AS-Iran Sepakati Jeda Perang, Kapal Kembali Melintas di Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menyepakati penghentian sementara aksi militer (pause hostilities) serta melanjutkan perundingan teknis untuk menyelesaikan sengketa di Selat Hormuz. Kesepakatan itu memungkinkan kapal-kapal dagang dan tanker minyak kembali melintasi jalur pelayaran paling strategis di dunia tersebut setelah akhir pekan diwarnai saling serang yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Berdasarkan laporan CNBC yang diterbitkan Minggu (28/06/2026) waktu Amerika Serikat dan berbagai laporan media internasional lainnya pada 29 Juni 2026, kedua negara sepakat menahan diri dari aksi militer dan melanjutkan pembahasan teknis atas nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang sebelumnya ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebagai peta jalan menuju perjanjian damai permanen.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada CNBC bahwa pembicaraan teknis akan dilanjutkan dan untuk sementara kedua pihak sepakat menghentikan serangan sehingga kapal-kapal komersial dapat kembali berlayar secara normal melalui Selat Hormuz.
Kesepakatan itu tercapai setelah ketegangan meningkat tajam pada akhir pekan. Militer AS melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer Iran di sekitar Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan drone dan rudal Iran terhadap kapal-kapal niaga yang melintasi jalur tersebut. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan jet tempurnya menghantam sedikitnya sepuluh sasaran militer Iran, termasuk lokasi penyimpanan rudal, drone, serta instalasi radar pantai.
Baca Juga
Iran-AS Saling Serang, Perundingan Damai Ditangguhkan Sementara
Menurut CENTCOM, serangan dilakukan setelah kapal tanker berbendera Panama M/T Kiku, yang mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah, terkena serangan drone ketika melintasi Selat Hormuz. Sebelumnya, kapal kargo berbendera Singapura Ever Lovely juga dilaporkan menjadi sasaran serangan Iran di dekat perairan Oman.
Presiden Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran melalui media sosial Truth Social. Trump menyatakan Iran kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dan memperingatkan bahwa apabila serangan terhadap pelayaran internasional terus berlanjut, AS siap mengambil tindakan militer yang lebih besar. Dalam beberapa bulan terakhir Trump berulang kali mengancam akan “mengakhiri” kemampuan militer Iran apabila konflik terus meningkat.
Di sisi lain, Iran menegaskan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain merupakan balasan atas serangan udara Washington terhadap instalasi pertahanannya. Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menghadapi serangan rudal dan drone, sementara Bahrain mengecam serangan Iran sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negaranya.
Kecaman juga datang dari negara-negara Teluk. Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Bahrain menilai serangan Iran tidak hanya mengancam keamanan kawasan, tetapi juga melanggar kebebasan navigasi internasional di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Meski demikian, otoritas militer AS memastikan lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz tetap berlangsung. Aktivitas pelayaran yang sempat terganggu mulai kembali normal setelah kedua negara menyatakan menghentikan aksi militer untuk sementara.
Sementara itu, Axios dan Al Jazeera melaporkan AS dan Iran dijadwalkan menggelar perundingan lanjutan di Doha, Qatar, pada Selasa (30/06/2026) guna mencari penyelesaian permanen atas sengketa Selat Hormuz. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa keamanan dan pengelolaan Selat Hormuz merupakan hak kedaulatan Iran. Ia memperingatkan bahwa setiap upaya mengabaikan posisi Iran dalam pengelolaan jalur pelayaran tersebut hanya akan memicu ketegangan baru.
Di pasar energi, ketegangan terbaru kembali mengangkat harga minyak dunia setelah sebelumnya sempat melemah. Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1,3% ke kisaran US$70 per barel, sedangkan Brent menguat mendekati US$73 per barel. Pelaku pasar menilai risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah masih tinggi, meskipun lalu lintas kapal kembali dibuka.
Bagi pasar keuangan global, perkembangan terbaru ini memberikan sinyal yang beragam. Di satu sisi, kesepakatan penghentian sementara permusuhan mengurangi risiko penutupan Selat Hormuz yang selama ini menjadi kekhawatiran utama investor. Namun di sisi lain, kerasnya pernyataan Washington maupun Teheran menunjukkan bahwa perdamaian masih sangat rapuh. Selama belum tercapai kesepakatan politik yang permanen, kawasan Teluk tetap menjadi salah satu sumber utama risiko geopolitik dunia yang dapat memengaruhi harga energi, inflasi global, serta arus modal internasional.
