Iran Ancam Tutup Total Selat Hormuz, Konflik Energi Makin Mengkhawatirkan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Iran mengancam akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz jika Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas pembangkit listriknya, mempertegas eskalasi konflik yang kini mengarah pada perang energi global. Pernyataan tersebut disampaikan militer Iran pada Minggu (22/3/2026), sebagaimana dilaporkan CNN dalam pembaruan berita yang diterbitkan pukul 17:07 EDT pada hari yang sama.
Dalam laporan tersebut, militer Iran menegaskan kesiapan untuk menutup jalur pelayaran strategis itu secara “total dan tanpa batas waktu” apabila Presiden AS Donald Trump merealisasikan ancamannya untuk membombardir infrastruktur energi Iran.
Sumber di Teheran juga menyebut Iran tengah mempertimbangkan langkah untuk “memonetisasi” kendali atas Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia—yang berpotensi memicu gangguan serius terhadap pasokan energi global.
Di sisi lain, ketegangan militer terus meningkat di lapangan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengutuk serangan rudal Iran ke kota Arad di Israel selatan pada Sabtu (22/3/2026), yang menyebabkan sedikitnya 84 orang terluka. Sementara itu, laporan terbaru menyebutkan korban jiwa akibat konflik di Iran dan Lebanon telah mencapai ribuan sejak perang dimulai pada akhir Februari 2026.
Sejumlah laporan lain dari Reuters dan BBC pada 22–23 Maret 2026 juga menyoroti meningkatnya risiko gangguan di Selat Hormuz serta ancaman terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk. Dengan saling ancam antara Washington dan Teheran, serta meluasnya serangan lintas wilayah, konflik ini kini berkembang menjadi krisis strategis yang tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas pasar energi dan ekonomi global.
Ancaman Serangan Energi Meningkat
Konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari ke-23 pada Minggu (23/3/2026), dengan eskalasi yang semakin mengarah pada perang energi dan potensi konflik regional yang lebih luas.
Berdasarkan laporan CNN yang diperbarui sekitar 7 jam sebelum publikasi pada 23 Maret 2026, Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka penuh Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Ancaman ini mempertegas posisi strategis jalur tersebut, yang menjadi titik krusial bagi sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Iran merespons keras ultimatum tersebut. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi Iran akan dibalas dengan penghancuran “irreversibel” terhadap fasilitas energi di seluruh kawasan Timur Tengah.
Baca Juga
Pernyataan yang disampaikan pada Minggu (23/3/2026) itu menandai peningkatan risiko bahwa konflik tidak hanya terbatas pada konfrontasi militer, tetapi dapat meluas menjadi perang infrastruktur energi yang berdampak global. Laporan senada juga disampaikan BBC dan Reuters pada periode 22–23 Maret 2026, yang menegaskan meningkatnya ketegangan terkait Selat Hormuz dan ancaman terhadap fasilitas energi regional.
Di lapangan, serangan terus terjadi di berbagai front. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengutuk serangan Iran terhadap wilayah sipil di kota Arad pada Sabtu (22/3/2026), yang melukai sedikitnya 84 orang, sementara serangan rudal lain juga menghantam Dimona—lokasi yang berdekatan dengan fasilitas nuklir Israel.
Militer Israel melaporkan telah melancarkan serangan besar-besaran ke lebih dari 200 target di Iran dan Lebanon, termasuk fasilitas penyimpanan senjata dan pusat komando Hizbullah. Data terbaru dari Palang Merah Iran dan perwakilan Iran di PBB menunjukkan korban sipil di Iran telah mencapai lebih dari 1.330 orang tewas dan 18.000 luka-luka sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026, sementara di Lebanon lebih dari 1.000 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 1 juta mengungsi.
Eskalasi juga meluas di luar Timur Tengah inti. Inggris mengecam serangan rudal Iran yang menargetkan pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia, sebagaimana dilaporkan Reuters dan CNBC pada 22 Maret 2026. Selain itu, sebuah ledakan dilaporkan terjadi di dekat kapal niaga di perairan Uni Emirat Arab, menurut UK Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Minggu (23/3/2026), menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran internasional.
Di tengah ketegangan tersebut, Selat Hormuz tetap menjadi titik sentral konflik. Iran menyatakan jalur tersebut terbuka untuk pelayaran internasional kecuali bagi negara yang dianggap sebagai “musuh”, sementara lebih dari 20 negara, termasuk Uni Emirat Arab dan Australia, menyatakan kesiapan untuk menjaga keamanan navigasi di kawasan tersebut.
Baca Juga
Harga Minyak Terus Terkerek di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah, Bisa Tembus US$ 180?
Sejumlah analis bahkan mulai membandingkan situasi saat ini dengan “Tanker War” pada 1980-an, ketika eskalasi konflik di Teluk Persia mengganggu perdagangan minyak global.
Dengan meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur energi, jalur pelayaran, dan target sipil, konflik Iran–AS–Israel kini telah berkembang menjadi krisis multidimensi yang tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi mengguncang pasar energi dan ekonomi global dalam jangka pendek hingga menengah.

