui beberapa putaran restrukturisasi.
Chief People Officer Microsoft, Amy Coleman, mengatakan perubahan teknologi saat ini berlangsung lebih cepat dibandingkan periode mana pun selama hampir tiga dekade dirinya bekerja di perusahaan.
"Cara teknologi dibangun, diterapkan, dan digunakan berubah lebih cepat dibandingkan kapan pun selama saya bekerja di Microsoft," tulis Coleman dalam pesan kepada karyawan.
Xbox Jadi Sasaran Terbesar
Divisi gim Xbox menjadi unit yang paling terdampak. CEO Xbox Asha Sharma mengatakan sekitar 3.200 karyawan akan meninggalkan perusahaan, setara dengan hampir 20% tenaga kerja divisi tersebut.
Sebanyak 1.600 pegawai diberhentikan pada Senin, sementara 1.600 lainnya akan keluar secara bertahap hingga tahun fiskal 2027.
Menurut Sharma, restrukturisasi dilakukan secara bertahap karena tidak memungkinkan seluruh perubahan dilakukan dalam satu waktu.
"Kami menyadari bahwa restrukturisasi selama satu tahun akan menghadirkan tantangan tambahan. Namun seluruh perubahan ini tidak mungkin dilakukan hanya dalam satu hari," tulis Sharma, seperti dilansir CNBC.
Sharma optimistis Xbox akan kembali memasuki fase pertumbuhan pada 2027.
Baca Juga
CEO Microsoft Sebut Keberhasilan AI Ditentukan oleh Difusi dan Dampak Nyata bagi Masyarakat
Sebagai bagian dari reorganisasi, Microsoft juga memisahkan empat studio pengembang gim dari struktur perusahaan.
Compulsion Games dan Double Fine Productions, yang diakuisisi Microsoft pada dekade 2010-an, akan kembali menjadi perusahaan independen. Sedangkan, Ninja Theory dan Undead Labs sedang dalam proses bergabung dengan pemilik baru.
Studio asal Prancis Arkane Studios, yang masuk ke Microsoft melalui akuisisi ZeniMax Media senilai US$8,1 miliar pada 2021, juga tengah mengevaluasi berbagai opsi strategis bersama dewan pekerja.
Double Fine menyampaikan apresiasi kepada Microsoft melalui media sosial X.
"Kami berterima kasih kepada seluruh tim Xbox atas tujuh tahun perjalanan bersama dan karena telah membantu menemukan solusi yang menjaga sejarah serta budaya kami, sekaligus mengembalikan kepemilikan gim kepada kami."
Restrukturisasi dilakukan ketika Microsoft menghadapi tekanan di pasar modal. Hingga penutupan perdagangan Jumat lalu, saham perusahaan telah turun sekitar 19% sepanjang 2026, menjadikannya salah satu saham dengan kinerja terburuk di kelompok perusahaan teknologi berkapitalisasi besar (megacap).
Investor mulai khawatir model AI generatif dapat mengurangi kebutuhan terhadap perangkat lunak perusahaan yang selama ini menjadi kekuatan utama Microsoft. Di sisi lain, layanan AI milik Microsoft sendiri dinilai belum menghasilkan pertumbuhan yang cukup besar.
Walaupun bisnis komputasi awan (cloud) dan LinkedIn masih mencatat pertumbuhan yang kuat, sejumlah lini usaha lain seperti lisensi Windows, perangkat Surface, serta Xbox mengalami perlambatan.
Analis DA Davidson, Gil Luria, bahkan menilai Xbox bukan lagi bisnis yang strategis bagi Microsoft.
"Ini bukan bisnis yang perlu atau seharusnya dimiliki Microsoft. Sangat mungkin suatu saat nanti mereka akan memisahkan Xbox sepenuhnya."
AI Mengubah Cara Kerja
Meski restrukturisasi dilakukan di tengah derasnya adopsi AI, Microsoft menegaskan teknologi tersebut bukan penyebab langsung pengurangan tenaga kerja.
Coleman mengatakan AI memang mulai mengotomatisasi sejumlah pekerjaan rutin sehingga seluruh karyawan dituntut terus meningkatkan keterampilan agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan bisnis yang terus berubah.
"Yang benar adalah AI sedang mengubah cara pekerjaan dilakukan. Sebagian tugas kini dapat diotomatisasi, sehingga kita semua harus terus belajar, membangun keterampilan baru, dan beradaptasi," katanya.
