Tekanan Inflasi AS Meningkat, Core PCE Sentuh 3,4%
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id - Tekanan inflasi di Amerika Serikat kembali meningkat pada Mei, memperkuat sinyal bahwa Federal Reserve (The Fed) kemungkinan masih akan mempertahankan kebijakan moneter ketat. Bahkan, terbuka peluang kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Baca Juga
Data Kementerian Perdagangan AS yang dirilis Kamis (25/6/2026) menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE), indikator inflasi yang paling diperhatikan The Fed, terus bergerak naik.
Di luar komponen makanan dan energi yang bergejolak, inflasi inti (core PCE) tercatat meningkat 0,3% dibandingkan bulan sebelumnya dan mencapai 3,4% secara tahunan. Angka tersebut sesuai ekspektasi pasar, namun menjadi level tertinggi sejak Oktober 2023.
Sementara itu, inflasi PCE keseluruhan meningkat 0,4% secara bulanan dan mencapai 4,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, tertinggi sejak April 2023. Kenaikan tahunan sesuai dengan proyeksi ekonom, sedangkan kenaikan bulanan sedikit lebih rendah dari perkiraan.
Bagi The Fed, inflasi inti menjadi indikator utama untuk mengukur tren harga jangka panjang karena tidak dipengaruhi fluktuasi harga pangan dan energi. Namun lonjakan harga energi akibat konflik di Iran kini mulai merembet ke berbagai sektor ekonomi sehingga mempersulit upaya pengendalian inflasi.
Ekonom Kepala Navy Federal Credit Union, Heather Long, mengatakan inflasi saat ini menjadi beban berat bagi rumah tangga kelas menengah.
"Inflasi berada di level tertinggi dalam tiga tahun akibat perang di Iran dan kondisi ini sangat menyakitkan bagi masyarakat berpendapatan menengah. Mereka membayar lebih mahal untuk bensin, layanan kesehatan, dan utilitas," beber Long, seperti dikutip CNBC.
Meski inflasi meningkat, aktivitas konsumsi masyarakat tetap menunjukkan ketahanan.
Belanja konsumen, yang menjadi motor utama perekonomian AS, meningkat 0,7% sepanjang Mei atau lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,6%. Pendapatan pribadi juga naik 0,7%, jauh melampaui estimasi 0,4%, sementara tingkat tabungan masyarakat meningkat menjadi 3%.
Data tersebut menunjukkan daya beli konsumen masih cukup kuat meskipun tekanan harga belum mereda.
Laporan inflasi ini muncul lebih dari sepekan setelah Ketua The Fed Kevin Warsh bersama Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengeluarkan pernyataan bernada tegas mengenai inflasi.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga Acuan di Kisaran 3,5% - 3,75%, Buka Peluang Kenaikan Tahun Ini
Dalam pernyataannya, The Fed menegaskan komitmennya untuk mengembalikan stabilitas harga setelah selama lima tahun gagal membawa inflasi kembali ke target 2%. Pejabat bank sentral juga menghapus proyeksi penurunan suku bunga tahun ini dan mulai memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi terus berlanjut.
Meski demikian, para pembuat kebijakan masih menghadapi tantangan karena lonjakan inflasi kali ini dipicu gangguan pasokan energi akibat konflik geopolitik, sementara tarif perdagangan juga mulai menambah tekanan harga di berbagai sektor.
Di sisi lain, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan fundamental ekonomi AS masih cukup kuat.
Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I direvisi naik menjadi 2,1% secara tahunan dari estimasi sebelumnya 1,6%. Revisi tersebut terutama dipengaruhi penurunan angka impor yang secara statistik meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 215.000 pada pekan yang berakhir 20 Juni, lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya sebanyak 227.000 dan lebih baik dari perkiraan pasar sebesar 223.000.
Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan ekonomi yang tetap solid semakin memperkuat ekspektasi bahwa ruang bagi The Fed untuk segera melonggarkan kebijakan moneter semakin terbatas.
