Iran Tolak Dialog dengan AS dan Ancam Kuasai Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Iran dilaporkan menghentikan seluruh komunikasi tidak langsung dengan Amerika Serikat (AS), menolak dialog dengan negara adidaya itu dan mengancam memblokir sepenuhnya Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Langkah ini memicu lonjakan harga minyak global dan memperbesar kekhawatiran pasar terhadap pecahnya eskalasi baru perang yang kini memasuki bulan keempat.
Laporan tersebut pertama kali disampaikan media pemerintah Iran yang berafiliasi dengan negara, Tasnim News Agency, Senin (1/6/2026), dan dikutip CNBC dalam laporan yang ditayangkan pada hari yang sama pukul 09.33 EDT atau sekitar 20.33 WIB. Reuters juga melaporkan perkembangan serupa beberapa jam kemudian.
Baca Juga
Ketegangan AS-Iran Mereda, 3 Kripto 'Made in USA' Ini Siap Tancap Gas
Menurut Tasnim, tim negosiator Iran tidak lagi akan bertukar pesan dengan Washington melalui mediator sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata yang dinilai terus berlangsung, terutama terkait operasi militer Israel di Lebanon terhadap kelompok Hezbollah yang didukung Teheran.
“Tidak akan ada dialog” sampai Israel menarik diri sepenuhnya dari wilayah Lebanon yang diduduki serta menghentikan seluruh serangan di Lebanon dan Gaza, demikian laporan Tasnim. Iran bahkan meningkatkan tekanannya dengan ancaman menutup sepenuhnya Selat Hormuz dan membuka front tekanan lain, termasuk Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Tasnim menyebut langkah tersebut sebagai upaya “menghukum Zionis dan para pendukungnya”.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa gencatan senjata antara Iran dan AS berlaku di semua front konflik, termasuk Lebanon. Dalam unggahan di platform X pada Senin pagi, Araghchi menulis bahwa pelanggaran di satu front berarti pelanggaran terhadap keseluruhan gencatan senjata. Ia menyalahkan AS dan Israel atas konsekuensi yang mungkin timbul akibat pelanggaran tersebut.
Peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menggelar rapat di Situation Room Gedung Putih guna memutuskan apakah Washington akan menerima proposal kesepakatan dengan Iran untuk setidaknya menghentikan sementara konflik. Namun, pertemuan itu berakhir tanpa keputusan final. Dalam beberapa hari setelahnya, AS dan Iran kembali melancarkan serangan satu sama lain, sementara Israel meningkatkan ofensif militernya di Lebanon. Reuters melaporkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin memerintahkan serangan terhadap kawasan pinggiran Beirut yang dikuasai Hezbollah.
Baca Juga
Trump Perketat Syarat Damai Iran, Negosiasi Nuklir Kembali Buntu
Pasar energi bereaksi keras. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 7% setelah laporan Tasnim muncul dan memicu kekhawatiran runtuhnya jalur diplomasi. Brent crude mendekati US$ 97 per barel, sementara WTI juga melonjak tajam setelah sebelumnya sempat turun dalam beberapa pekan terakhir karena optimisme terhadap peluang perdamaian.
Selat Hormuz selama ini merupakan jalur vital perdagangan energi global. Sebelum perang pecah pada 28 Februari 2026, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi perairan sempit tersebut. Namun sejak konflik dimulai, lalu lintas kapal di Hormuz merosot tajam akibat ancaman Iran dan blokade balasan AS. Dari lebih 100 kapal per hari pada masa normal, kini hanya sebagian kecil kapal yang masih berani melintas.
Risiko geopolitik juga bertambah dengan ancaman Iran terhadap Selat Bab el-Mandeb, choke point penting perdagangan dunia yang menghubungkan Laut Merah dan Samudra Hindia. Gangguan pada dua jalur pelayaran ini berpotensi memicu krisis energi dan logistik global.
Sejumlah analis energi memperingatkan bahwa memburuknya hubungan AS-Iran dapat kembali mendorong harga minyak ke level tiga digit. Rystad Energy sebelumnya bahkan memperkirakan harga minyak berpotensi menembus US$ 180 per barel pada Agustus jika konflik kembali mengalami eskalasi besar.
Meski demikian, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terhadap laporan Tasnim. Komando Pusat AS (CENTCOM) juga menolak berkomentar. Di sisi lain, Presiden Trump melalui Truth Social pada Senin pagi tetap menunjukkan optimisme bahwa kesepakatan dengan Iran masih mungkin tercapai.
“Iran benar-benar ingin membuat kesepakatan,” tulis Trump, sambil meminta para pengkritiknya “duduk santai dan rileks” karena menurutnya semuanya akan berakhir baik. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa diplomasi Timur Tengah masih jauh dari kata stabil. Ancaman Iran terhadap Hormuz dan Bab el-Mandeb bukan sekadar retorika militer, melainkan juga sinyal bahwa perang kini tidak lagi hanya dipertaruhkan di medan tempur, tetapi juga di jalur perdagangan dan energi global.

