Bagikan

Tekanan Internasional Meningkat, Trump Kaji Proposal Damai Iran

Poin Penting

Pemerintahan Donald Trump tengah meninjau rencana damai dari Iran yang mencakup penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz, dengan pembahasan isu nuklir ditunda ke tahap berikutnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Antonio Guterres memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu krisis energi dan pangan global, mengingat jalur ini mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Meski ada gencatan senjata, konflik masih berlanjut melibatkan Hezbollah dan Israel, sementara Iran tetap menolak membuka Selat Hormuz selama blokade AS belum dicabut, membuat proses negosiasi semakin kompleks.

JAKARTA, Investortrust.id — Upaya diplomasi untuk mengakhiri perang Iran–Amerika Serikat kembali memasuki fase krusial setelah Washington mulai meninjau proposal damai dari Teheran, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan risiko krisis global jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali. Tekanan internasional meningkat.

Laporan langsung Al Jazeera yang diterbitkan Selasa (28/04/2026) menyebutkan, tim keamanan nasional Presiden AS Donald Trump tengah meninjau rencana damai Iran yang mencakup penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz, dengan syarat pembahasan program nuklir ditunda ke tahap berikutnya.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Petersburg. Dalam pertemuan tersebut, Araghchi menyatakan Teheran sedang mempertimbangkan permintaan AS untuk melanjutkan kembali negosiasi.

Tekanan internasional terhadap kedua pihak semakin meningkat. Puluhan negara menyerukan pembukaan segera dan tanpa hambatan Selat Hormuz. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan di jalur pelayaran vital tersebut berpotensi memicu krisis pangan dan energi global.

Blokade di Selat Hormuz oleh Iran (garis tipis) dan blokade yang dilakukan oleh militer AS di arah masuk Selat Hormuz dari Samudera Hindia (garis tebal). Foto: @IraninHyderabad

Baca Juga

Menlu Iran ke Moskow, Jalan Damai Semakin Menjauh dari Washington

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dalam kondisi normal mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan berkepanjangan di kawasan ini tidak hanya memicu lonjakan harga energi, tetapi juga berdampak pada distribusi pangan dan rantai pasok global. Sejumlah laporan lain dari Reuters dan BBC pada 27–28 April 2026 juga menyoroti meningkatnya risiko inflasi global akibat terganggunya pasokan energi dari kawasan Teluk.

Meski terdapat gencatan senjata yang diumumkan pada 17 April 2026, situasi di lapangan tetap memanas. Serangan Israel di Lebanon selatan dilaporkan terus berlanjut, dengan korban jiwa mencapai sedikitnya 40 orang sejak gencatan diberlakukan.

Kelompok Hezbollah dan Israel juga masih saling melancarkan serangan, menandakan bahwa konflik regional belum sepenuhnya mereda dan justru memperumit negosiasi antara AS dan Iran.

Ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran. Foto: themedialine.org

Baca Juga

Menlu Iran Tiba di Rusia, Trump Buka Jalur Telepon

Blokade dan Ketidakpercayaan

Di sisi lain, Iran tetap bersikukuh bahwa pembukaan Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan selama blokade AS masih berlangsung. Pernyataan ini sebelumnya disampaikan oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada 21 April 2026.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menegaskan bahwa blokade, ancaman militer, dan pelanggaran komitmen oleh AS menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi. Sementara itu, Washington tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran sebagai bagian dari tekanan strategis, meski secara formal gencatan senjata masih berlaku.

Presiden Terpilih Iran Masoud Pezeshkian di selatan Teheran, Iran, Sabtu (6/7/2024). Foto: WANA/Majid Asgaripour

Dengan proposal damai yang masih ditinjau, tekanan internasional yang meningkat, serta konflik di lapangan yang belum mereda, arah perang Iran–AS kini berada di titik penentuan. Selat Hormuz bukan lagi sekadar jalur perdagangan energi, melainkan telah menjadi simbol perebutan kendali geopolitik global di mana setiap keputusan yang diambil tidak hanya menentukan nasib kawasan Timur Tengah, tetapi juga stabilitas ekonomi dunia.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024