Yield Obligasi AS Turun Jelang Rilis Data Inflasi
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat bergerak turun, meskipun pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap potensi kenaikan suku bunga yang telah mengguncang sektor teknologi global.
Baca Juga
Pasar Obligasi AS Terguncang, Yield Treasury 2-Tahun Tembus 4,2%
Dikutip dari CNBC, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, yang menjadi acuan utama biaya pinjaman pemerintah federal, turun lebih dari satu basis poin menjadi 4,495% pada Selasa (23/6/2026).
Sementara itu, yield obligasi tenor dua tahun yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve turun lebih dari tiga basis poin menjadi 4,198%. Yield obligasi tenor 30 tahun juga melemah dua basis poin ke level 4,943%.
Pergerakan tersebut terjadi setelah yield tenor dua tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak Februari 2025 pada perdagangan Senin sebelum akhirnya mengalami koreksi.
Pasar keuangan global tengah menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Kekhawatiran bahwa bank sentral AS dapat mengambil sikap lebih agresif terhadap inflasi telah memicu aksi jual pada saham-saham teknologi di berbagai negara.
Di tengah gejolak tersebut, investor justru kembali melirik aset-aset yang dianggap lebih aman seperti obligasi pemerintah.
Di Inggris, imbal hasil obligasi juga turun tipis meskipun Perdana Menteri Keir Starmer mengumumkan rencana pengunduran dirinya, membuka peluang pergantian pemimpin untuk ketujuh kalinya dalam satu dekade.
Baca Juga
Pasar obligasi tampaknya tidak terlalu terkejut dengan kemungkinan munculnya penerus Starmer, yakni Andy Burnham, yang selama ini disebut sebagai kandidat terkuat untuk memimpin pemerintahan berikutnya.
Fokus utama investor kini tertuju pada data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) bulan Mei yang akan dirilis Kamis.
PCE merupakan indikator inflasi pilihan Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneternya. Para ekonom memperkirakan inflasi inti atau core PCE—yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang berfluktuasi tinggi—akan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Data tersebut diperkirakan menjadi penentu penting bagi ekspektasi pasar mengenai langkah Federal Reserve selanjutnya. Jika inflasi kembali memanas, peluang suku bunga bertahan tinggi lebih lama dapat meningkat, yang berpotensi kembali menekan sektor teknologi dan aset berisiko lainnya.
Sebaliknya, jika tekanan harga menunjukkan tanda-tanda mereda, pasar dapat memperoleh keyakinan bahwa siklus pengetatan moneter mendekati akhir, memberikan ruang bagi pemulihan pasar saham global.
