Serangan Israel ke Lebanon Persulit Kesepakatan Damai AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali menghadapi ujian setelah Israel melancarkan serangan baru ke wilayah Lebanon selatan, hanya sehari setelah kedua negara menghentikan konfrontasi langsung yang sempat mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan The New York Times yang diperbarui pada Selasa (09/06/2026) pukul 11.33 waktu New York atau sekitar 22.33 WIB, militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan, termasuk Kota Tyre, salah satu kota terbesar di kawasan tersebut. Serangan itu menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai puluhan lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa meskipun Iran dan Israel telah menahan diri dari serangan langsung dalam beberapa hari terakhir, konflik di Lebanon masih menjadi titik rawan yang berpotensi menggagalkan upaya diplomasi yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran.
Pemerintah Iran secara konsisten menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai dengan Amerika Serikat harus mencakup jaminan keamanan bagi Lebanon. Namun Israel menolak mengaitkan konflik Lebanon dengan perundingan AS-Iran dan menegaskan akan terus melancarkan operasi militer terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Ketegangan meningkat setelah serangan Israel ke kawasan Dahiya di pinggiran selatan Beirut pada Minggu (07/06/2026) memicu saling serang singkat antara Iran dan Israel. Teheran kemudian memperingatkan akan kembali menyerang Israel apabila operasi militer terhadap Lebanon selatan terus berlanjut.
Pada Selasa pagi waktu setempat, militer Israel bahkan mengeluarkan perintah evakuasi untuk seluruh Kota Tyre, termasuk kawasan Kristen yang selama ini relatif aman dari serangan. Ini merupakan pertama kalinya sejak perang terbaru pecah pada awal Maret 2026 kawasan Kristen di kota pelabuhan bersejarah tersebut masuk dalam peringatan evakuasi militer Israel.
Baca Juga
Iran Hentikan Serangan ke Israel, Gejolak Harga Minyak Mereda
Rekaman video yang beredar memperlihatkan asap hitam tebal membubung dari sejumlah bangunan di Tyre setelah serangan udara terjadi. Otoritas Lebanon melaporkan tempat-tempat penampungan darurat segera penuh, sementara tim penyelamat berupaya mengevakuasi warga lanjut usia di tengah kepanikan masyarakat.
Wali Kota Tyre Hassan Dbouk mengatakan tidak mungkin mengevakuasi sekitar 100.000 penduduk kota tersebut dalam waktu singkat. “Anda tidak bisa meminta 100.000 orang yang tinggal di Tyre untuk pergi sekaligus. Sebagian memilih bertahan karena mereka tidak memiliki tempat tujuan,” ujarnya.
Tyre merupakan salah satu kota terbesar di Lebanon selatan dan dikenal sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO yang memiliki peninggalan Romawi kuno. Sebelum perang terbaru pecah pada awal Maret 2026, kota tersebut dihuni sekitar 100.000 penduduk.
Militer Israel menyatakan operasi terbaru dilakukan setelah mereka mengidentifikasi aktivitas puluhan anggota Hizbullah di kawasan Kristen kota tersebut. Namun Israel tidak menyampaikan bukti yang mendukung klaim tersebut.
Selain menyerang Tyre, militer Israel juga menggempur sejumlah desa dan kota lain di Lebanon selatan. Menurut kantor berita resmi Lebanon, beberapa serangan bahkan terjadi di wilayah yang tidak termasuk dalam zona evakuasi yang diumumkan sebelumnya.
Konflik Lebanon kini menjadi salah satu hambatan utama dalam negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Selama beberapa pekan terakhir, para perunding kedua negara dilaporkan telah menyepakati sebagian besar kerangka awal perjanjian yang mencakup penghentian perang, penyelesaian program nuklir Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dan gas dunia.
Presiden AS Donald Trump pada Selasa pagi mengatakan Iran dan Israel telah sepakat menghentikan serangan langsung satu sama lain. Trump bahkan menyebut kesepakatan yang “sangat baik” dengan Iran dapat tercapai dalam hitungan hari.
Namun hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran terkait pernyataan tersebut. Sejumlah pengamat menilai konflik Lebanon masih menjadi batu sandungan utama karena Iran menuntut penghentian operasi militer Israel di Lebanon sebagai bagian dari paket kesepakatan, sedangkan Israel menolak syarat tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan membatalkan rencana serangan lanjutan terhadap Iran setelah menerima telepon dari Presiden Trump pada Senin (08/06/2026). Dalam pembicaraan tersebut, Trump disebut menyampaikan bahwa terobosan diplomatik dengan Teheran sudah semakin dekat.
Sementara itu, situasi keamanan di kawasan Teluk juga masih menjadi perhatian. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi sebuah helikopter tempur Apache milik Angkatan Darat AS jatuh di dekat Selat Hormuz pada Senin (08/06/2026). Kedua awak berhasil diselamatkan dengan bantuan drone permukaan tanpa awak milik Angkatan Laut AS. Penyebab insiden tersebut masih dalam penyelidikan.
Di pasar energi, harga minyak dunia sedikit melemah pada perdagangan Selasa setelah sehari sebelumnya sempat naik akibat aksi saling serang antara Iran dan Israel. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran karena keberhasilan perundingan berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Serangan terbaru Israel ke Lebanon menunjukkan bahwa meskipun ketegangan langsung antara Iran dan Israel mulai mereda, jalan menuju perdamaian di Timur Tengah masih panjang. Selama konflik Lebanon belum menemukan titik temu, prospek kesepakatan komprehensif antara Washington dan Teheran akan tetap menghadapi tantangan besar.

