Wall Street Melesat Setelah Trump Umumkan ‘Deal’ AS-Iran, Dow Cetak Rekor Baru di Atas 51.600
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS menguat pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (16/6/2026). Wall Street mengawali pekan perdagangan dengan penguatan signifikan setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 468,77 poin atau 0,92% dan ditutup pada rekor tertinggi baru di level 51.671,03. Indeks yang berisi 30 saham unggulan tersebut juga sempat menyentuh level intraday tertinggi sepanjang sejarah.
Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 1,65% menjadi 7.554,29 dan Nasdaq Composite melonjak 3,07% ke posisi 26.683,94. Kenaikan tersebut menjadi performa harian terbaik Nasdaq sejak 31 Maret.
Baca Juga
Salah satu motor utama reli pasar adalah saham SpaceX yang melesat hampir 20% setelah sehari sebelumnya melonjak 19% pada debut perdagangan publiknya.
Kepala Strategi Pasar di Zacks Investment Management, Brian Mulberry, menilai penguatan saham SpaceX berlangsung lebih sehat dibandingkan fenomena saham spekulatif yang sering terjadi di pasar.
Menurutnya, investor tampak membeli saham tersebut untuk investasi jangka panjang, bukan sekadar mengejar keuntungan cepat. “Tampaknya jauh lebih baik dari yang saya harapkan. Ini bukan semacam saham meme sejak awal, tetapi orang-orang benar-benar menambahkannya dan menahannya dalam portofolio mereka, bukan mencoba untuk menjualnya Kembali,” ujar Mulberry, seperti dikutip CNBC.
Sentimen positif juga datang dari perkembangan geopolitik. Trump mengumumkan pada Minggu malam bahwa kesepakatan dengan Iran telah selesai dan hanya tinggal menunggu penandatanganan resmi pada Jumat mendatang di Swiss.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyebut memorandum kesepahaman tersebut akan ditandatangani secara formal pekan ini, sementara seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan dokumen itu sebenarnya telah ditandatangani secara elektronik.
Pasar semakin optimistis setelah Trump menyatakan telah mengizinkan pembukaan kembali Selat Hormuz. Langkah tersebut langsung menekan harga minyak dunia, dengan WTI turun hampir 5% menjadi US$80,75 per barel.
Baca Juga
Dow Futures Melonjak Hampir 350 Poin Dipicu Sentimen Kesepakatan Damai AS-Iran
Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan bahwa pemerintah berharap jalur pelayaran strategis tersebut dapat beroperasi bebas pungutan dalam jangka panjang.
Menurut Mulberry, penurunan harga minyak memberikan sinyal penting bagi pasar karena berlangsung pada pekan rapat kebijakan moneter Federal Reserve.
Ia menilai harga minyak yang turun ke sekitar US$80 per barel dapat membantu meredakan tekanan inflasi sehingga mengurangi kebutuhan bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga.
Meskipun harga bahan bakar olahan seperti avtur kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama untuk turun, pasar melihat penurunan harga minyak mentah sebagai sinyal positif bagi prospek ekonomi dan laba perusahaan.
Dengan meredanya risiko geopolitik di Timur Tengah serta harapan suku bunga tetap stabil, investor kini kembali mengalihkan fokus pada pertumbuhan ekonomi dan kinerja korporasi pada paruh kedua tahun ini.
