Timor-Leste Desak ASEAN Gencar Dialog dengan Militer Myanmar Tanpa Tunggu Demokrasi Pulih
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Presiden Timor-Leste, José Ramos-Horta, mendesak Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk terus melanjutkan dialog intensif secara langsung dengan otoritas militer Myanmar. Menurutnya, langkah diplomasi aktif tersebut harus tetap berjalan guna meredakan krisis multidimensi yang tengah melanda negara itu, tanpa perlu menunggu pulihnya iklim demokrasi di sana.
"Perwakilan ASEAN harus menjalin dialog dengan pemimpin militer Myanmar karena untuk mengimplementasikan posisi ASEAN, kita harus berdialog dengan pemimpin Tatmadaw (militer Myanmar)," ujar Ramos-Horta usai menyampaikan kuliah kepemimpinan dalam acara Leadership Lecture yang digelar oleh Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Ramos-Horta menilai, komunikasi dua arah yang pragmatis jauh lebih efektif demi mendorong realisasi komitmen perdamaian di lapangan.
Lebih lanjut, peraih Nobel Perdamaian ini mengapresiasi sejumlah respons positif yang sempat ditunjukkan junta militer Myanmar, termasuk kebijakan pemberian amnesti dan pembebasan sejumlah tahanan politik pada pertengahan April lalu.
Ia meminta agar momentum tersebut dijaga melalui Konsensus Lima Poin (5PC) yang telah disepakati para pemimpin ASEAN sebagai peta jalan penyelesaian krisis.
“Yang paling penting adalah untuk mendorong pemimpin Myanmar saat ini untuk melanjutkan apa yang telah mereka lakukan, seperti pembebasan tahanan politik,” tuturnya.
Baca Juga
Timor Leste Gelar Karpet Merah untuk Investor Asal Indonesia
Secara khusus, Ramos-Horta menyoroti kondisi tokoh demokrasi sekaligus mantan penasihat negara Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang kesehatannya dilaporkan terus menurun dan membutuhkan perhatian medis serius. Ia meminta otoritas Myanmar untuk menunjukkan aspek kemanusiaan dengan membebaskan Suu Kyi ke kediaman pribadinya.
“Tunjukkanlah jiwa kemানুsiaan dan bekerjasamalah dengan mediator, atau siapa pun yang mereka kehendaki, untuk membebaskan lebih banyak tahanan dan mendorong prosesnya secara dinamis,” kata Ramos-Horta.
Ramos-Horta menambahkan, apabila Myanmar mampu menunjukkan iktikad baik, memenuhi komitmennya dengan ASEAN, serta berhasil memperbaiki situasi keamanan domestik, dirinya tidak berkeberatan jika negara tersebut kembali dilibatkan secara penuh dalam seluruh agenda strategis organisasi regional tersebut.
Di sisi lain, isu seputar masa depan Myanmar di Asia Tenggara masih terus bergulir dinamis di tingkat internal organisasi. Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, menyatakan bahwa dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN sebelumnya, para pemimpin se-Asia Tenggara pada dasarnya telah sepakat untuk memperjuangkan tercapainya konsensus yang solid terkait isu Myanmar.
Meski begitu, Kao Kim Hourn mengakui bahwa ruang pembahasan masih sangat terbuka lebar di antara negara-negara anggota untuk merumuskan langkah konkret dan taktis selanjutnya yang perlu ditempuh bagi Myanmar.

