Xi ke Trump: Hindari Perang AS-China
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden China Xi Jinping mempertanyakan secara langsung kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump apakah Washington dan Beijing mampu menghindari “Thucydides Trap” atau jebakan Thucydides, konsep yang menggambarkan potensi perang antara kekuatan lama dan kekuatan baru yang sedang bangkit.
Pernyataan itu disampaikan Xi saat membuka pertemuan tingkat tinggi dengan Trump di Beijing, Kamis (14/05/2026) pagi waktu China atau Kamis (14/05/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Pertemuan tersebut menjadi awal dari KTT dua hari yang membahas perdagangan, tarif, Taiwan, Iran, kecerdasan buatan (AI), hingga keamanan global. Informasi itu dilaporkan CNBC dalam artikel yang dipublikasikan Rabu (13/05/2026) pukul 22.31 EDT atau Kamis (14/05/2026) pukul 09.31 WIB.
Dalam sambutan pembuka yang disiarkan media pemerintah China CCTV, Xi mengatakan dunia sedang memperhatikan hubungan dua negara ekonomi terbesar dunia tersebut. Ia kemudian mengangkat pertanyaan strategis apakah AS dan China dapat menghindari “Thucydides Trap”.
Baca Juga
Perang AS vs Iran Bakal Jadi Topik Utama Pertemuan Trump dan XI Jinping
Konsep itu merujuk pada teori sejarah yang menjelaskan bahwa ketegangan antara kekuatan dominan dan kekuatan baru sering kali berujung pada perang. Istilah tersebut dipopulerkan profesor Harvard Graham Allison melalui kajiannya mengenai rivalitas geopolitik antara negara besar.
“Pertanyaan utama bagi kedua negara adalah apakah kita dapat menghindari Thucydides Trap,” kata Xi sebagaimana dikutip CNBC.
Trump dalam kesempatan yang sama menyatakan optimisme bahwa hubungan AS-China akan menjadi “lebih baik dari sebelumnya”. Trump juga mengatakan dirinya dan Xi telah saling mengenal lebih lama dibandingkan hubungan pribadi presiden AS dan China sebelumnya.
Pertemuan Trump-Xi kali ini dinilai sangat penting karena berlangsung di tengah meningkatnya rivalitas strategis kedua negara, terutama setelah perang tarif, pembatasan teknologi chip dan AI, serta ketegangan terkait Taiwan dan Laut China Selatan.
Menurut media pemerintah China, Xi kembali menegaskan bahwa Taiwan merupakan isu paling sensitif dalam hubungan AS-China. Ia memperingatkan bahwa jika isu Taiwan tidak ditangani dengan hati-hati, maka hubungan bilateral dapat masuk ke situasi yang “berbahaya”.
Taiwan selama ini menjadi salah satu sumber utama ketegangan antara Beijing dan Washington. China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sedangkan pemerintah Taiwan menolak klaim tersebut dan tetap mempertahankan sistem demokrasi serta pemerintahan sendiri.
Selain Taiwan, perang Iran dan keamanan energi global juga menjadi agenda penting pembicaraan kedua pemimpin. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kedua pihak sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka demi menjaga kelancaran arus energi global. Xi juga disebut tertarik meningkatkan pembelian minyak dari AS guna mengurangi ketergantungan China terhadap jalur Hormuz di masa depan.
Trump dan Xi juga membahas peningkatan pembelian produk pertanian AS oleh China, yang dipandang sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan dagang kedua negara.
Reuters dalam laporan terpisah pada Kamis (14/05/2026) menyebutkan bahwa Washington dan Beijing tengah menjajaki pengurangan tarif secara bertahap terhadap sejumlah produk non-strategis senilai puluhan miliar dolar AS. Reuters juga melaporkan bahwa kedua negara mempertimbangkan pembentukan mekanisme perdagangan baru guna menjaga stabilitas hubungan ekonomi di tengah rivalitas geopolitik yang semakin tajam.
Sementara itu, BBC melaporkan Beijing memberikan sambutan kenegaraan besar kepada Trump, mulai dari penghormatan militer, karpet merah, anak-anak yang menyambut, hingga tur bersama Xi ke Temple of Heaven. Dalam tradisi diplomasi China, sambutan semacam itu dipandang sebagai sinyal penting mengenai penghormatan politik dan upaya menjaga hubungan bilateral tetap stabil.
Meski demikian, berbagai analis menilai rivalitas struktural AS-China tetap sulit dihindari. Scott Kennedy, penasihat senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan posisi China saat ini jauh lebih percaya diri dibandingkan tahun 2017 saat Trump pertama kali berkunjung ke Beijing.
Baca Juga
Harga Emas Melemah di Tengah Tekanan Inflasi, Pasar Tunggu Pertemuan Trump-Xi
“China datang ke pertemuan ini dengan rasa percaya diri yang jauh lebih besar dibandingkan 2017,” kata Kennedy dikutip CNBC.
Menurut dia, dalam setahun terakhir Xi berhasil menahan dan menetralkan sebagian besar tekanan kebijakan Trump, termasuk tarif perdagangan dan pembatasan teknologi.
Hubungan AS-China sendiri terus memanas sejak China menjadi negara besar pertama yang melakukan pembalasan terhadap kebijakan tarif “Liberation Day” Trump pada April 2025. Rivalitas kedua negara kemudian meluas ke sektor AI, semikonduktor, rare earth, keamanan regional, hingga konflik Timur Tengah.

