Sinyal The Fed Tekan Wall Street, Indeks Dow Jones Anjlok 500 Poin
NEW YORK, investortrust.id - Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (18/6/2026) WIB. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 507,12 poin atau 0,98% menjadi 51.492,55. Penurunan tersebut terjadi setelah indeks sempat mencetak rekor intraday baru untuk hari ketiga berturut-turut.
S&P 500 kehilangan 1,21% dan berakhir di level 7.420,10, sedangkan Nasdaq Composite turun 1,34% menjadi 26.021,66.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Microsoft, Meta Platforms, Alphabet, dan Amazon seluruhnya ditutup di zona merah.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga Acuan di Kisaran 3,5% - 3,75%, Buka Peluang Kenaikan Tahun Ini
Sentimen pasar juga terpengaruh oleh penurunan saham SpaceX, yang untuk pertama kalinya melemah sejak melantai di bursa pekan lalu.
Sebaliknya, penguatan saham semikonduktor seperti Intel dan Micron Technology membantu membatasi kerugian yang lebih dalam.
Sinyal Hawkish dari The Fed
Pada akhir pertemuan dua hari yang menjadi rapat pertama di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh, Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5%-3,75%.
Namun pasar lebih fokus pada proyeksi ekonomi terbaru yang menunjukkan sejumlah pejabat The Fed memperkirakan perlunya kenaikan suku bunga pada 2026.
Median proyeksi suku bunga dana federal kini berada di level 3,8% pada akhir tahun depan, lebih tinggi dibandingkan 3,4% dalam proyeksi Maret.
Hal itu memperkuat pandangan bahwa bank sentral belum siap memasuki siklus pelonggaran kebijakan moneter.
Warsh sendiri tidak mengirimkan proyeksi suku bunga pribadinya, sehingga menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan ke depan.
Yield Treasury Melonjak
Pasar obligasi langsung bereaksi terhadap perubahan nada kebijakan tersebut. Yield Treasury tenor dua tahun, yang sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Fed, melonjak lebih dari 16 basis poin menjadi 4,216%.
Baca Juga
Pasar Obligasi AS Terguncang, Yield Treasury 2-Tahun Tembus 4,2%
Kepala Ekonom New Century Advisors, Claudia Sahm, mengatakan reaksi pasar terutama dipicu oleh perubahan dot plot yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya.
“Perubahan besar terjadi dalam pandangan terhadap inflasi. Nada kebijakan kini jauh lebih ketat dibandingkan yang diperkirakan pasar,” ujarnya.
Harapan Pemangkasan Bunga Memudar
Investor juga mencermati pernyataan Warsh yang berulang kali menekankan komitmen The Fed terhadap "stabilitas harga".
Pernyataan tersebut dianggap sebagai sinyal bahwa Warsh tidak akan mendorong penurunan suku bunga secara agresif sebagaimana yang sebelumnya diharapkan sebagian pelaku pasar setelah pencalonannya oleh Presiden Donald Trump.
Chief Executive Officer DoubleLine Capital, Jeffrey Gundlach, menilai pesan Warsh sangat jelas. “Ia benar-benar menunjukkan bahwa prioritasnya adalah stabilitas harga. Artinya, kebijakan moneter tidak akan semudah yang diperkirakan banyak orang pada awal tahun ketika pasar masih berharap pemangkasan suku bunga,” kata Gundlach kepada CNBC.
Baca Juga
Dengan inflasi yang masih berada di atas target dan pasar tenaga kerja yang tetap kuat, investor kini mulai menyesuaikan ekspektasi bahwa era suku bunga tinggi di Amerika Serikat kemungkinan akan berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
