Semena-Mena, Iran Siapkan Tarif Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Iran mengumumkan segera mengungkap rencana pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz, termasuk kemungkinan penerapan pungutan atau tarif bagi kapal-kapal yang melintas di jalur energi paling strategis dunia tersebut. Laporan Al Jazeera Live yang dipublikasikan Minggu (17/05/2026) menyebut langkah Iran itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan perang Iran-AS-Israel dan ancaman baru terhadap stabilitas pasokan energi global.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global setiap harinya. Karena itu, setiap ancaman terhadap jalur tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar energi internasional.
Di saat bersamaan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran akan menghadapi “masa yang sangat buruk” apabila kesepakatan damai tidak segera tercapai. Peringatan Trump muncul setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan dunia saat ini “berdiri di ambang tatanan dunia baru”.
Baca Juga
Pernyataan tersebut memperlihatkan ketegangan geopolitik tidak lagi sekadar menyangkut konflik militer di Timur Tengah, tetapi mulai mengarah pada perebutan pengaruh global yang lebih luas. Selain ancaman di Selat Hormuz, situasi keamanan kawasan juga terus memburuk. Serangan Israel di Gaza dilaporkan menewaskan sedikitnya 11 warga Palestina dan melukai lebih dari 60 lainnya pada Sabtu (16/5/2026).
Israel juga terus melancarkan serangan ke wilayah Lebanon selatan. Militer Israel mengklaim telah menyerang sekitar 100 target dalam dua hari terakhir meski negosiator Lebanon dan Israel sepakat memperpanjang “gencatan senjata” selama tambahan 45 hari.
Reuters sebelumnya melaporkan ancaman Iran terhadap Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang membuat pasar minyak global tetap sangat sensitif meski harga minyak belum melonjak ekstrem seperti krisis energi masa lalu. Sementara CNBC menyebut Amerika Serikat dan China kini berupaya menjaga stabilitas pasar energi global dengan meningkatkan ekspor minyak dan mengurangi impor untuk menutup gangguan pasokan dari Teluk Persia.
Media Inggris BBC News juga menyoroti bahwa ancaman pungutan Iran di Selat Hormuz dapat memicu sengketa hukum internasional karena jalur tersebut selama ini dianggap sebagai international water atau perairan internasional yang tidak boleh dikontrol sepihak oleh satu negara. Sedangkan Bloomberg melaporkan para pelaku pasar mulai khawatir konflik Iran tidak lagi hanya berdampak pada harga minyak, tetapi juga terhadap inflasi global, suku bunga, dan stabilitas perdagangan internasional.
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, dunia kini menunggu apakah Iran benar-benar akan menerapkan tarif atau kontrol baru di Selat Hormuz, karena langkah itu berpotensi memicu konfrontasi lebih besar dengan Amerika Serikat dan sekutu Barat.
Skandal Internasional
Rencana Iran mengenakan tarif atau pungutan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz memicu penolakan luas dari Amerika Serikat, negara-negara Barat, serta pelaku industri pelayaran internasional. Langkah Iran akan menjadi skandal internasional.
Secara umum, sebagian besar negara besar dunia tidak setuju jika Iran secara sepihak mengenakan pungutan atau mengontrol penuh Selat Hormuz. Alasannya sederhana: Selat Hormuz dipandang sebagai jalur pelayaran internasional yang sangat vital bagi perdagangan dan energi global, mirip dengan Strait of Malacca atau Suez Canal.
Namun persoalannya tidak sesederhana “Iran melawan dunia”. Ada dimensi hukum laut internasional, perang, geopolitik, dan perebutan pengaruh global yang membuat situasinya jauh lebih rumit. Reuters melaporkan Amerika Serikat dan China bahkan telah mencapai kesepahaman bahwa tidak ada negara yang boleh mengenakan pungutan sepihak terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz. Pemerintah AS menegaskan jalur tersebut harus tetap terbuka dan bebas bagi lalu lintas energi global.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia. Sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati kawasan tersebut setiap hari.
Karena itu, banyak negara memandang Hormuz sebagai “international strait” atau selat internasional yang tunduk pada prinsip kebebasan navigasi internasional. Lembaga kajian Chatham House menjelaskan bahwa berdasarkan praktik hukum laut internasional modern, hak “transit passage” di selat internasional tidak boleh dihambat atau ditangguhkan sepihak oleh negara pantai.
Pandangan serupa juga muncul dalam berbagai kajian hukum maritim internasional. Lexology bahkan menyebut pengenaan pungutan transit di Selat Hormuz berpotensi melanggar prinsip dasar hukum laut internasional. Karena itu, dari sudut pandang Barat dan banyak negara pengguna energi, langkah Iran dianggap berlebihan, sepihak, dan berpotensi menciptakan preseden berbahaya bagi perdagangan global.
Bayangkan jika setiap negara yang memiliki selat strategis tiba-tiba mengenakan tarif sepihak atau menutup jalur internasional. Dunia perdagangan bisa lumpuh.
Amerika Serikat sangat keras menolak langkah tersebut karena Washington selama puluhan tahun menjadi penjaga utama prinsip “freedom of navigation”. Ironisnya, AS juga menggunakan prinsip yang sama untuk menentang klaim China di Laut China Selatan maupun Taiwan.
China sendiri sebenarnya juga tidak nyaman dengan langkah Iran. Beijing sangat bergantung pada minyak Timur Tengah dan sangat membutuhkan Selat Hormuz tetap terbuka. The Guardian melaporkan China meminta perlindungan terhadap kapal-kapal yang melintas di Hormuz karena lonjakan biaya energi dan gangguan logistik mulai memukul ekonomi Asia.
Baca Juga
Namun di sisi lain, posisi China juga ambigu. Beijing tetap menjaga hubungan strategis dengan Iran dan bahkan disebut mendapat perlakuan khusus untuk beberapa kapal China yang diizinkan melintas.
Iran sendiri memiliki argumen berbeda. Teheran menilai sebagian besar jalur Hormuz berada di wilayah perairan Iran dan Oman, sehingga Iran merasa memiliki hak keamanan dan pengawasan tertentu, terutama dalam kondisi perang. Masalahnya, mayoritas negara maritim besar dunia tidak menerima tafsir tersebut.
Karena itu, bila Iran benar-benar memaksakan pungutan atau pembatasan sepihak, Teheran memang berisiko berhadapan bukan hanya dengan AS, tetapi juga dengan kepentingan energi global, termasuk China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Eropa.
Tetapi menyebut Iran sekadar “konyol” juga terlalu menyederhanakan masalah. Dari sudut pandang Iran, Hormuz adalah satu-satunya kartu strategis terbesar yang mereka miliki untuk melawan tekanan militer dan ekonomi Barat.
Iran sadar mereka tidak mungkin mengalahkan Amerika Serikat secara konvensional. Karena itu strategi Iran adalah menaikkan biaya ekonomi global bila mereka ditekan atau diserang. Itulah sebabnya ancaman terhadap Hormuz selalu menjadi senjata geopolitik utama Iran selama puluhan tahun.
Persoalannya, semakin agresif Iran memainkan kartu Hormuz, semakin besar pula risiko negara itu kehilangan dukungan internasional dan mempercepat terbentuknya koalisi global untuk melawan Teheran. Dunia kini melihat pertarungan bukan sekadar soal selat, tetapi soal siapa yang berhak mengontrol jalur perdagangan dan energi global di era geopolitik baru.

