Trump: Iran Tak Akan Punya Senjata Nuklir
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran telah menyepakati untuk tidak memiliki senjata nuklir, meski ia mengingatkan bahwa Teheran masih bisa mengubah sikapnya sewaktu-waktu. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan podcast Pod Force One milik New York Post yang dipublikasikan Rabu (03/06/2026) waktu Amerika Serikat.
“Saya memang harus mengatakan kita perlu melakukan sesuatu terhadap Iran, karena sehebat apa pun ekonomi kita, kita tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” kata Trump. Ketika ditanya apakah Iran benar-benar telah menyetujui syarat tersebut, Trump menjawab tegas. “Oh ya, mereka sudah setuju untuk itu. Sekarang mereka bisa saja berubah pikiran, tetapi itu adalah salah satu hal utama yang mereka setujui,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut muncul di tengah perang Iran–Israel–AS yang mendekati hari ke-100 dan masih berada dalam kebuntuan diplomatik. Meski gencatan senjata sementara disebut masih bertahan, Washington dan Teheran belum berhasil mengubahnya menjadi kesepakatan damai permanen.
Pemerintah Iran segera merespons pernyataan Trump dengan nada skeptis. Kementerian Luar Negeri Iran menolak memberikan komentar resmi, namun seorang pejabat pemerintah Iran yang berbicara kepada CNBC menyebut pernyataan Trump “menyesatkan”.
Menurut pejabat tersebut, Iran sejak lama merupakan anggota Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) dan secara resmi selalu menyatakan program nuklirnya semata untuk tujuan damai.
“Iran tidak pernah mencari senjata nuklir. Karena itu tidak ada hal baru dalam pernyataan bahwa Iran ‘setuju untuk tidak memiliki’ senjata nuklir,” kata pejabat itu.
Teheran menilai narasi bahwa Iran “baru setuju” tidak memiliki senjata nuklir dapat menciptakan kesan keliru seolah negara tersebut sebelumnya memang sedang mengembangkan persenjataan nuklir.
Di tengah silang pernyataan itu, diplomasi AS–Iran tetap berlangsung tidak menentu.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sehari sebelumnya mengatakan pembicaraan masih berjalan, meskipun media pemerintah Iran melaporkan komunikasi langsung dengan Washington sempat dihentikan beberapa hari sebelumnya.
Berbicara di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS pada Selasa, 2 Juni 2026, Rubio menyebut Iran kini mulai bersedia membicarakan sebagian aspek program nuklirnya—sesuatu yang menurut Washington sebelumnya sulit dicapai.
“Ada kemungkinan—bisa hari ini, besok, atau minggu depan—untuk pertama kalinya Iran bersedia menegosiasikan aspek tertentu dari program nuklir mereka,” kata Rubio.
Pesan yang saling bertentangan mengenai status negosiasi memang terus mewarnai konflik Timur Tengah dalam beberapa bulan terakhir. Washington menyebut jalur diplomasi masih terbuka, sementara sebagian pejabat dan media Iran berkali-kali menyatakan skeptisisme terhadap proses tersebut.
Isu nuklir Iran juga berkaitan erat dengan keamanan energi global. Konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 membuat pasar terus memantau nasib Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Awal pekan ini, media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran melaporkan Teheran mempertimbangkan penutupan penuh Selat Hormuz sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata.
Namun Trump menilai skenario itu kecil kemungkinan terjadi.
“Saya pikir itu bisa saja terjadi, tetapi saya kira kemungkinannya kecil. Saya rasa situasi ini akan selesai cukup cepat,” ujarnya.
Meski ketegangan masih berlangsung, pasar energi mulai membaca peluang deeskalasi. Harga minyak dunia tetap bertahan tinggi tetapi masih berada di bawah US$ 100 per barel, mencerminkan kombinasi antara premi risiko geopolitik dan harapan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Bagi investor global, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa isu nuklir Iran kini kembali menjadi titik sentral diplomasi Timur Tengah. Pertanyaannya bukan lagi apakah negosiasi akan berlanjut, melainkan apakah kesediaan berdialog dapat diterjemahkan menjadi kesepakatan yang benar-benar permanen dan mampu meredakan risiko geopolitik kawasan.

