China Tak Ingin Gulingkan Dolar AS, Tapi Bangun Tatanan Keuangan Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Ambisi China dalam persaingan mata uang global selama ini kerap dipahami secara keliru. Fokusnya bukan menggantikan dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang utama dunia dalam waktu dekat, melainkan membangun infrastruktur keuangan internasional yang secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan berbasis dolar. Strategi tersebut dinilai berpotensi mengubah keseimbangan geopolitik global dalam jangka panjang.
Pandangan tersebut disampaikan Dewardric L. McNeal, Senior Managing Director sekaligus Head of Longview Global di perusahaan konsultan investasi Longview Global, dalam artikel opini yang dipublikasikan CNBC, Minggu (28/06/2026).
Menurut McNeal, dunia selama ini terlalu terpaku pada pertanyaan apakah renminbi (RMB) suatu hari akan menggantikan dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana Beijing secara sistematis membangun fondasi kelembagaan, pasar, dan infrastruktur keuangan yang memungkinkan negara-negara lain mengurangi ketergantungan terhadap dominasi dolar dan sistem keuangan Amerika. “Ini bukan semata-mata cerita tentang mata uang, melainkan tentang geopolitik,” tulis McNeal.
Ia menjelaskan bahwa selama hampir delapan dekade, dominasi dolar telah memberikan keuntungan strategis luar biasa bagi Amerika Serikat. Posisi dolar sebagai mata uang utama transaksi internasional memungkinkan Washington menjatuhkan sanksi ekonomi, membatasi akses terhadap sistem pembayaran dolar, memengaruhi arus modal global, menetapkan standar kepatuhan internasional, hingga menggunakan sistem keuangan sebagai instrumen kebijakan luar negeri dan keamanan nasional.
Baca Juga
Mau Kalahkan Dolar, China Siapkan Penggunaan 'Stablecoin' Berbasis Yuan
China memahami sepenuhnya besarnya kekuatan tersebut. Karena itu, selama hampir dua dekade terakhir Beijing secara konsisten membangun berbagai alternatif terhadap sistem keuangan yang berpusat pada dolar tanpa harus secara langsung menggantikannya.
Sinyal terbaru terlihat dalam Lujiazui Forum 2026 di Shanghai yang digelar awal Juni lalu. Forum yang sering dijuluki sebagai “Davos-nya China” itu menjadi panggung bagi pemerintah China untuk mengumumkan serangkaian kebijakan baru guna mempercepat internasionalisasi renminbi.
Beijing mengumumkan langkah-langkah untuk memperluas pembiayaan renminbi di luar negeri (offshore RMB), memperkuat posisi Shanghai sebagai pusat keuangan internasional, menyediakan fasilitas likuiditas baru bagi bank sentral dan sovereign wealth fund asing, memperluas perdagangan lintas negara menggunakan renminbi, serta membuka lebih luas sektor jasa keuangan China bagi investor internasional.
Menurut McNeal, berbagai kebijakan tersebut bukanlah langkah yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari strategi jangka panjang yang telah dimulai sejak krisis keuangan global 2008. Sejak saat itu China secara bertahap membangun pusat kliring renminbi di luar negeri, memperluas perjanjian swap mata uang dengan berbagai bank sentral, mengembangkan sistem pembayaran internasional alternatif terhadap jaringan Barat, membuka sebagian pasar modal domestik kepada investor asing, serta memperluas penggunaan renminbi dalam perdagangan internasional.
Meski berbagai upaya tersebut belum mampu menggoyahkan dominasi dolar, McNeal menilai Beijing tidak pernah mengejar perubahan secara instan. Sebaliknya, China dikenal menjalankan strategi pembangunan yang bertahap, konsisten, dan berjangka panjang.
Hal itu semakin terlihat dengan dimulainya implementasi Rencana Pembangunan Lima Tahun (Five-Year Plan) ke-15, yang mulai berlaku tahun ini. Dalam dokumen strategis tersebut, sektor keuangan untuk pertama kalinya ditempatkan sebagai salah satu prioritas nasional. Pemerintah China secara eksplisit menargetkan pembangunan negara sebagai financial powerhouse, memperkuat Shanghai dan Hong Kong sebagai pusat keuangan internasional, memperbesar pasar renminbi offshore, menyempurnakan infrastruktur pembayaran lintas negara, serta mempercepat internasionalisasi mata uang renminbi.
McNeal menegaskan bahwa Rencana Lima Tahun di China bukan sekadar dokumen politik atau daftar harapan pemerintah. Dokumen tersebut menjadi pedoman resmi yang menentukan arah alokasi sumber daya nasional, prioritas regulator, kebijakan perusahaan milik negara (BUMN), penyaluran kredit perbankan, hingga kebijakan pemerintah daerah. Karena itu, setiap sasaran yang tercantum di dalamnya hampir pasti akan didukung oleh seluruh instrumen kebijakan negara.
Baca Juga
China Tahan Suku Bunga, Fokus Stabilisasi Yuan di Tengah Perang Dagang
Dengan kata lain, yang perlu diperhatikan investor global bukanlah kapan renminbi menggantikan dolar, melainkan bagaimana China secara perlahan membangun sebuah ekosistem keuangan alternatif yang semakin menarik bagi banyak negara. Semakin banyak transaksi perdagangan internasional yang menggunakan renminbi, semakin luas jaringan pembayaran lintas negara di luar sistem dolar, serta semakin besar peran lembaga keuangan China di pasar global, maka pengaruh strategis Amerika Serikat terhadap sistem keuangan internasional secara bertahap dapat berkurang.
Meski demikian, sebagian besar ekonom masih menilai posisi dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia belum tergantikan dalam waktu dekat. Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF) melalui Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves (COFER), sekitar 57% cadangan devisa global hingga awal 2026 masih disimpan dalam dolar AS, jauh di atas euro yang berada di kisaran 20%, sedangkan porsi renminbi masih sekitar 2% hingga 3%. Di sisi lain, data SWIFT menunjukkan dolar tetap mendominasi pembayaran internasional, sementara penggunaan renminbi terus meningkat meski masih berada jauh di bawah mata uang utama dunia.
Bagi McNeal, fakta tersebut justru mempertegas bahwa strategi Beijing bukanlah memenangkan perang mata uang dalam waktu singkat. Yang sedang dibangun adalah fondasi sebuah sistem keuangan global yang lebih multipolar, di mana negara-negara memiliki alternatif selain bergantung pada dolar Amerika Serikat. Apakah strategi tersebut pada akhirnya berhasil masih menjadi tanda tanya, namun satu hal yang pasti, menurutnya, adalah bahwa China akan terus mengejar tujuan tersebut secara konsisten, agresif, dan dalam jangka panjang.
