IRGC Ancam Serang Basis AS, Israel Terus Bombardir Lebanon
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak menyerang kapal tanker minyak dan kapal dagang Iran di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz. IRGC menegaskan setiap serangan terhadap kapal Iran akan dibalas dengan serangan terhadap pangkalan militer AS dan “kapal musuh” di kawasan tersebut.
Peringatan keras itu disampaikan di tengah masih berlangsungnya gencatan senjata rapuh antara Iran dan Amerika Serikat, meskipun bentrokan sporadis masih terjadi di Selat Hormuz. Laporan tersebut disampaikan Al Jazeera Live dalam laporan yang dipublikasikan Minggu (10/5/2026).
Menurut laporan itu, IRGC menegaskan bahwa setiap agresi terhadap kapal tanker minyak Iran maupun kapal komersial Iran akan memicu respons militer langsung terhadap aset-aset AS di kawasan. Ancaman tersebut muncul setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim telah “melumpuhkan” empat kapal serta mencegah 58 kapal komersial keluar masuk pelabuhan Iran sejak operasi blokade dimulai pada 13 April 2026.
Baca Juga
CENTCOM sebelumnya menyatakan operasi maritim AS di Selat Hormuz dilakukan untuk menjaga keamanan pelayaran internasional setelah meningkatnya ancaman terhadap kapal-kapal dagang di jalur energi terpenting dunia tersebut. Namun Iran memandang operasi itu sebagai bentuk perang ekonomi dan pelanggaran terhadap kedaulatan maritimnya.
Di sisi lain, Israel terus melancarkan serangan udara ke Lebanon selatan. Al Jazeera melaporkan sedikitnya 24 orang tewas pada Sabtu (09/05/2026) akibat rentetan serangan udara Israel di sejumlah wilayah Lebanon. Salah satu serangan paling mematikan terjadi di desa Saksakieh, Lebanon selatan, yang menyebabkan banyak korban sipil dan kerusakan bangunan.
Serangan tersebut memperpanjang eskalasi militer Israel di Lebanon yang terus berlangsung meski tekanan internasional agar konflik kawasan tidak meluas semakin besar. Israel menyatakan operasi militernya menargetkan infrastruktur dan posisi kelompok Hizbullah yang dituding terus melancarkan serangan lintas perbatasan.
Baca Juga
Indonesia dan 12 Negara Kutuk Serangan Israel terhadap Global Sumud Flotilla
Laporan senada juga disampaikan Reuters yang menyebut bentrokan di sekitar Selat Hormuz masih berlangsung sporadis meskipun gencatan senjata Iran-AS secara formal masih bertahan. Reuters sebelumnya melaporkan Washington tetap optimistis Iran akan merespons proposal terbaru AS untuk mengakhiri perang dan melanjutkan perundingan damai melalui jalur diplomatik yang dimediasi Pakistan.
Sementara itu, BBC News melaporkan ketegangan di Selat Hormuz tetap menjadi ancaman utama bagi stabilitas energi global karena sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut. Ancaman Iran terhadap kapal-kapal komersial dan operasi blokade AS dinilai berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia apabila konflik kembali membesar.
Adapun CNBC sebelumnya melaporkan pasar energi global masih sangat sensitif terhadap perkembangan konflik Iran-AS, terutama terkait kemungkinan terganggunya distribusi minyak mentah dari Timur Tengah. Investor global terus memantau situasi di Selat Hormuz karena jalur tersebut merupakan urat nadi perdagangan energi internasional.
Meski gencatan senjata Iran-AS sejauh ini masih bertahan, berbagai pihak menilai situasi di Timur Tengah tetap sangat rapuh. Ancaman IRGC terhadap aset AS, operasi militer Israel di Lebanon, serta ketegangan di Selat Hormuz menunjukkan risiko eskalasi besar masih membayangi kawasan tersebut dan berpotensi kembali mengguncang pasar energi serta ekonomi global.

