Lebih Tinggi dari Perkiraan, Inflasi Produsen AS Melonjak 1,1% pada Mei
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, Investortrust.id - Tekanan inflasi di Amerika Serikat kembali meningkat setelah harga di tingkat produsen melonjak lebih tinggi dari perkiraan pada Mei. Hal ini terjadi, terutama akibat kenaikan tajam biaya energi yang dipicu konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga
Data yang dirilis oleh Bureau of Labor Statistics pada Kamis (11/6/2026) menunjukkan Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI), yang mengukur biaya permintaan akhir barang dan jasa, naik 1,1% secara bulanan setelah disesuaikan secara musiman.
Kenaikan tersebut melampaui proyeksi ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 0,7% dan menyamai lonjakan yang terjadi pada April.
Secara tahunan, inflasi produsen mencapai 6,5%, menjadi yang tertinggi sejak November 2022 dan mengindikasikan tekanan harga masih terus merambat di rantai pasok ekonomi AS.
Energi Jadi Biang Kerok
Meski angka utama melonjak tajam, inflasi inti atau core PPI—yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi—naik 0,4%, lebih rendah dibanding ekspektasi pasar sebesar 0,5%.
Data tersebut menunjukkan sebagian besar tekanan inflasi saat ini berasal dari lonjakan harga bahan bakar dan energi.
Jika komponen pangan, energi, dan jasa perdagangan dikeluarkan, PPI meningkat 0,8%, kenaikan bulanan terbesar sejak Maret 2022. Secara tahunan, ukuran inti tersebut naik 5,1%, tertinggi sejak Oktober 2022.
BLS mencatat hampir 80% kenaikan indeks produsen berasal dari lonjakan harga barang akhir sebesar 2,8%, rekor tertinggi sejak data mulai dihimpun pada Desember 2009.
Dari kenaikan tersebut, sekitar 80% disumbang oleh harga energi yang melonjak 10,7%.
Harga bensin di tingkat grosir bahkan melesat 23,4% hanya dalam satu bulan.
Selain energi, biaya jasa manajemen portofolio juga naik 4,8%, seiring penguatan pasar saham selama Mei.
Dampak Perang Iran
Laporan ini muncul sehari setelah data inflasi konsumen menunjukkan inflasi utama AS melonjak menjadi 4,2% YoY pada Mei.
Kenaikan tersebut sebagian besar dipicu oleh lonjakan harga energi akibat perang Iran yang telah mengganggu pasokan minyak global dan meningkatkan biaya distribusi.
Meski demikian, inflasi inti konsumen masih relatif terkendali dengan kenaikan bulanan 0,2% dan laju tahunan 2,9%.
Data inflasi yang masih tinggi memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve belum memiliki ruang untuk mulai memangkas suku bunga.
Dilansir CNBC, pasar saat ini memperkirakan hampir 100% peluang bahwa Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Bahkan, kontrak berjangka suku bunga menunjukkan tidak ada peluang pemangkasan hingga akhir tahun. Sebaliknya, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan lebih dari 60% bahwa langkah berikutnya justru berupa kenaikan suku bunga, yang diperkirakan terjadi pada Desember.
European Central Bank sebelumnya telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin guna meredam tekanan inflasi akibat lonjakan energi.
Baca Juga
Hadapi Ancaman Inflasi Gara-gara Perang Iran, ECB Kerek Suku Bunga ke 2,25%
Sejumlah pejabat The Fed sejauh ini masih memilih pendekatan lebih sabar sambil menunggu apakah guncangan pasokan energi akan mereda dan inflasi kembali menuju target 2%.
