Yield Obligasi AS Melonjak, Pasar Cermati Arah Kebijakan The Fed
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat menguat pada perdagangan terakhir Juni. Investor mencermati data pasar tenaga kerja yang menunjukkan kondisi ekonomi masih cukup Tangguh, dan arah kebijakan Bank Sentral AS.
Baca Juga
Sinyal The Fed Guncang Pasar, Ini 5 Pesan Penting dari Rapat Perdana Era Kevin Warsh
Dikutip dari CNBC, yield Treasury tenor 10 tahun melonjak lebih dari 6 basis poin menjadi 4,441%. Obligasi tenor 10 tahun menjadi acuan utama bagi suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), pinjaman kendaraan, hingga kartu kredit.
Sementara itu, yield Treasury tenor dua tahun, yang sangat sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), meningkat lebih dari 4 basis poin menjadi 4,152%. Yield obligasi tenor 30 tahun juga naik lebih dari 6 basis poin menjadi 4,929%.
Penguatan yield terjadi setelah Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan jumlah lowongan pekerjaan (Job Openings and Labor Turnover Survey/JOLTS) pada Mei mencapai 7,6 juta, lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 7,3 juta.
Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat, dengan jumlah posisi pekerjaan yang tersedia kembali melampaui jumlah pencari kerja. Kondisi ini mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan segera memangkas suku bunga secara agresif.
Sepanjang Senin sebelumnya, pergerakan yield relatif datar karena pelaku pasar masih mengevaluasi perkembangan proses perdamaian di Timur Tengah dan dampaknya terhadap prospek inflasi global.
Di sisi lain, harga minyak kembali melemah sehingga membantu meredakan tekanan inflasi.
Baca Juga
Meski Kesepakatan Damai AS-Iran Masih Rapuh, Harga Minyak Turun
Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun 1,77% menjadi US$69,50 per barel, sedangkan minyak acuan global Brent melemah 0,31% menjadi US$72,92 per barel.
Dengan harga energi yang kembali mendekati level sebelum pecahnya konflik Iran, perhatian investor kini beralih ke rangkaian data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini.
Laporan ISM Manufacturing PMI dijadwalkan terbit pada Rabu, disusul data nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran Amerika Serikat untuk Juni pada Kamis.
Data tersebut diperkirakan menjadi faktor utama yang menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve sekaligus pergerakan pasar obligasi dan saham dalam beberapa pekan ke depan.
