Saham Teknologi Rontok, Wall Street Mayoritas Melemah
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS mayoritas melemah pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (23/6/2026) WIB. Tekanan besar pada saham-saham teknologi membebani kinerja indeks utama Wall Street.
Indeks S&P 500 turun 0,37% ke level 7.472,79. Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi merosot 1,32% menjadi 26.166,60. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average berhasil menguat 148 poin atau 0,29% ke level 51.712,71, didorong lonjakan hampir 4% saham Caterpillar.
Baca Juga
Saham Teknologi Tekan Wall Street, tapi Dow Malah Cetak Rekor Baru dan Sempat Tembus 52.000
Sektor teknologi menjadi sumber utama tekanan pasar. Saham Alphabet jatuh 5% setelah muncul kekhawatiran terkait hengkangnya sejumlah talenta kecerdasan buatan (AI). Amazon turun 4,8%, Meta Platforms melemah 2,3%, sedangkan Microsoft terkoreksi sekitar 3%.
Saham SpaceX juga menjadi salah satu yang paling terpukul. Perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut merosot 16% dan mencatat penurunan selama tiga sesi perdagangan berturut-turut.
Di tengah pelemahan sektor teknologi, saham produsen chip justru menunjukkan ketahanan. Micron Technology melonjak hampir 7% menjelang laporan keuangan kuartalan yang akan dirilis pekan ini.
Saham Advanced Micro Devices (AMD) naik lebih dari 2%, sementara Intel menguat sekitar 5%.
Dari sisi makroekonomi, investor juga mencermati perkembangan terbaru negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak turun tajam.
Harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus berakhir melemah 3,31% ke US$77,90 per barel, sementara WTI turun 2,32% menjadi US$74,82 per barel setelah pemerintah AS mengizinkan kembali penjualan minyak Iran selama 60 hari.
Fokus utama pasar kini tertuju pada data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) bulan Mei yang akan dirilis Kamis mendatang.
PCE merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve dan menjadi acuan utama dalam menentukan arah kebijakan moneter. Para ekonom memperkirakan inflasi inti PCE akan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, meskipun harga pangan dan energi dikeluarkan dari perhitungan.
Setelah pertemuan Federal Reserve pekan lalu yang bernada hawkish, sebagian pelaku pasar mulai memperkirakan kenaikan suku bunga dapat terjadi secepat Oktober tahun ini.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga Acuan di Kisaran 3,5% - 3,75%, Buka Peluang Kenaikan Tahun Ini
Meski demikian, ahli strategi investasi U.S. Bank Asset Management Group, Tom Hainlin, menilai fundamental ekonomi Amerika Serikat masih relatif kuat.
Menurutnya, selama konsumen tetap memiliki pendapatan yang baik dan yakin terhadap kondisi pasar kerja, sementara dunia usaha terus melakukan ekspansi, prospek ekonomi AS masih cukup solid untuk menopang pasar saham dalam jangka menengah.
"Selama konsumen tetap membelanjakan uangnya dan perusahaan masih percaya diri terhadap ekonomi, lingkungan investasi AS masih cukup kondusif," ujarnya, seperti dikutip CNBC.
