Bursa Eropa Menguat, Investor Soroti Pertemuan Trump-Xi Jinping
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id - Bursa saham Eropa menguat pada Rabu (13/5/2026) Pelaku pasar kembali masuk ke aset berisiko menyusul meredanya tekanan di pasar obligasi Inggris dan optimisme terhadap sejumlah laporan keuangan korporasi besar Eropa.
Baca Juga
Harapan Damai AS-Iran Memudar, Pasar Eropa dan Obligasi Inggris Bergejolak
Dikutip dari CNBC, indeks pan-Eropa Stoxx 600 ditutup naik 0,7%, dengan mayoritas sektor dan bursa utama berada di zona hijau setelah sehari sebelumnya mengalami tekanan akibat ketidakpastian geopolitik dan gejolak politik di Inggris.
Pasar obligasi Inggris atau gilt sempat mengalami volatilitas tajam setelah investor khawatir disiplin fiskal pemerintah dapat memburuk apabila kepemimpinan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer melemah.
Imbal hasil gilt tenor dua tahun turun 6 basis poin pada Rabu sore waktu London, sementara obligasi tenor panjang turun sekitar 3 hingga 4 basis poin. Penurunan yield tersebut menandakan meredanya kepanikan investor setelah lonjakan tajam sehari sebelumnya.
Namun, tekanan terhadap Starmer belum sepenuhnya reda. Laporan BBC menyebut sejumlah sekutu politik Menteri Kesehatan Inggris, Wes Streeting, memperkirakan ia akan meluncurkan tantangan kepemimpinan terhadap Starmer dalam waktu dekat.
Situasi politik memanas setelah Partai Buruh mencatat hasil buruk dalam pemilu lokal pekan lalu. Meski demikian, Starmer menegaskan dirinya tidak akan mundur dan tetap fokus menjalankan pemerintahan.
Di sisi korporasi, sejumlah emiten besar Eropa merilis laporan keuangan, termasuk Allianz, Deutsche Telekom, Zurich Insurance, Siemens, hingga Porsche.
Salah satu sorotan utama datang dari Siemens yang mengumumkan program pembelian kembali saham (buyback) senilai 6 miliar euro untuk lima tahun ke depan. Langkah itu diumumkan setelah perusahaan otomasi industri asal Jerman tersebut membukukan laba bersih kuartal pertama sebesar 2,03 miliar euro, melampaui perkiraan analis.
Saham Siemens akhirnya ditutup menguat meski sempat melemah di awal sesi perdagangan.
Sentimen pasar global juga dipengaruhi perkembangan geopolitik, terutama terkait pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.
Baca Juga
Pertemuan tersebut diperkirakan membahas isu perdagangan serta konflik Iran. Trump sebelumnya menyebut gencatan senjata antara AS dan Iran berada dalam kondisi “sangat rapuh” setelah menolak proposal terbaru Teheran untuk mengakhiri konflik.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Trump tidak memerlukan persetujuan Kongres untuk melanjutkan serangan terhadap Iran, meski pemerintahan AS telah melewati batas waktu 60 hari sebagaimana diatur dalam undang-undang kewenangan perang federal.
Di AS, indeks harga produsen (PPI) April melonjak 1,4%, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 0,5%, memicu kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.

