Bagikan

Trump: Iran Ingin Damai atau Perang

Poin Penting

Presiden Trump menunggu jawaban resmi Iran atas proposal perdamaian AS guna menentukan apakah Teheran memilih negosiasi atau perang.
Ketegangan meningkat setelah bentrokan sporadis terjadi di Selat Hormuz, termasuk pelumpuhan dua kapal tanker Iran oleh militer Amerika Serikat.
Di tengah upaya diplomasi, serangan Israel di Lebanon semakin mematikan sementara AS berencana memediasi perundingan kedua negara pada pertengahan Mei.

JAKARTA, investortrust.id – Amerika Serikat (AS) menyatakan masih menunggu respons resmi Iran terhadap proposal perdamaian terbaru untuk mengakhiri perang di Timur Tengah, di tengah meningkatnya kembali bentrokan militer di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia. Presiden Donald Trump mempertanyakan keseriusan Iran: ingin damai dengan memberikan proposal damai atau melanjutkan perang.

Laporan langsung Al Jazeera Live yang dipublikasikan Sabtu (09/05/2026) menyebut Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington berharap menerima jawaban dari Teheran pada Jumat (08/05/2026) waktu AS terkait proposal perdamaian yang diajukan pemerintah Donald Trump.

Rubio mengatakan AS berharap Iran memberikan “penawaran serius” yang dapat membuka jalan menuju negosiasi formal guna mengakhiri konflik. Pernyataan tersebut disampaikan beberapa jam sebelum Presiden Trump juga mengatakan pemerintahannya “diperkirakan menerima surat balasan malam ini” dari Iran terkait proposal damai tersebut.

Baca Juga

AS Menunggu Respons Iran terhadap Proposal Perdamaian

Menurut laporan CNN yang diperbarui Sabtu (09/05/2026) pukul 00.19 EDT atau Sabtu siang WIB, Trump mengatakan AS segera mengetahui apakah Iran sengaja memperlambat proses negosiasi atau benar-benar ingin mencapai kesepakatan damai. Iran ingin mencapai perdamaian atau memilih melanjutkan perang.

Di tengah proses diplomatik yang masih berlangsung, ketegangan militer di Selat Hormuz justru kembali meningkat. Kantor berita Iran, Fars News Agency, melaporkan terjadinya “sporadic clashes” atau bentrokan sporadis antara angkatan laut Iran dan pasukan AS di kawasan Selat Hormuz.

Sebelumnya, militer AS mengonfirmasi telah menembaki dua kapal tanker berbendera Iran yang dituduh mencoba menerobos blokade menuju pelabuhan Iran di Teluk Oman. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyebut kedua kapal tersebut dilumpuhkan menggunakan amunisi presisi.

Iran menuduh tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata, sementara Washington menyatakan operasi tersebut merupakan respons defensif terhadap ancaman terhadap kapal perang AS di kawasan tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam langkah militer AS dan menuduh Washington terus memilih “petualangan militer sembrono” setiap kali solusi diplomatik mulai terbuka.

Pelaut AL AS, David Vilchez yang bertugas di USS Roosevelt (DDG 80), sebuah kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke mengamati lalu lintas kapal di Selat Hormuz sebagai bagian dari Operasi Epic Fury di perairan Selat Hormuz. Foto: US Navy/Mass Communication Specialist 1st Class Indra Beaufort

“Setiap kali solusi diplomatik tersedia di atas meja, AS justru memilih petualangan militer yang sembrono,” ujar Araghchi, sembari mempertanyakan apakah tekanan militer Washington hanya merupakan taktik tekanan kasar terhadap Iran.

Sementara itu, konflik di kawasan Timur Tengah juga meluas ke Lebanon. Al Jazeera melaporkan serangan Israel di Lebanon selatan semakin meningkat pada Jumat (08/05/2026), menyebabkan puluhan korban jiwa dalam salah satu hari paling mematikan sejak invasi dan bombardemen Israel dimulai pada 2 Maret 2026.

Pemerintah AS melalui Departemen Luar Negeri juga mengumumkan akan memediasi perundingan antara Israel dan Lebanon di Washington DC pada 14–15 Mei 2026 untuk meredakan eskalasi konflik lintas kawasan.

Baca Juga

Teheran Buka Pintu Dialog, Trump Klaim Damai Iran Bisa Tercapai Cepat

Laporan senada juga disampaikan Reuters dan CBS News yang menyebut bahwa meskipun pembicaraan damai AS-Iran terus berlangsung melalui mediasi Pakistan, kontak senjata terbatas di sekitar Selat Hormuz masih terus terjadi.

CNN juga melaporkan intelijen AS meyakini Mojtaba Khamenei — putra pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei — masih berperan dalam penyusunan strategi perang Iran meskipun sebelumnya dilaporkan terluka dan tidak lagi muncul di depan publik.

Ketidakpastian geopolitik tersebut terus memicu kekhawatiran pasar energi global karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak mentah dunia. Gangguan di kawasan itu telah menyebabkan volatilitas harga minyak, lonjakan premi risiko energi, serta ancaman terhadap rantai pasok global.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024