Wall Street Rontok, Indeks Dow Jones Anjlok Lebih dari 500 Poin
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham Amerika Serikat (AS) jatuh pada penutupan perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat (5/04/2024). Indeks Dow Jones anjlok di atas 500 poin.
Baca Juga
Saham Wall Street Berguguran, Dow Jones Anjlok Hampir 400 poin
Perdagangan bergejolak menjelang laporan pekerjaan bulan Maret. Lonjakan harga minyak dan kekhawatiran Federal Reserve akan menunda penurunan suku bunga juga melemahkan sentimen investor.
Dow Jones Industrial Average kehilangan 530,16 poin, atau 1,35%, menjadi 38.596,98. Dow yang berisi 30 saham mengalami sesi terburuk sejak Maret 2023, dan mencatat penurunan hari keempat berturut-turut. S&P 500 turun 1,23% berakhir pada 5.147,21. Nasdaq Composite yang padat teknologi merosot 1,40% ditutup pada 16.049,08.
Tiga indeks utama mengalami penurunan tajam di akhir sesi, turun lebih dari 2% dari nilai tertinggi intradaynya. Antara harga tertinggi dan terendah, Dow berayun lebih dari 860 poin.
Minyak mentah melonjak pada tengah hari, yang bertepatan dengan pembalikan stok pada hari Kamis. Minyak WTI mencapai $86 per barel dan mencapai level tertinggi sejak Oktober, meningkatkan kekhawatiran mengenai harga energi yang membantu mempercepat kembali inflasi.
Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari juga berkomentar pada Kamis sore bahwa ia bertanya-tanya apakah bank sentral harus memangkas suku bunga jika inflasi tetap stabil, menambah suara para pembicara Fed baru-baru ini yang berbicara secara konservatif tentang kebijakan. Imbal hasil Treasury 10-tahun naik dari posisi terendah sesi ini karena komentar Kashkari. Perdagangan terakhir di 4,305%. Patokan imbal hasil Treasury sempat menyentuh 4,429% pada hari Rabu, yang merupakan level tertinggi baru untuk tahun ini.
“Investor saat ini mengambil sikap wait and see,” kata Sam Stovall, kepala strategi investasi CFRA Research, seperti dikutip CNBC internasional. “Imbal hasil (yield) 10-tahun adalah kekuatan pendorong utama karena kekhawatiran The Fed untuk tidak terburu-buru, dan menegaskan bahwa The Fed akan lebih lambat dalam menurunkan suku bunganya,” urai Stovall.
Pasar dinilai masih mahal, mengingat S&P 500 diperdagangkan dengan premi 33% dari rata-rata jangka panjangnya.
Baca Juga
Wall Street Rebound: Dow Jones Melesat di atas 450 Poin, S&P 500 Catat Rekor Tertinggi Baru

