Trump Bantah Bocoran Damai Iran, Tapi Sebut Kesepakatan Kian Dekat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Prospek berakhirnya perang Iran yang telah memasuki bulan keempat kembali menguat setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Iran dan Amerika Serikat “tidak pernah sedekat ini” untuk disepakati. Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi pada Jumat (12/06/2026), sebagaimana dilaporkan Al Jazeera dalam laporan langsung konflik Iran-Israel.
Meski optimisme meningkat, Araghchi meminta media tidak berspekulasi mengenai isi dokumen yang masih dalam tahap finalisasi. Pernyataan itu muncul di tengah perdebatan mengenai isi rancangan kesepakatan damai yang beredar luas di media pemerintah Iran.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah keras berbagai rincian kesepakatan yang dipublikasikan media Iran. Dalam unggahan di Truth Social pada Jumat pagi waktu AS, Trump menegaskan bahwa dokumen yang beredar “tidak ada hubungannya sama sekali” dengan kesepakatan tertulis yang sedang dinegosiasikan kedua negara. “Apa yang mereka katakan, termasuk pernyataan lemah dan menyedihkan mengenai adanya kesepakatan, sama sekali tidak mencerminkan kebenaran,” tulis Trump, seperti dikutip CNBC dalam laporan yang tayang Jumat (12/06/2026).
Media Iran, Mehr News Agency, sebelumnya melaporkan bahwa rancangan kesepakatan terdiri atas 14 poin, termasuk komitmen Amerika Serikat untuk mencabut sanksi minyak terhadap Iran, pelepasan sebagian dana Iran yang dibekukan di luar negeri, penghentian blokade laut AS, serta pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan ditandatangani.
Namun Trump menolak seluruh rincian tersebut dan bahkan menuding Iran tidak bernegosiasi dengan itikad baik. Presiden AS itu juga mengecam dugaan serangan drone Iran terhadap kapal-kapal India yang keluar dari Selat Hormuz. Menurut Trump, serangan tersebut “sama sekali tidak dapat diterima” dan menunjukkan perlunya Iran segera mengubah sikapnya.
Di sisi lain, harapan pasar terhadap tercapainya perdamaian terus meningkat. Bloomberg melaporkan bahwa kesepakatan damai berpotensi ditandatangani di Swiss paling cepat pada Minggu (14/06/2026), menjelang pertemuan para pemimpin negara anggota G7 di Évian-les-Bains, Prancis, pekan depan. Sehari sebelumnya, Kamis (11/06/2026), Trump mengklaim Amerika Serikat “baru saja mencapai penyelesaian besar perang dengan Iran”, meskipun masih menunggu finalisasi dokumen. Pada hari yang sama, Trump juga membatalkan rencana serangan militer AS terhadap Iran yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung Kamis malam.
Baca Juga
Wall Street Melesat Setelah Trump Batalkan Serangan ke Iran, Dow Melonjak Lebih 900 Poin
Menurut Trump, pembicaraan dengan Iran telah mencapai tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan memperoleh persetujuan politik untuk melanjutkan proses negosiasi. Presiden AS itu juga menyatakan Selat Hormuz akan kembali dibuka segera setelah kesepakatan resmi ditandatangani.
Perkembangan tersebut disambut positif pasar keuangan global. CNBC melaporkan bursa saham dunia menguat pada Jumat setelah meningkatnya harapan bahwa perang yang mengguncang Timur Tengah sejak awal tahun ini akan segera berakhir. Harga minyak juga bergerak lebih stabil dibandingkan periode puncak konflik ketika ancaman penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi dunia.
Meski demikian, sejumlah isu strategis masih menjadi batu sandungan dalam negosiasi. Berdasarkan laporan Mehr dan berbagai media internasional, Iran menginginkan pencabutan sanksi ekonomi, pembebasan aset yang dibekukan, serta jaminan rekonstruksi ekonomi pascaperang. Sementara Amerika Serikat dan Israel tetap menuntut pembatasan permanen terhadap program nuklir Iran, pengembangan rudal balistik, serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan.
Pemerintah Israel sendiri belum memberikan komentar langsung mengenai draf MoU yang beredar. Namun Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan Tel Aviv mengharapkan Trump tetap memegang prinsip utama bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir maupun memperluas kemampuan misil dan jaringan proksinya.
Katz juga menegaskan Israel tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon, Suriah, Gaza, maupun sebagian wilayah Tepi Barat. Menurutnya, doktrin keamanan Israel tetap berorientasi pada pencegahan ancaman secara tegas, bukan melalui kompromi yang berisiko mengancam keamanan nasional.
Di Lebanon, konflik yang terkait dengan perang regional tersebut masih terus berlanjut. Data yang dikutip Al Jazeera menunjukkan serangan Israel ke wilayah Lebanon telah menewaskan sedikitnya 3.711 orang dan melukai 11.483 lainnya sejak konflik meningkat. Operasi militer Israel di Lebanon selatan masih berlangsung meskipun pembicaraan damai Iran-AS menunjukkan kemajuan signifikan.
Perkembangan terbaru ini memperlihatkan bahwa peluang perdamaian memang semakin terbuka, tetapi jalan menuju kesepakatan final masih dipenuhi perbedaan kepentingan strategis antara Washington, Teheran, dan Tel Aviv. Pasar global menyambut optimisme tersebut, namun investor tetap menunggu bukti konkret berupa penandatanganan resmi kesepakatan yang dapat mengakhiri salah satu konflik geopolitik terbesar tahun 2026.

