Saham Semikonduktor di Wall Street Kembali Tertekan, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Merosot
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (10/6/2026). Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite melemah setelah reli saham semikonduktor yang sempat mengangkat pasar sehari sebelumnya kehilangan tenaga.
Indeks S&P 500 turun 0,26% menjadi 7.386,65, sementara Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi terkoreksi 0,97% ke level 25.678,82. Sebaliknya, indeks Dow Jones Industrial Average berhasil mencatat kenaikan 86,10 poin atau 0,17% menjadi 50.872,11.
Baca Juga
Pasar AS Mayoritas Menguat, Saham Teknologi Dongkrak Wall Street
Pelemahan pasar terjadi meskipun harga minyak dunia turun tajam, yang sebelumnya sempat memicu optimisme bahwa tekanan inflasi energi akan mereda.
Saham Chip Terseret Aksi Jual
Sektor teknologi menjadi beban utama pasar setelah reli besar pada saham-saham kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor mulai memudar.
ETF semikonduktor iShares Semiconductor ETF (SMH) turun 1% setelah melonjak 6% sehari sebelumnya. Sebelumnya, ETF tersebut anjlok 10% pada Jumat lalu, penurunan harian terburuk dalam enam tahun terakhir, akibat kekhawatiran bahwa valuasi saham chip telah meningkat terlalu cepat.
Saham produsen memori Micron Technology turun 1% setelah melonjak sekitar 10% pada sesi sebelumnya. Dalam dua hari perdagangan pekan lalu, saham tersebut sempat merosot hampir 20%.
Sementara itu, Broadcom juga melemah 1%, menghapus sebagian momentum rebound yang terjadi pada awal pekan.
Sektor teknologi informasi di S&P 500 akhirnya ditutup turun hampir 2%, menjadikannya sektor dengan kinerja terburuk hari itu.
Harga Minyak Turun
Di sisi lain, sentimen pasar sempat membaik setelah harga minyak mentah turun tajam.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 3,4% dan ditutup di US$88,20 per barel setelah Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz meningkat secara signifikan.
Baca Juga
Harga Minyak Turun, Menteri Energi AS Sebut Lalu Lintas Kapal Lewat Hormuz Meningkat
Optimisme juga muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat tercapai dalam "dua atau tiga hari."
Penurunan harga energi membantu mengangkat sektor material, properti, dan saham konsumen siklikal. Data penjualan rumah bekas yang lebih baik dari perkiraan juga memberikan dorongan tambahan bagi sektor real estat.
Beralih dari Saham AI
Menurut CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, investor mulai melakukan rotasi dari saham pertumbuhan jangka panjang berbasis teknologi menuju saham-saham siklikal yang lebih sensitif terhadap pemulihan ekonomi.
Salah satu contoh yang disebut Hatfield adalah Home Depot, yang dinilai berpotensi mendapat manfaat dari normalisasi perdagangan global dan pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Selain itu, ia menilai pasar juga dibayangi oleh rencana penawaran saham perdana (IPO) SpaceX yang dijadwalkan akhir pekan ini.
"Semua orang tampaknya sedikit gugup. Pasar kemungkinan akan bergerak fluktuatif sampai IPO SpaceX berlalu," ujarnya kepada CNBC.
Antusiasme terhadap tema kecerdasan buatan kembali meningkat setelah OpenAI secara rahasia mengajukan dokumen IPO pada Senin malam.
Namun perhatian terbesar investor tertuju pada SpaceX yang dijadwalkan melantai di bursa pada Jumat mendatang dalam penawaran saham perdana terbesar sepanjang sejarah.
Dengan valuasi yang diperkirakan mencapai US$1,75 triliun, IPO SpaceX dipandang sebagai ujian penting bagi reli saham AI yang telah mendominasi Wall Street selama dua tahun terakhir.
Sebagian investor meyakini IPO tersebut dapat menjadi katalis baru bagi pasar bullish berbasis AI. Namun tidak sedikit yang khawatir valuasi raksasa tersebut justru menandai puncak euforia pasar teknologi, sebagaimana sering terjadi menjelang berakhirnya sebuah siklus kenaikan besar di pasar saham.
Perhatian investor dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan tertuju pada dua faktor utama, yaitu perkembangan konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga energi global serta keberhasilan IPO SpaceX yang berpotensi menentukan arah sentimen pasar teknologi hingga akhir tahun.

