Bagikan

Yield Treasury AS Melonjak, Pasar Waspadai Konflik Iran dan Inflasi

Poin Penting

Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik seiring memburuknya negosiasi damai Iran.
Investor menanti data inflasi AS yang diperkirakan kembali meningkat pada April.
Harga minyak mendekati US$100 per barel akibat kekhawatiran konflik Timur Tengah.
The Fed menilai pasar tenaga kerja AS masih stabil meski perekrutan tetap lemah.

NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) bergerak naik. Investor mencermati perkembangan geopolitik terkait perang Iran serta bersiap menghadapi rilis data inflasi terbaru AS.

Baca Juga

Trump: Proposal Damai Iran Benar-Benar Tidak Dapat Diterima

Kenaikan yield juga terjadi menjelang pertemuan Presiden Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan ini, yang diperkirakan membahas perdagangan hingga geopolitik global.

Dikutip dari CNBC, Selasa (12/5/2026), yield obligasi Treasury tenor 10 tahun — acuan utama biaya pinjaman pemerintah AS — naik lebih dari 4 basis poin menjadi 4,41%.

Yield Treasury tenor 2 tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed), naik lebih dari 5 basis poin ke level 3,951%. Yield obligasi tenor panjang 30 tahun juga meningkat lebih dari 3 basis poin menjadi 4,98%.

Pasar obligasi tertekan setelah situasi perang Iran kembali memburuk. Optimisme pasar yang sempat muncul pekan lalu memudar setelah Presiden Donald Trump menolak proposal balasan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan.

Trump menyebut proposal Iran “sama sekali tidak dapat diterima”, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya “tidak akan pernah tunduk” kepada musuh-musuhnya.

Di pasar energi, harga minyak kembali mendekati US$100 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 2,78% menjadi US$98,07 per barel.

Fokus investor pekan ini juga tertuju pada laporan indeks harga konsumen (CPI) April yang dijadwalkan rilis Selasa pagi waktu AS.

Baca Juga

Inflasi AS Melonjak Gara-gara Perang Iran

Ekonom yang disurvei FactSet memperkirakan inflasi tahunan AS naik menjadi 3,7% dari 3,3% pada Maret. Sementara inflasi inti — yang tidak memasukkan harga pangan dan energi — diperkirakan naik menjadi 2,7% dari 2,6%.

Angka tersebut masih jauh di atas target inflasi Federal Reserve sebesar 2%.

Kepala ekonom Wolfe Research Stephanie Roth mengatakan kenaikan harga pangan dan energi akan terus menekan inflasi utama. “Pemulihan mekanis pada biaya sewa dan owner equivalent rent setelah penutupan pemerintahan Oktober 2025 juga akan memberikan tekanan tambahan pada inflasi inti,” tulis Roth.

Ia juga menyoroti kenaikan tarif penerbangan akibat lonjakan harga bahan bakar jet serta potensi kenaikan harga kendaraan bekas.

Di sisi lain, pasar tenaga kerja AS menunjukkan kinerja lebih baik dari perkiraan pada April. Nonfarm payrolls tercatat naik 115.000, meski lebih rendah dibanding kenaikan 185.000 pada Maret, namun masih jauh di atas proyeksi ekonom sebesar 55.000. Tingkat pengangguran tetap stabil di level 4,3%.

Baca Juga

Payroll AS Lampaui Ekspektasi, tapi Sinyal Pelemahan Ekonomi Mulai Membayangi

Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee menyebut pasar tenaga kerja AS stabil meski belum bisa disebut kuat. “Belum banyak bukti bahwa pasar tenaga kerja sedang runtuh, tetapi tingkat perekrutan memang masih rendah,” ujarnya kepada CNBC.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024