Meski Kesepakatan Damai AS-Iran Masih Rapuh, Harga Minyak Turun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Harga minyak dunia bersiap menutup Juni 2026 dengan penurunan bulanan terdalam dalam beberapa tahun terakhir. Meski sempat menguat tipis pada perdagangan Selasa (30/06/2026), pelaku pasar energi masih dibayangi ketidakpastian mengenai kelanjutan perundingan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran di Doha, Qatar. Pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik, namun tetap mewaspadai rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang baru dicapai kedua negara.
Berdasarkan laporan CNBC yang diterbitkan 30 Juni 2026, harga minyak bergerak mendatar karena investor mencermati kemungkinan dimulainya kembali pembicaraan antara Washington dan Teheran di Doha. Presiden AS Donald Trump menyatakan perundingan akan berlangsung pada Selasa di ibu kota Qatar dan mengklaim Iran telah meminta pertemuan setelah kedua negara kembali saling melancarkan serangan pada akhir pekan lalu. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya agenda perundingan resmi dengan AS dalam waktu dekat. (FXStreet)
Kontradiksi pernyataan kedua negara menunjukkan bahwa proses perdamaian masih sangat rapuh. Meski demikian, utusan khusus AS, Jared Kushner dan Steve Witkoff, telah tiba di Doha untuk bertemu para mediator. Pemerintah Qatar menegaskan kedua utusan tersebut tidak dijadwalkan melakukan pertemuan langsung dengan delegasi Iran. (FXStreet)
Harga minyak Brent untuk kontrak Agustus diperdagangkan di kisaran US$73,1 per barel, sementara kontrak September berada di sekitar US$73,8 per barel. Di sisi lain, minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Agustus diperdagangkan di sekitar US$70,3 per barel. Secara bulanan, Brent diperkirakan turun sekitar 20% dibandingkan penutupan akhir Mei, sedangkan WTI merosot sekitar 19%, menjadikan Juni sebagai salah satu bulan dengan penurunan harga minyak terdalam sejak pandemi Covid-19. Bahkan secara kuartalan, penurunan harga minyak diperkirakan menjadi yang terbesar sejak 2020. (Reuters)
Penurunan tajam tersebut mencerminkan perubahan persepsi pasar. Jika pada awal konflik investor khawatir pasokan minyak dunia akan terganggu akibat memanasnya konflik di Timur Tengah, kini pelaku pasar mulai meyakini bahwa jalur pasokan energi global tetap dapat dipertahankan dan peluang tercapainya penyelesaian diplomatik semakin besar.
Fokus utama pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati selat sempit tersebut. Pada 17 Juni 2026, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman berisi 14 butir kesepakatan untuk menghentikan sementara konflik bersenjata yang sebelumnya sempat mengganggu arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Namun, bentrokan baru pada akhir pekan lalu menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut masih rentan terhadap pelanggaran. (FXStreet)
Baca Juga
Pasar Masih Was-was, Harga Minyak Naik Usai AS-Iran Sepakati Jeda Serangan
Analis energi dari ING menilai pasar minyak saat ini terlalu cepat menganggap gencatan senjata sebagai perdamaian permanen. Dalam riset yang dirilis Senin (29/6), ING menyebut harga minyak mencerminkan asumsi bahwa konflik telah berakhir, padahal negosiasi mengenai program nuklir Iran diperkirakan masih akan berlangsung panjang. Menurut ING, mencapai kesepakatan damai permanen dalam waktu 60 hari merupakan target yang sangat optimistis, sehingga risiko memburuknya kembali situasi keamanan tetap harus diperhitungkan. (FXStreet)
Selain meredanya premi risiko geopolitik, harga minyak juga mendapat tekanan dari sisi fundamental. Kelompok OPEC+ masih melanjutkan kebijakan peningkatan kuota produksi secara bertahap sehingga menambah pasokan ke pasar global. Di sisi lain, pertumbuhan permintaan minyak dunia juga mulai melambat, terutama dari China, sehingga sejumlah analis menurunkan proyeksi harga minyak untuk 2026. (Reuters)
Survei Reuters terhadap para ekonom yang dipublikasikan Selasa (30/6) menunjukkan proyeksi rata-rata harga minyak Brent tahun 2026 diturunkan menjadi sekitar US$84,5 per barel dari sebelumnya US$90,4, sedangkan proyeksi WTI dipangkas menjadi sekitar US$79,5 per barel. Revisi tersebut menjadi penurunan pertama sejak konflik Iran pecah, seiring pulihnya arus pelayaran di Selat Hormuz dan berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global. (Reuters)
Bagi Indonesia, pelemahan harga minyak memiliki dua sisi. Di satu sisi, penurunan harga crude berpotensi mengurangi tekanan impor energi, membantu menjaga inflasi, serta memperbaiki neraca perdagangan migas. Di sisi lain, volatilitas geopolitik yang masih tinggi membuat harga minyak tetap rentan berfluktuasi tajam apabila negosiasi AS-Iran kembali menemui jalan buntu atau terjadi gangguan baru terhadap lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.
Untuk saat ini, pasar tampaknya memilih percaya bahwa diplomasi masih memiliki peluang lebih besar dibandingkan konfrontasi militer. Namun, seperti diingatkan para analis, ketenangan pasar minyak saat ini lebih mencerminkan harapan daripada kepastian. Selama kesepakatan damai belum benar-benar permanen, satu insiden kecil di Selat Hormuz saja dapat kembali mengangkat harga minyak dan mengguncang pasar keuangan global. (PD)
