Global Sumud Flotilla Ungkap Strategi Hukum Pembebasan 428 Aktivisnya
Poin Penting
|
TANGERANG, investortrust.id - Steering Committee Global Sumud Flotilla sekaligus Koordinator Dewan Pengarah Global Peace Convoy Maimon Herawati mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan sistem pengamanan hukum berlapis bagi para aktivis kemanusiaan yang sempat diculik oleh pasukan Israel (IDF) di perairan internasional.
Hal itu diungkapkan Maimon saat menyambut sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung sebagai relawan dalam misi kemanusiaan internasional, Global Sumud Flotilla 2.0 yang akhirnya berhasil dipulangkan dan tiba dengan selamat di Tanah Air, Ia menyambubt para relawan pada Minggu (24/5/2026) sore di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng.
Maimon menjelaskan bahwa panitia pusat telah mengantisipasi penahanan para aktivis sejak awal, dan langsung menerjunkan tim kuasa hukum begitu mereka dibawa ke Ashdod.
"Global Sumud Flotilla sudah membuat sebuah sistem di mana pada saat penculikan, kami (sudah) tahu teman-teman dibawa ke mana. Termasuk (dibawa) ke Ashdod, kami sudah tahu sebelumnya. Lalu yang juga kami siapkan adalah kuasa hukum, surat kuasa hukum dari "Adalah", sehingga teman-teman selalu dilindungi di mana pun berada melalui kuasa hukum. Ini yang menyebabkan Alhamdulillah, sampai di Ashdod. Tim kuasa hukum langsung menemui semua partisipan Global Sumud Flotilla yang diculik di perairan internasional, sebanyak 428 orang dari 50 negara," ujar Maimon.
"Adalah" merupakan lembaga bantuan hukum untuk hak-hak Arab di Israel. Lembaga ini bertindak sebagai tim kuasa hukum yang mendampingi para relawan dan aktivis Global Sumud Flotilla yang diculik oleh aparat Israel.
Menurutnya, berkat penanganan taktis dari tim hukum "Adalah", ratusan aktivis dari puluhan negara tersebut berhasil dibebaskan, karena tidak melakukan pelanggaran hukum apa pun.
Selain faktor hukum, Maimon juga mengapresiasi kontribusi besar dari pemerintah Turkiye dalam memfasilitasi proses evakuasi dan logistik para peserta pasca-pembebasan agar bisa dipusatkan di satu titik.Ia menyebut awalnya Turkiye hanya bersedia memulangkan warga negaranya yang menjadi peserta misi kemanusiaan. Namun belakangan negara tersebut bersedia untuk menyediakan tiga pesawat untuk mengangkut seluruh aktivis dan dibawa ke Istanbul. "Saya merasa bahwa Turkiye, behind the scene banyak membantu," kata Maimon. Ia pun mengapresiasi pemerintah Turkiye yang menyediakan akomodasi penginapan bagi para aktivis, termasuk layanan medical check-up.
Baca Juga
Pemerintah Indonesia Kutuk Aksi Israel Tahan Relawan Sipil Global Sumud Flotilla 2.0
Langkah perjuangan Global Sumud Flotilla tidak berhenti pada pembebasan aktivis. Maimon menegaskan bahwa saat ini fokus GSF telah beralih pada upaya hukum pidana internasional guna menyeret para petinggi militer dan politik Israel ke pengadilan. Hal ini merujuk pada sejumlah sanksi dan perintah penangkapan yang sudah mulai diterbitkan oleh sotoritas internasional.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Membangun kasus untuk dibawa ke pengadilan. Sudah ada 35 arrest warrant, perintah tangkap kepada IDF dan pemimpin-pemimpinnya karena terkait dengan gerakan Sumud. Berbagai pelanggaran yang mereka lakukan, dan akan semakin banyak tentunya. Sudah dibuat satu lagi sanksi tidak boleh datang ke Prancis, khusus untuk Ben-Gvir (Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir). Ini adalah sebuah usaha yang saya rasa harus dilanjutkan," tegasnya.
Baca Juga
Soroti Nasib 9.000 Lebih Tahanan Palestina
Meskipun mengucap syukur atas keselamatan para aktivis flotilla, Maimon mengingatkan dunia internasional bahwa penderitaan yang dialami para relawan asing selama empat hari di penjara tidak sebanding dengan kekejaman sistemis yang dihadapi oleh ribuan warga asli Palestina yang ditahan tanpa kepastian hukum.
Maimon membeberkan sejumlah nama tenaga medis yang menjadi korban, serta mengkritik tajam sistem penahanan sepihak (administrative detention) yang diterapkan oleh Israel.
"Pada saat teman-teman kami di dalam penjara empat hari, yang harus kita lihat 9.000 lebih bangsa Palestina masih mendekam dalam penjara. Penyiksaan yang dialami oleh teman-teman saya, itu belum seberapa dibandingkan penyiksaan yang dialami oleh bangsa Palestina," jelasnya.
Lebih jauh, Maimon meminta rekan-rekan media untuk terus menyuarakan isu kemanusiaan ini, terutama terkait nasib ratusan anak-anak dan perempuan Palestina yang masih disekap di balik jeruji besi. Ia menegaskan bahwa misi utama dari pelayaran kemanusiaan ini adalah kemerdekaan mutlak bagi para tahanan Palestina.
"9.000 lebih saat ini dalam penjara dan saya harap teman-teman media menghighlight ini semua. 400 di antaranya adalah anak-anak. Lebih dari 200 adalah perempuan. Dan semua mengalami penyiksaan yang di luar batas kemanusiaan. Mohon ini kemudian menjadi, kami berangkat adalah karena kami ingin membebaskan tahanan Palestina. Maka kerja belum selesai. Kerja belum selesai sampai seluruh tahanan Palestina bebas," pungkasnya.

