Momen Aksi Kamisan 21 Mei: Titik Temu Solidaritas Isu Pelanggaran HAM dan Kemanusiaan Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Aksi Kamisan yang digelar di depan Istana Negara, Jakarta, pada Kamis (21/5/2026) kembali menjadi wadah bagi para aktivis untuk menyuarakan berbagai isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), mulai dari tragedi masa lalu Indonesia hingga krisis kemanusiaan internasional.
Aktivis Advokasi Internasional KontraS, Nadine Shefira, menjelaskan Aksi Kamisan berfungsi sebagai platform solidaritas bagi berbagai isu yang saling berkaitan. Tahun ini, perhatian khusus diberikan kepada 9 WNI yang tergabung dalam misi *Global Freedom Flotilla* yang ditangkap oleh otoritas Israel.
"Kamisan memberikan platform kepada kawan-kawan yang tengah bersolidaritas untuk Global Freedom Flotilla di mana ada 9 WNI yang diculik, bukan hanya sekadar dicegat," kata Nadine kepada wartawan.
Nadine menegaskan meskipun Aksi Kamisan awalnya terbentuk dari kemarahan atas pelanggaran berat HAM masa lalu di Indonesia (periode 1960-1998) yang hingga kini ia sebut belum tuntas, forum ini tetap terbuka bagi isu kemanusiaan global yang berdampak pada warga negara Indonesia.
Menurutnya, aksi ini merupakan bentuk pengumpulan kekuatan kolektif dari mereka yang mengalami represi oleh otoritas. Keterkaitan antara isu domestik dan internasional seperti Palestina menunjukkan bahwa perjuangan hak asasi manusia bersifat universal.
Baca Juga
"Ini adalah sebuah forum untuk bertemu, bertukar cerita, dan saling mengumpulkan kekuatan untuk solidaritas berbagai isu HAM secara general," terangnya.
Salah satu pihak yang terlibat dalam Aksi Kamisan kali ini adalah Yayasan Dompet Dhuafa.
Aktivis Dompet Dhuafa, Suci N. Qadarsih, menegaskan keterlibatan mereka dalam aksi ini bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada delegasi kemanusiaan tersebut merupakan murni isu kemanusiaan, bukan isu agama.
"Teman-teman yang ikut berlayar di Global Freedom Flotilla membawa misi kemanusiaan dan bukan misi ilegal. Kami ingin mengajak masyarakat terlibat bahwa ini adalah isu kemanusiaan," ujar Suci.
Berdasarkan informasi terbaru dari Center Command di Istanbul, Suci mengungkapkan para delegasi, termasuk 9 WNI, telah dikeluarkan dari penjara detensi Israel. Namun, pihak keluarga dan kolega masih menunggu kepastian mengenai ke negara mana mereka akan dibawa sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia.
Suci menekankan pemerintah Indonesia tidak boleh hanya sekadar mengutuk tindakan tersebut. Diperlukan langkah diplomatik yang konkret dan cepat untuk mendesak pembebasan penuh para tahanan.
"Detik demi detik itu diperlukan bagi pemerintah Indonesia untuk mendesak pembebasan tahanan, terutama delegasi Indonesia. Butuh peran dari pemerintah dan banyak pihak untuk membebaskan kawan-kawan kita yang diculik," tegasnya.
