Iran Kuasai Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Selat Hormuz hingga Kamis (15/05/2026) masih menjadi titik paling panas dalam konfrontasi Amerika Serikat dan Iran. Di tengah gencatan senjata parsial yang rapuh, Iran menegaskan kendalinya atas jalur pelayaran energi paling strategis di dunia tersebut dan mengancam kapal-kapal asing yang melintas tanpa mengikuti prosedur baru yang ditetapkan Garda Revolusi Iran atau IRGC.
Perkembangan terbaru yang dirangkum dari berbagai laporan media internasional pada Kamis (15/05/2026) menunjukkan ketegangan di Selat Hormuz masih jauh dari mereda meski upaya diplomatik terus berlangsung. Laporan Al Jazeera Live yang dipublikasikan Kamis (15/05/2026) menyebut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran akan bertindak sebagai “satu-satunya pelindung keamanan” di Selat Hormuz. Iran juga mewajibkan kapal asing mengikuti protokol transit baru yang ditetapkan IRGC.
Dalam beberapa pekan terakhir, Iran disebut menutup akses Selat Hormuz bagi banyak kapal asing, menahan sejumlah kapal, serta memaksa kapal lain meminta izin sebelum melintas. Di sisi lain, militer Amerika Serikat tetap menjalankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
United States Central Command (CENTCOM) mengklaim telah menghancurkan sekitar 90% ranjau laut Iran dan secara signifikan melemahkan kemampuan angkatan laut Teheran. Namun CENTCOM mengakui Iran masih memiliki kemampuan untuk mengancam pelayaran internasional dan lalu lintas energi global.
Ketegangan diplomatik juga belum menunjukkan titik terang. Iran dilaporkan telah mengirim respons terhadap proposal gencatan senjata AS melalui Pakistan, tetapi negosiasi masih berlangsung alot. Presiden AS Donald Trump bahkan menuding Iran “sedang bermain-main” dalam proses diplomasi.
Baca Juga
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perang “belum berakhir” dan menuntut penghancuran total kemampuan nuklir serta jaringan proksi Iran di Timur Tengah.
Konflik AS-Israel versus Iran sendiri kini telah memasuki hari ke-77 sejak dimulai pada 28 Februari 2026 melalui serangan gabungan AS dan Israel terhadap target-target Iran. Meski gencatan senjata parsial berlaku sejak 8 April 2026, bentrokan militer dan serangan sporadis masih terus terjadi.
Situasi di Selat Hormuz memicu kekhawatiran besar pasar global karena jalur sempit tersebut menjadi titik transit sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ancaman gangguan pengiriman energi membuat volatilitas harga minyak dan gas global meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Reuters sebelumnya melaporkan sejumlah perusahaan pelayaran internasional mulai mengurangi aktivitas di kawasan Teluk Persia akibat meningkatnya risiko keamanan dan ketidakpastian terkait prosedur transit Iran di Hormuz.
Sementara CNBC dalam laporan yang tayang Jumat (15/5/2026) menyebut pasar minyak kehilangan sekitar 10 juta barel per hari pasokan dari Teluk Persia akibat gangguan di Selat Hormuz. Namun lonjakan harga minyak berhasil diredam sebagian oleh peningkatan ekspor AS dan penurunan impor minyak China.
BBC News juga menyoroti bahwa sejumlah negara kawasan mulai mengikuti prosedur transit yang ditetapkan Iran demi menjaga kelancaran perdagangan energi dan menghindari konfrontasi langsung dengan Teheran.
Di tengah situasi tersebut, pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan ini turut membahas pembukaan kembali Selat Hormuz. Gedung Putih menyatakan kedua pemimpin sepakat bahwa jalur pelayaran tersebut harus tetap terbuka untuk menjaga arus bebas energi global.
Meski demikian, hingga pertengahan Mei 2026, belum ada kepastian kapan lalu lintas pelayaran internasional di Selat Hormuz dapat benar-benar kembali normal seperti sebelum perang.

