Trump dan Xi Sepakat Hindari “Thucydides Trap”
“Ketika dua negara terkuat dunia mulai berbicara tentang menghindari perang, dunia tahu bahwa situasi global sedang berada di titik paling berbahaya“.
Oleh: Primus Dorimulu
JAKARTA, Investortrust.id — Dunia akhirnya mendengar sesuatu yang sangat penting dari Beijing: Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sama-sama menyadari bahaya “Thucydides Trap”, jebakan sejarah yang selama berabad-abad kerap menyeret kekuatan lama dan kekuatan baru menuju perang besar.
Kesadaran itu muncul di tengah situasi global yang sangat rapuh. Timur Tengah terbakar akibat perang Iran. Selat Hormuz terguncang. Harga energi melonjak. Pasar finansial global bergetar. Pada saat seperti ini, keputusan dua negara adidaya akan menentukan arah masa depan dunia.
Karena itu, pertemuan Trump dan Xi di Beijing bukan sekadar diplomasi biasa. Ini adalah upaya dua superpower mengelola rivalitas agar tidak berubah menjadi konfrontasi terbuka yang dapat menghancurkan ekonomi global dan stabilitas internasional.
Sejarah menunjukkan hampir setiap kali muncul kekuatan baru yang menantang kekuatan dominan, konflik besar sulit dihindari. Yunani kuno menyaksikan perang antara Athena yang sedang bangkit melawan Sparta yang mapan. Dalam era modern, rivalitas Jerman-Inggris menjadi salah satu akar Perang Dunia I. Jepang bentrok dengan Amerika Serikat di Pasifik ketika Tokyo merasa harus memperluas pengaruhnya. Inilah yang oleh profesor Harvard Graham Allison disebut sebagai “Thucydides Trap”.
Kini dunia melihat pola serupa antara Amerika Serikat (AS) dan China. AS masih menjadi kekuatan dominan dunia, sementara China tumbuh sangat cepat menjadi rival ekonomi, teknologi, industri, bahkan militer yang mampu menandingi Washington di berbagai bidang strategis.
Namun berbeda dengan era Perang Dingin, rivalitas AS-China saat ini berlangsung dalam kondisi saling ketergantungan ekonomi yang sangat dalam. Kedua negara bukan hanya lawan strategis, tetapi juga mitra dagang terbesar dunia. Karena itu, perang terbuka akan menjadi bencana bersama.
Kesadaran inilah yang tampaknya mulai dipahami Trump dan Xi. Pertemuan di Beijing memperlihatkan kedua pemimpin mencoba membangun “strategic stability” atau stabilitas strategis untuk beberapa tahun ke depan. Itu adalah sinyal penting bahwa Washington dan Beijing mulai memahami dunia tidak sanggup menanggung perang besar baru antara dua negara superpower.
Langkah Trump membawa para pengusaha teknologi dan bisnis besar Amerika ke Beijing juga mengandung pesan yang sangat jelas: kompetisi boleh berlanjut, tetapi jalur kerja sama ekonomi dan teknologi harus tetap terbuka. Dunia modern terlalu terintegrasi untuk dipisahkan secara total.
Kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, energi, rare earth, hingga perdagangan digital kini menjadi medan persaingan utama kedua negara. Tetapi pada saat yang sama, semua sektor itu juga membutuhkan kerja sama global agar ekonomi dunia tetap berjalan.
Dalam konteks itu, hubungan AS-China sebenarnya bukan hubungan yang benar-benar baru. Kedua negara memiliki sejarah panjang yang penuh pasang surut. Dari diplomasi “Ping Pong” era Richard Nixon dan Mao Zedong pada 1970-an, normalisasi hubungan dagang, masuknya China ke WTO, hingga era globalisasi modern, hubungan Washington-Beijing telah menjadi salah satu fondasi ekonomi dunia selama puluhan tahun. Karena itu, sangat berbahaya bila rivalitas tersebut berubah menjadi konflik total.
Perang Iran saat ini justru memperlihatkan betapa dunia membutuhkan koordinasi AS-China. Ketika Selat Hormuz terganggu dan pasokan energi global terancam, Washington dan Beijing akhirnya memiliki kepentingan yang sama: menjaga jalur energi dunia tetap terbuka.
Di titik inilah posisi Iran juga perlu dipahami secara realistis. Selat Hormuz bukan milik satu negara. Jalur itu adalah international water yang menjadi urat nadi energi global. Tidak boleh ada negara yang mengklaim sepihak bahwa jalur tersebut miliknya sendiri atau menjadikannya alat pungutan politik dan ekonomi.
Iran tentu memiliki hak mempertahankan keamanan nasionalnya. Tetapi dunia juga memiliki hak menjaga kebebasan navigasi internasional. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati Hormuz. Bila jalur itu ditutup atau dijadikan alat tekanan geopolitik, maka dampaknya bukan hanya terhadap Barat, melainkan juga Asia, Eropa, Afrika, hingga negara berkembang seperti Indonesia.
Karena itu, kesepakatan Trump dan Xi mengenai pentingnya membuka Selat Hormuz menjadi salah satu hasil paling strategis dari pertemuan Beijing. Dunia membutuhkan stabilitas, bukan eskalasi tanpa akhir.
Tentu rivalitas AS-China tidak akan hilang begitu saja. Persaingan teknologi, Taiwan, Laut China Selatan, perdagangan, dan AI akan tetap menjadi sumber ketegangan besar. Namun sejarah menunjukkan dunia jauh lebih aman ketika dua kekuatan besar memilih mengelola persaingan dibanding mempertaruhkan kehancuran bersama.
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, kesadaran untuk menghindari “Thucydides Trap” mungkin menjadi salah satu kabar paling penting tahun ini.
Sejarah tidak pernah melarang dua superpower bersaing. Tetapi sejarah berkali-kali menghukum mereka yang gagal mengendalikan rivalitasnya.

