Harga Minyak Turun, Harapan Deeskalasi Konflik AS-Iran Redakan Pasar
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak dunia terkoreksi pada akhir pekan setelah muncul harapan baru mengenai deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Namun di balik penurunan tersebut, para analis energi global mengingatkan bahwa risiko terbesar pasar minyak belum sepenuhnya hilang. Selat Hormuz masih jauh dari kondisi normal, persediaan minyak global terus menyusut, dan premi risiko geopolitik tetap melekat pada harga energi dunia.
Baca Juga
Harga Minyak Turun Tajam, Pasar Berspekulasi Diplomasi AS-Iran Kembali Terbuka
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent pada Jumat (5/6/2026) ditutup turun 2,04% menjadi US$93,09 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun 2,69% ke US$90,54 per barel. Meski demikian, kedua kontrak masih mencatat kenaikan mingguan pertama dalam tiga pekan terakhir.
Penurunan harga terjadi setelah pasar menafsirkan adanya peluang kemajuan dalam negosiasi damai AS-Iran. Namun sejumlah analis menilai investor mungkin terlalu cepat menghapus premi risiko yang selama beberapa bulan terakhir menopang harga minyak.
Sejak konflik AS-Israel-Iran meletus pada akhir Februari 2026, harga Brent sempat melonjak lebih dari 50% dan bahkan menembus level US$119 per barel, tertinggi sejak 2022. Lonjakan tersebut dipicu terganggunya arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Ketika Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata sementara pada April, harga minyak langsung terkoreksi lebih dari 11% dalam sepekan. Namun proses normalisasi tidak berjalan sesuai harapan. Hingga awal Juni, lalu lintas tanker masih terbatas dan pasar tetap menghadapi ketidakpastian besar mengenai pasokan dari Teluk Persia.
Menurut laporan Reuters, gangguan di Selat Hormuz membuat ekspor minyak Iran turun ke titik terendah dalam enam tahun terakhir, sementara sejumlah produsen kawasan masih belum mampu mengembalikan kapasitas produksi secara penuh.
Selat Hormuz Belum Normal
Meski pasar mulai berbicara mengenai perdamaian, fakta di lapangan menunjukkan Selat Hormuz belum kembali beroperasi normal. Laporan Reuters menyebut lalu lintas pelayaran masih terbatas, sementara sejumlah pengiriman minyak harus dialihkan ke rute yang lebih panjang dan mahal.
Sejumlah analis energi memperingatkan bahwa pasokan global masih menghadapi risiko kekurangan apabila arus tanker tidak segera pulih dalam beberapa minggu ke depan.
John Kilduff, partner di Again Capital yang dikutip Wall Street Journal, menilai pasar saat ini lebih banyak digerakkan oleh optimisme diplomatik daripada realitas pasokan fisik minyak.
Tony Sycamore dari IG Markets, dikutip dari Reuters, mengatakan sentimen pasar masih sangat rapuh karena setiap perkembangan diplomatik di Timur Tengah segera diikuti oleh pernyataan yang saling bertentangan dari pihak-pihak terkait.
Persediaan Minyak Dunia Menyusut
Kondisi yang lebih mengkhawatirkan justru terlihat pada sisi persediaan. Analisis Reuters menyebut stok minyak global terus menurun akibat berbulan-bulan gangguan pasokan dan pelepasan cadangan strategis oleh negara-negara konsumen utama. Bahkan, sejumlah pelaku industri memperingatkan bahwa cadangan yang selama ini menjadi bantalan pasar mulai menipis.
Laporan Reuters lainnya mengungkapkan bahwa negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) telah mengoordinasikan pelepasan hingga 400 juta barel minyak dari cadangan strategis untuk menstabilkan pasar setelah gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Namun langkah tersebut hanya bersifat sementara. "Cadangan strategis dapat mengurangi guncangan jangka pendek, tetapi tidak bisa menggantikan pasokan yang hilang secara permanen," demikian peringatan IEA.
OPEC Tetap Optimistis
Di tengah ketidakpastian tersebut, Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham Al Ghais, tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global sebesar 1,2 juta barel per hari pada 2026. Menurut OPEC, konsumsi energi dunia masih akan tumbuh meskipun ekonomi global menghadapi tekanan dari inflasi dan suku bunga tinggi.
Baca Juga
Tanpa Uni Emirat Arab, OPEC+ Naikkan Produksi 188.000 Barel per Hari
Namun sejumlah lembaga keuangan memiliki pandangan lebih berhati-hati.
Goldman Sachs memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak akan lebih moderat dibanding perkiraan sebelumnya. Bank investasi tersebut menilai perlambatan ekonomi global dan harga energi yang tinggi mulai mengurangi konsumsi di sejumlah negara pengimpor besar.
Prediksi Pasar
Goldman Sachs menjadi salah satu lembaga yang paling aktif merevisi proyeksi minyak sepanjang krisis Timur Tengah tahun ini.
Dalam skenario dasar, Goldman memperkirakan harga Brent rata-rata berada di sekitar US$90 per barel pada kuartal IV 2026 dengan asumsi arus ekspor melalui Selat Hormuz kembali normal secara bertahap pada akhir Juni. (Investing.com)
Namun Goldman juga mengingatkan bahwa risiko masih condong ke arah kenaikan harga. Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung satu bulan lebih lama dari perkiraan, Brent dapat bertahan di atas US$100 per barel sepanjang 2026. (Bloomberg)
Dalam skenario ekstrem, sejumlah analis yang dikompilasi Reuters memperkirakan harga minyak dapat kembali melonjak menuju US$120 hingga US$150 per barel apabila arus minyak dari Teluk Persia kembali terganggu atau konflik regional meluas. (Investing.com)
Sementara JPMorgan memperingatkan bahwa stok minyak global dapat mencapai titik kritis apabila gangguan pasokan berlanjut hingga musim panas, yang berpotensi memicu lonjakan harga baru dan memperburuk tekanan inflasi global. (Reuters)
Untuk saat ini, pasar tampaknya memilih mempercayai kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dibandingkan skenario terburuk.
Namun fakta bahwa Brent masih bertahan di atas US$90 per barel menunjukkan premi risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Selama Selat Hormuz belum kembali beroperasi normal dan persediaan minyak dunia terus menyusut, pasar energi global masih berada dalam posisi rentan.

