Iran Bantah Klaim Trump Soal Kesepakatan Gencatan Senjata, tapi Siap Akhiri Permusuhan
TEHERAN, investortrust.id - Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa Teheran telah menyetujui kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Washington dengan Israel, meskipun ia memberi sinyal bahwa Iran siap menghentikan permusuhan.
Baca Juga
Trump Umumkan Rencana Gencatan Senjata Iran-Israel, Sebut 'Perang 12 Hari' Berakhir
Pernyataan Araghchi muncul setelah Trump menyampaikan dalam wawancara eksklusif dengan NBC News bahwa gencatan senjata antara Israel dan Iran akan berlangsung "selamanya."
“Untuk saat ini, TIDAK ADA ‘kesepakatan’ tentang gencatan senjata atau penghentian operasi militer,” tulis Araghchi di X pukul 04.16 waktu Teheran. Ia menambahkan, jika Israel menghentikan agresinya "selambat-lambatnya pukul 4 pagi waktu Teheran, kami tidak berniat melanjutkan respons kami setelahnya."
Pernyataan Araghchi itu muncul menyusul klaim Trump yang menyebut bahwa kedua negara telah menunjukkan “ketahanan, keberanian, dan kecerdasan” dalam mengakhiri apa yang disebutnya sebagai “PERANG 12 HARI.”
Israel sendiri belum mengonfirmasi secara terbuka bahwa mereka menerima 'timeline' gencatan senjata versi Trump.
Sebelumnya, Trump juga mengucapkan terima kasih kepada Iran karena telah memberi peringatan dini kepada AS mengenai serangan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Menurut Trump, pemberitahuan tersebut memungkinkan tidak adanya korban jiwa maupun luka-luka.
Peringatan ini menjadi dasar bagi Kedutaan Besar AS di Doha untuk mencabut perintah berlindung yang dikeluarkan sebelum serangan terjadi. Qatar pun membuka kembali wilayah udara sipilnya enam jam setelah serangan.
Dikutip dari CNBC, indeks-indeks pasar saham AS ditutup menguat pada Senin karena investor optimistis balasan Iran atas serangan AS terhadap fasilitas nuklirnya hanya terbatas pada serangan rudal.
Baca Juga
Serangan Balasan Iran Terkendali, Wall Street Bangkit, Dow Melaju di Atas 350 Poin
Harga minyak juga turun tajam karena para pelaku pasar mulai meredakan kekhawatiran bahwa konflik besar-besaran akan mengganggu jalur pelayaran penting seperti Selat Hormuz.

