Pasar Masih Was-was, Harga Minyak Naik Usai AS-Iran Sepakati Jeda Serangan
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia naik setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk menghentikan sementara aksi saling serang yang memicu ketidakpastian di pasar energi global.
Baca Juga
AS-Iran Sepakati Jeda Perang, Kapal Kembali Melintas di Hormuz
Dikutip dari CNBC, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melonjak 1,9% menjadi US$70,56 per barel pada Senin (29/6/2026). Harga minyak kembali berada di atas level psikologis US$70 setelah sempat ditutup di bawah angka tersebut pada Jumat lalu untuk pertama kalinya sejak 27 Februari. Minyak acuan global Brent naik 1,3% menjadi US$72,91 per barel.
Kenaikan harga terjadi setelah Washington dan Teheran menyepakati penghentian sementara aksi militer sehingga kapal-kapal dagang dapat kembali melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan.
Seorang pejabat AS mengatakan pembicaraan teknis mengenai nota kesepahaman akan terus dilanjutkan, sementara kedua pihak memilih menahan diri dari tindakan militer untuk sementara waktu.
Ketegangan Belum Berakhir
Sebelum tercapai kesepakatan tersebut, konflik kembali memanas ketika militer AS menyerang sejumlah target Iran sebagai respons atas serangan terhadap sebuah kapal tanker komersial di Selat Hormuz.
Iran juga dilaporkan meluncurkan rudal dan drone yang memicu peringatan keamanan di Kuwait dan Bahrain.
Presiden Donald Trump kemudian mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran melalui Truth Social.
Baca Juga
AS dan Iran Kembali Saling Serang, Kapal Tanker di Hormuz Jadi Sasaran
Ia menyatakan pesawat tempur Amerika telah menghancurkan lokasi penyimpanan rudal, drone, serta radar pantai Iran setelah negara tersebut kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Trump juga mengancam akan melanjutkan operasi militer secara penuh apabila Iran kembali meningkatkan konflik.
Keamanan Masih Rapuh
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut jet tempur AS menyerang sedikitnya 10 target militer Iran di sekitar Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan drone terhadap kapal tanker berbendera Panama, M/T Kiku.
Menurut CENTCOM, kapal tersebut sedang membawa lebih dari dua juta barel minyak mentah saat melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Insiden itu kembali menyoroti rapuhnya keamanan di Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Meski harga minyak menguat, analis dari ING menilai pelaku pasar justru terlalu optimistis terhadap prospek pemulihan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.
Dalam riset terbarunya, Warren Patterson dan Ewa Manthey menyebutkan, perkembangan sepanjang akhir pekan menunjukkan bahwa risiko terhadap pasokan minyak global masih sangat tinggi.
Baca Juga
Kapal Berbendera Singapura Diserang di Selat Hormuz, AS Tuduh Iran Langgar Kesepakatan
Pasar lebih memilih berfokus pada kemungkinan pulihnya arus ekspor minyak dibanding mempertimbangkan potensi perlambatan pemulihan maupun kemungkinan munculnya kembali eskalasi konflik.
ING menilai sikap tersebut berisiko membuat harga minyak melonjak tajam apabila proses normalisasi pasokan berlangsung lebih lambat dari perkiraan atau ketegangan geopolitik kembali meningkat dalam waktu dekat.
