‘Sell Off’ Saham Chip dan AI Tekan Wall Street, Indeks Nasdaq Merosot Lebih dari 2%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS memerah pada perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (24/6/2026) WIB. Indeks saham teknologi Wall Street mengalami tekanan besar seiring meluasnya aksi jual global terhadap saham-saham teknologi dan semikonduktor.
Indeks Nasdaq Composite merosot 2,21% dan ditutup di level 25.587,04. S&P 500 anjlok 1,44% ke posisi 7.365,46. Dow Jones Industrial Average relatif lebih stabil dengan penurunan 45,87 poin atau 0,09% menjadi 51.666,84.
Baca Juga
Gelombang aksi jual dipicu oleh koreksi tajam pada saham-saham produsen chip memori yang sebelumnya menjadi motor utama reli sektor kecerdasan buatan (AI).
Micron Technology, salah satu produsen chip memori terbesar di dunia, anjlok 13%. Penurunan serupa juga dialami Sandisk yang merosot 13%.
Sementara itu, Seagate Technology turun lebih dari 5%, Intel melemah 6%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) dan Qualcomm masing-masing kehilangan hampir 6% dan 8%.
Tekanan di sektor semikonduktor tercermin dari anjloknya ETF teknologi. Technology Select Sector SPDR Fund (XLK) turun 4%, sedangkan VanEck Semiconductor ETF (SMH) merosot hingga 7%.
Aksi jual ini melanjutkan pelemahan Nasdaq sehari sebelumnya yang turun 1,3%, terutama akibat tekanan pada saham Alphabet, induk perusahaan Google.
Sentimen negatif kemudian menyebar ke Asia. Bursa Korea Selatan menjadi salah satu yang paling terpukul setelah saham SK Hynix, pemimpin pasar chip memori dan salah satu penerima manfaat terbesar dari boom AI, jatuh lebih dari 12%.
Indeks Kospi yang sebelumnya melonjak sekitar 95% sepanjang tahun ini terkoreksi hampir 10%, sementara indeks Nikkei 225 Jepang turun 3,55%, mengakhiri reli delapan hari berturut-turut.
Meski demikian, tidak semua saham teknologi mengalami tekanan. Microsoft dan Amazon mampu mencatat penguatan, demikian pula sejumlah saham defensif seperti Walmart, Procter & Gamble, dan Johnson & Johnson.
Saham International Business Machines (IBM) bahkan melonjak 5% setelah JPMorgan menaikkan rekomendasinya menjadi overweight. Sherwin-Williams dan Merck juga ditutup menguat.
Di tengah gejolak pasar, analis menilai koreksi saat ini lebih mencerminkan aksi ambil untung setelah reli panjang sektor AI daripada perubahan fundamental.
Manajer Portofolio Senior Morgan Stanley Investment Management, Andrew Slimmon, mengatakan saham-saham yang diuntungkan oleh tren AI memang menjadi pusat perhatian investor dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga
Ditopang Saham Teknologi, 3 Indeks Utama Wall Street Ukir Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
"Penerima manfaat AI menjadi sasaran aksi jual. Sebenarnya menurut saya, valuasinya tidak mahal, tetapi posisi investor sudah terlalu padat. Ketika sebuah tema menjadi favorit trader momentum, koreksi tajam seperti ini bisa terjadi. Saya justru melihatnya sebagai perkembangan yang sehat," beber Slimmon, dalam acara “Squawk Box” CNBC.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa sebagian pelaku pasar masih memandang prospek jangka panjang sektor AI tetap kuat, meskipun volatilitas jangka pendek diperkirakan masih akan berlanjut.
