Gelombang PHK Big Tech: Meta dan Microsoft Pangkas 20.000 Karyawan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di sektor teknologi kembali mengguncang pasar tenaga kerja global. Lebih dari 20.000 potensi PHK yang diumumkan oleh Meta dan Microsoft pekan ini memicu kekhawatiran bahwa krisis tenaga kerja akibat kecerdasan buatan (AI) bukan lagi ancaman masa depan, melainkan sudah terjadi saat ini.
Langkah tersebut menyusul aksi serupa oleh Amazon yang sebelumnya melakukan PHK terbesar dalam sejarah perusahaan. Ironisnya, perusahaan-perusahaan ini juga menjadi motor utama investasi AI global, dengan belanja kolektif mencapai ratusan miliar dolar per tahun untuk membangun infrastruktur AI.
Baca Juga
Di saat yang sama, AI juga digunakan untuk meningkatkan efisiensi operasional—yang berarti pengurangan tenaga kerja. Data dari Layoffs.fyi mencatat lebih dari 92.000 pekerja teknologi telah kehilangan pekerjaan sepanjang 2026, dengan total mendekati 900.000 sejak 2020.
Anthony Tuggle, pakar kepemimpinan dan mantan praktisi AI, menyebut fenomena ini sebagai “pergeseran struktural fundamental” dalam dunia kerja. “Kita sedang menyaksikan transformasi permanen dalam cara pekerjaan diorganisasi dan dijalankan,” ujarnya, dikutip dari CNBC, Sabtu (25/4/2026).
Kecemasan tenaga kerja meningkat sejak peluncuran ChatGPT oleh OpenAI pada 2022, yang menunjukkan kemampuan luas AI generatif. Kekhawatiran makin meningkat setelah teknologi seperti Claude dari Anthropic mampu menggantikan fungsi divisi bisnis secara keseluruhan.
Namun, sebagian kalangan tetap optimistis. Mereka berargumen bahwa AI akan menciptakan jenis pekerjaan baru, seperti halnya munculnya pengembang aplikasi setelah era smartphone. Meski demikian, studi 2026 dari Motion Recruitment menunjukkan kesenjangan antara penciptaan dan kehilangan pekerjaan semakin melebar, terutama karena AI mengurangi kebutuhan untuk posisi entry-level.
Langkah konkret PHK terlihat jelas. Meta akan memangkas 10% tenaga kerja (sekitar 8.000 orang) dan membatalkan 6.000 posisi baru. Microsoft menawarkan buyout sukarela bagi sekitar 7% karyawan AS. Nike juga memangkas sekitar 1.400 pekerja, terutama di divisi teknologi
Gelombang ini meluas ke perusahaan lain seperti Snap, Salesforce, dan Oracle, yang semuanya melakukan efisiensi tenaga kerja sambil meningkatkan investasi AI.
Di sisi lain, raksasa teknologi seperti Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon diperkirakan akan menggelontorkan hampir $700 miliar tahun ini untuk pengembangan AI—menunjukkan kontras tajam antara ekspansi teknologi dan kontraksi tenaga kerja.
Fenomena ini juga mengubah lanskap startup. Perusahaan rintisan kini mampu menghasilkan pendapatan puluhan juta dolar hanya dengan puluhan karyawan—sesuatu yang sebelumnya membutuhkan ratusan pekerja.
Baca Juga
Gelombang PHK Baru Microsoft: 9.000 Pekerjaan Global Dipangkas
Unicorn dengan 50 Karyawan
Di dunia startup, ledakan AI menciptakan pola yang sangat jelas: perusahaan tumbuh jauh lebih cepat dengan jumlah karyawan yang jauh lebih sedikit. Para investor modal ventura mengatakan perusahaan yang tidak beroperasi dengan etos tersebut mengalami kesulitan yang jauh lebih besar dalam mengumpulkan dana.
Zach Bratun-Glennon, seorang mitra di perusahaan modal ventura Gradient, mengatakan dimungkinkan untuk membuat aplikasi manajemen hubungan pelanggan yang berfungsi dalam sehari.
“Kami melihat perusahaan yang dapat mencapai pendapatan $50 juta dengan sekitar 50 karyawan, padahal dulu, untuk bisnis perangkat lunak, itu adalah perusahaan dengan 250 karyawan,” katanya. “Apakah saya pikir akan ada unicorn dan decacorn dengan 50 atau 100 karyawan? Tentu saja. Bisakah Anda membangun perusahaan publik dengan 200 karyawan? Tentu saja.”
Peter Morales, CEO dan pendiri Code Metal, menggambarkan pasar dengan cara yang serupa. “Saat ini, polanya adalah tim kecil yang meningkatkan pendapatan lebih cepat dari sebelumnya,” katanya.
Di perusahaan-perusahaan terbesar di Silicon Valley, di mana jumlah karyawan dapat dengan mudah mencapai lebih dari 100.000, para pengembang sangat menyadari tren ini. Mereka memiliki akses ke alat-alat pemrograman yang sama dengan perusahaan rintisan di sekitarnya dan melihat produk-produk baru memasuki pasar dengan kecepatan yang mencengangkan.
Laju perubahan dan disrupsi yang dramatis ini menciptakan tingkat ketidakamanan pekerjaan. Menurut Daniel Zhao, ekonom utama Glassdoor, situasi ini menciptakan paradoks: booming teknologi justru diiringi kecemasan tinggi di kalangan pekerja. “Banyak pekerja merasa terjebak di tengah perubahan besar ini,” ujarnya.
Baca Juga
Wall Street Cetak Rekor Baru Didorong Harapan Damai AS-Iran, Saham Intel Melejit Hampir 24%

