IRGC Ancam “Kuburan bagi Agresor”
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust — Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas meski peluang perang terbuka antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai belum meningkat dalam waktu dekat. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan serangan baru AS terhadap Iran “tidak mungkin terjadi” karena lemahnya posisi lawan, namun menegaskan wilayah selatan Iran akan menjadi “kuburan bagi para agresor” jika konflik kembali meletus.
Pernyataan tersebut muncul di tengah rapuhnya gencatan senjata dan meningkatnya ketegangan setelah Iran menuduh Washington melakukan pelanggaran serius melalui serangan baru di wilayah selatan Iran. Dalam laporan langsung yang diterbitkan Rabu (27/5/2026), media Al Jazeera menyebut pejabat Iran mengecam apa yang mereka sebut sebagai “pelanggaran besar” terhadap kesepakatan penghentian konflik dan menyatakan bahwa kepercayaan terhadap Amerika Serikat kini “nol”.
Ketegangan terbaru dipicu oleh serangan AS di dekat kawasan strategis Selat Hormuz yang menurut Washington ditujukan pada lokasi peluncur rudal dan kapal yang dianggap mengancam pasukan Amerika. Namun Teheran menilai operasi tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata yang dapat menggagalkan proses diplomasi yang sedang berlangsung.
Sumber Reuters pada 26 Mei 2026 melaporkan bahwa pemerintah Iran menuduh AS menyerang target di Provinsi Hormozgan di selatan negara itu, sementara Washington menyebut operasi tersebut sebagai langkah defensif untuk melindungi personelnya di kawasan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pembicaraan menuju kesepakatan damai masih berlangsung namun dapat membutuhkan beberapa hari lagi.
Di tengah meningkatnya tensi, para pemimpin Iran memperkeras retorika. Laporan media internasional menyebut pemimpin tertinggi Iran memperingatkan bahwa AS kini “tidak memiliki tempat aman” apabila eskalasi terus berlanjut, menandai meningkatnya tekanan politik dan militer di kawasan Teluk.
Baca Juga
Lebanon Memanas, 31 Orang Tewas
Di saat diplomasi AS–Iran masih berjalan, front konflik lain di kawasan justru kembali memburuk. Serangan udara Israel di Lebanon selatan pada 26 Mei 2026 menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai sekitar 40 lainnya, bersamaan dengan peningkatan operasi militer serta perintah evakuasi terhadap sejumlah desa dan kota di wilayah selatan dan timur Lebanon.
Reuters melaporkan Israel melancarkan lebih dari 120 serangan udara dalam satu hari, menjadikannya salah satu gelombang pemboman paling intens dalam beberapa pekan terakhir. Operasi tersebut memperburuk gencatan senjata yang sebelumnya mulai dijajaki antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon.
Konflik Lebanon semakin memperumit upaya de-eskalasi regional karena Iran menuntut penghentian serangan Israel sebagai bagian dari penyelesaian lebih luas konflik Timur Tengah. Sementara itu, negosiasi mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan perpanjangan gencatan senjata masih berlangsung melalui mediasi negara-negara kawasan.
Baca Juga
Internet Iran Mulai Dipulihkan
Di tengah situasi keamanan yang belum stabil, pemerintah Iran mulai menunjukkan langkah normalisasi domestik. Wakil Presiden Iran, Mohammad Reza Aref, mengonfirmasi pemerintah telah mengambil “langkah pertama” untuk memulihkan akses internet penuh setelah pembatasan selama berbulan-bulan akibat konflik dan situasi keamanan nasional.
Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa pemerintah Iran berupaya menjaga stabilitas sosial dan ekonomi domestik, meski ancaman konflik regional masih membayangi.
Bagi pasar global, perkembangan di Timur Tengah tetap menjadi faktor utama penggerak harga energi dan sentimen risiko. Meski peluang perang baru antara AS dan Iran untuk sementara dinilai rendah oleh IRGC, kombinasi pelanggaran gencatan senjata, serangan di Lebanon, dan belum tercapainya kesepakatan permanen tetap membuat kawasan berada di bawah bayang-bayang eskalasi baru.

