Iran Ancam Tutup Pintu Masuk Laut Merah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id —- Iran semakin haru-biru dalam mempertahankan diri. Pemerintah negara ini mengancam untuk menutup Selat Bab el-Mandeb di pintu selatan Laut Merah dan itu memunculkan kekhawatiran baru di pasar energi global. Setelah Selat Hormuz mengalami gangguan akibat perang Iran-AS-Israel, Bab el-Mandeb justru menjadi jalur alternatif utama bagi pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Asia. Jika jalur ini ikut terganggu, pasokan minyak dunia berpotensi mengalami tekanan yang jauh lebih besar.
CNBC dalam laporan yang terbit Jumat (05/06/2026) menyebutkan, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) awal pekan ini mengancam akan menutup Bab el-Mandeb apabila Israel tidak menghentikan operasi militernya di Gaza dan Lebanon. Ancaman tersebut disampaikan melalui kantor berita pemerintah Iran, Tasnim.
Selat Bab el-Mandeb adalah jalur pelayaran strategis yang terletak di antara Yemen dan negara-negara Afrika Timur, yakni Djibouti serta Eritrea. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia, sekaligus menjadi pintu masuk menuju Terusan Suez.
Bersama Selat Hormuz, Bab el-Mandeb merupakan salah satu choke point energi terpenting dunia karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dan barang dari Timur Tengah serta Asia ke Eropa. Sejak konflik Iran mengganggu pelayaran di Hormuz, Arab Saudi mengalihkan jutaan barel minyak per hari melalui Laut Merah dan Bab el-Mandeb.
Karena itu, ancaman Iran untuk menutup selat ini dinilai sangat serius karena dapat menghambat pasokan energi global, mendorong kenaikan harga minyak, memperburuk inflasi dunia, dan meningkatkan tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Data perusahaan pelacakan energi Kpler menunjukkan ekspor minyak dan produk energi melalui Bab el-Mandeb hampir dua kali lipat menjadi 7,2 juta barel per hari pada April 2026, dibandingkan hanya 3,9 juta barel per hari pada Februari sebelum perang pecah.
Arab Saudi menjadi salah satu negara yang paling mengandalkan jalur tersebut. Setelah pengiriman melalui Hormuz terganggu, Riyadh mengalihkan jutaan barel minyak per hari melalui East-West Pipeline menuju Laut Merah. Minyak tersebut kemudian dikirim ke pasar Asia melalui Bab el-Mandeb, membantu menjaga pasokan bagi negara-negara importir utama seperti Jepang dan Korea Selatan.
Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, mengatakan penutupan Bab el-Mandeb akan menjadi eskalasi yang jauh lebih serius dibandingkan gangguan sebelumnya.
“Jika Bab el-Mandeb ditutup, jutaan barel minyak Saudi yang saat ini menuju Asia akan terputus. Dampaknya terhadap pasar energi akan sangat besar,” ujarnya kepada CNBC.
Pasar merespons serius ancaman tersebut. Harga minyak mentah AS sempat melonjak hingga 8% pada perdagangan Senin (1/6/2026). Kenaikan mereda setelah Israel dan Lebanon mengumumkan kesepakatan gencatan senjata pada Rabu (3/6/2026), meski implementasinya masih penuh ketidakpastian.
Situasi semakin rumit karena kelompok Hezbollah di Lebanon menolak kesepakatan tersebut. Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya tetap akan melanjutkan upaya pelucutan senjata Hezbollah.
Para analis juga menyoroti kemungkinan keterlibatan kelompok Houthi di Yaman yang selama 2023-2025 berulang kali menyerang kapal-kapal komersial di Laut Merah. Menurut Kpler, kelompok yang didukung Iran itu tidak perlu menyerang seluruh kapal yang melintas. Serangan terhadap beberapa target strategis saja sudah cukup untuk membuat perusahaan pelayaran menghindari Bab el-Mandeb.
Semakin Rentan
Dalam laporan terpisah yang juga diterbitkan CNBC pada 5 Juni 2026 dari Helsinki, Finlandia, sejumlah pakar energi menilai perang Iran telah mengubah paradigma keamanan energi global. Selama puluhan tahun energi terbarukan dianggap rentan karena bergantung pada cuaca. Namun krisis Timur Tengah justru menunjukkan bahwa energi fosil kini menjadi sumber kerentanan utama karena sangat bergantung pada jalur perdagangan internasional yang rawan konflik.
Ahli energi dari lembaga think tank Ember, Kingsmill Bond, mengatakan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz membuktikan bahwa minyak dan gas kini menjadi sumber energi yang paling tidak pasti. Menurutnya, perkembangan teknologi baterai membuat energi surya dan angin semakin stabil dan dapat diandalkan. Kondisi ini berbeda dengan krisis minyak 1973 dan 1979 ketika dunia belum memiliki alternatif yang memadai selain energi fosil.
Pandangan serupa disampaikan CEO Fortum, Markus Rauramo, dan CEO Statkraft, Birgitte Ringstad Vartdal. Mereka menilai ketergantungan pada impor minyak dan gas kini menjadi risiko strategis yang semakin mahal.
Profesor Kebijakan Energi dan Iklim dari University of Oxford, Jan Rosenow, bahkan memperingatkan bahwa Eropa berpotensi menghadapi ketergantungan baru terhadap LNG Amerika Serikat setelah mengurangi pasokan dari Rusia dan menghadapi gangguan di Timur Tengah.
Dampak bagi Indonesia
Bagi Indonesia, eskalasi di Bab el-Mandeb dan Hormuz menjadi kabar buruk. Sebagai negara pengimpor minyak bersih (net importer), kenaikan harga minyak akan memperbesar tagihan impor migas yang saat ini sudah menjadi salah satu penyebab utama pelemahan surplus perdagangan dan tekanan terhadap rupiah.
Kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan subsidi energi, memperlebar defisit transaksi berjalan, menambah kebutuhan devisa impor, serta meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kini sudah menembus Rp 18.000 per dolar AS.
Jika konflik terus meluas dan kedua jalur strategis tersebut terganggu secara bersamaan, pasar energi global berpotensi menghadapi guncangan terbesar sejak krisis minyak tahun 1970-an, dengan konsekuensi berupa lonjakan inflasi, perlambatan ekonomi, dan meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan dunia.

